Membentuk Tubuh sekaligus Lindungi Diri dari Godaan Pria Nakal

Minggu, 19 Mei 2013 – 02:49 WIB
AKSI kriminalitas yang banyak terjadi di kawasan perkotaan, mau tak mau membuat sebagian kaum urban membekali dirinya dengan ilmu bela diri. Tak hanya kaum laki-laki, perempuan pun wajib menguasai ilmu ini untuk melindungi diri.

Kendati termasuk seni bela diri keras, namun tak membuat sebagian kaum hawa takut menguasai Muay Thai. Salah satunya adalah Ratih Komala. Perempuan kelahiran Banjarmasin, 3 Oktober 1985, ini berkenalan dengan bela diri asal Thailand tersebut sejak pertengahan 2006 di Jakarta.

Saat itu, Ratih yang masih berstatus mahasiswi semester 4 di London School of Public Relation ingin mempelajari ilmu bela diri untuk melindungi dirinya dari tindakan kriminalitas di jalanan. Pertama dia mencoba mengikuti olahraga Kempo, Karate, lalu Martial Art.

“Tapi saya hanya bertahan sebulan saja. Saya merasa kurang nyaman dengan ketiga jenis bela diri ini. Akhirnya saya memutuskan mengikuti Muay Thai. Saya mengenalnya kali pertama dari tayangan di televisi,” ujarnya kepada Kaltim Post (grup JPNN).

Ratih yang dikenal tomboy sejak kecil langsung jatuh cinta begitu melihat para petarung Muay Thai berlatih. Dikatakan dia, tujuan lain ia mempelajari Muay Thai pada saat itu adalah ingin membentuk tubuhnya agar lebih proporsional.

“Pertama latihan saya langsung muntah-muntah, rupanya tubuh saya belum bisa beradaptasi dan kelelahan. Rahang saya pun seperti bergeser karena tak sengaja terkena pukulan dari pelatih. Rasanya sakit, tapi saya malah ketagihan,” kenangnya.

Perempuan yang besar di Balikpapan ini menceritakan, hobi barunya ini sempat ditentang teman dan keluarganya. Nada protes terlontar dari almarhum ayahnya, Suriansyah. Ratih mengatakan, sang ayah memang memahami bahwa putri bungsunya terlahir dengan sifat kelaki-lakian, namun rasa khawatir membuatnya melarang Ratih berlatih Muay Thai.

“Saat berkunjung ke Jakarta, ayah saya kaget dengan perubahan bentuk tubuh saya. Saya bilang ini manfaat dari Muay Thai, setelah panjang lebar saya jelaskan akhirnya beliau mendukung pilihan saya,” kata Ratih.

Kembali ke Benua Etam, Ratih tak lagi berlatih Muay Thai. Selain karena kesibukannya bekerja di salah satu perusahaan, dia tak menemukan tempat sasana berlatih olahraga asal Negeri Gajah Putih ini. Selain membentuk tubuhnya, manfaat lain yang dirasakannya dari olahraga ini adalah peningkatan rasa percaya diri.

Dia menceritakan, ketika masih di Jakarta, Ratih selalu digadang oleh teman-temannya untuk menjadi pelindung. “Ketika ada masalah atau saat teman saya digoda pemuda nakal, saya yang maju untuk mengatasinya,” ucapnya sambil tersenyum.

Lalu dia menceritakan, dengan aktif berlatih Muay Thai membuat tubuhnya lebih bugar. “Saya punya penyakit jantung, detak jantung saya lebih cepat dari kebanyakan orang dan saya juga menderita migrain. Namun karena aktif latihan, rasa sakit itu jarang saya alami,” katanya.

Untuk berlatih, dia tak perlu menyiapkan banyak perlengkapan. Ratih menyebut, dia hanya memerlukan gloves (sarung tinju) serta handswrap (pembalut tangan). Proses latihannya pun sederhana, diawali dengan pemanasan selama 10 menit, kemudian berlari beberapa menit.

Selanjutnya Ratih harus melakukan lompat tali selama 20 menit, memukul dan menendang samsak selama 30 menit, kemudian berlatih seluruh gerakan Muay Thai dengan sang pelatih. (*/roe/tom)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Seks Tak Selamanya Harus Orgasme

Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler