Menanamkan Nilai-nilai Empat Pilar di Masyarakat Kuansing

Kamis, 08 November 2018 – 15:34 WIB
Anggota MPR Idris Laena membuka Pagelaran Seni Budaya Melayu Kuantan Singingi (Kuansing), Selasa malam (6/11/2018). Foto: Humas MPR

jpnn.com, KUANTAN SINGINGI - Taluk Kuantan ibukota Kuantan Singingi,
Ada dendang, ada Rarak Celempong dan Randai,
Datang ke Kenegerian Kari ini
Sangatlah berkesan bagi kita hadir di sini.

Itulah bait-bait pantun yang dikarang secara spontan oleh anggota MPR Fraksi Partai Golkar asal Riau, Ir. Idris Laena, ketika hadir dan membuka Pagelaran Seni Budaya Melayu Kuantan Singingi (Kuansing) di Desa Pintu Gobang, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) Provinsi Riau, Selasa malam (6/11/2018).

Desa Pintu Gobang adalah sebuah desa yang letaknya sekitar 170 km dari Kota Pekan Baru, atau dengan jarak tempuh kurang lebih empat jam menggunakan kenderaan roda empat.

BACA JUGA: Sosialisasikan Empat Pilar MPR Lewat Petruk Dadi Ratu

Kehadiran Idris Laena yang juga Ketua Badan Penganggaran MPR di Bumi Kuansing itu adalah dalam rangka sosialisasi Empat Pilar MPR dengan metode Pagelaran Seni Budaya Nusantara. Atas dukungan Idris Laena, pagelaran seni budaya di salah satu dari enam desa yang tergabung dalam wilayah Masyarakat Adat Kenegerian Kari itu menampilkan seni budaya tradisional Kuansing, yakni Dendang, Rarak Godang, dan Randai (gerak dan lagu berirama etnik Kuansing).

Kepala Biro Administrasi dan Pengawasan Setjen MPR, Suryani, SH., selaku ketua panitia pelaksana pagelaran seni budaya di Kuansing ini mengungkapkan rasa bangganya melihat seni budaya dan adat istiadat masyarakat Melayu Kuansing begitu luar biasa, dan partisipasi masyarakat yang membuat pertunjukan begitu meriah. Menurut Suryani, ini membuktikan bahwa upaya MPR untuk mengangkat dan melestarikan kebudayaan tradisional daerah sudah menemui sasarannya.

BACA JUGA: MPR: Dua Ideologi Transnasional Menghancurkan Generasi Muda

Lebih lanjut Suryani menjelaskan, MPR melaksanakan sosialisasi Empat Pilar sudah dimulai sejak tahun 2005, diawali sosialisasi Putusan MPR hasil amandemen, yaitu: UUD NRI Tahun 1945 dan Ketetapan MPR. Namun, setelah kegiatan sosialisasi ini berkembang menjadi Sosialisasi Empat Pilar, maka kegiatan sosialisasi dilaksanakan dengan berbagai metode. Antara lain seminar, outbound, lomba cerdas cermat (LCC) Empat Pilar, dan masih banyak metode lainnya.

Sosialisasi yang dilakukan di Kuansing ini adalah sebuah kegiatan sosialisasi yang dikemas dalam bentuk Pagelaran Seni Budaya. MPR telah melakukan kegiatan ini di berbagai daerah di Indonesia dengan menampilkan seni budaya tradisional daerah masing-masing.

BACA JUGA: Basarah: Persatuan Nasional Kunci Keselamatan Bangsa

“Jadi, pagelaran seni budaya ini selain tujuannya untuk sosialisasi Empat Pilar MPR juga untuk mengangkat seni budaya serta adat istiadat masyarakat setempat,” ujar Suryani, perempuan asal Nganjuk, Jawa Tmur, ini.

Idris Laena juga mengungkapkan hal yang sama. Dalam sambutannya, Ketua Badan Penganggaran MPR ini memaparkan bahwa kegiatan yang dikemas dalam bentuk Pagelaran Seni Budaya ini merupakan salah satu metode sosialisasi Empat Pilar.

“Kita bersyukur Taluk Kuantan, khususnya Kenegerian Kari, memiliki kesenian yang sangat membanggakan,” ungkap Idris, politisi Golkar kelahiran Indragiri Hilir, Riau, ini. Seni budaya yang dimaksud adalah Dendang, Randai, Rarak Godang atau Rarak Celempong.

Apapun metodenya, lanjut Idris Laena, sosialisasi Empat Pilar MPR menjadi sangat penting. “Sosialisasi Empat Pilar MPR adalah sebuah keinginan untuk memberi kesempatan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk dapat memahami nilai-nilia kebangsaan yang kita miliki,” jelas Idris Laena.

Ada empat nilai kebangsaan yang perlu dipahami oleh rakyat Indonesia. Pertama, sebagai bangsa, Indonesia memiliki ideologi, falsafah, dan dasar negara yang disebut Pancasila.

Kedua, UUD NRI Tahun 1945 sebetulnya mengatur hak dan kewajiban setiap warga negara, dan oleh karenanya wajib hukumnya bagi seluruh rakyat Indonesia untuk memahaminya.

Ketiga, kita adalah negara besar, berada pada urutan ke-empat dari 180 negara di dunia dari segi jumlah penduduk, setelah RRT, India, dan Amerika Serikat. Jadi, menurut Idris Laena, secara demografis kita bisa membayangkan bagaimana negara yang penduduknya 255 juta ini harus kita jaga.

Jadi, lanjut Idris Laena, adalah penting pemahaman masyarakat tentang nilai-nilai kebangsaan yang kita miliki itu. “Kita tidak ingin negara kita menjadi negara gagal, negara yang terpecah-pecah. Karenanya, bagi kita NKRI adalah harga mati,” ujar Idris Laena.

Dan, nilai keempat, adalah Bhinneka Tunggal Ika. Indonesia selalu memberi gambaran kepada kita bahwa kita punya suku yang berbeda, agama berbeda, tapi karena kita punya Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara maka negara kira selalu menjadi negara yang aman, tenteram dalam konsep Bhinneka Tunggal Ika. “Maknanya, biarpun kita berbeda-beda, tapi kita tetap satu,” katanya.

Selanjunya, Idris Laena juga menyinggung soal pemilu yang sebentar lagi akan berlangsung di Indonesia. Sebetulnya, menurut Idris Laena, pemilu adalah proses demokrasi yang diatur di dalam Pancasila. Sila ke-empat berbunyi: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Itu artinya, negara kita adalah negara demokrasi, makanya harus kita jaga.

Untuk itu, Idris Laena berharap, biarpun berbeda pilihan, berbeda pandangan, berbeda suku, dan lainnya maka perbedaan itu tidak boleh membuat kita saling terpecah belah satu dengan lainnya.

“Kita bersyukur, Indonesia adalah satu dari tidak banyak negara di dunia, meskipun begitu banyak suku dan bahasa, tapi kita tetap bisa bersatu dalam benteng Negara Kesatuan Republik Indonesia,” katanya.

Sosialisasi Empat Pilar MPR di Bumi Kuansing, selain dihadiri oleh Idris Laena juga dihadiri oleh Kepala Bagian Pemberitaan, Hubungan Antarlembaga, dan Layanan Informasi Biro Humas MPR, Muhamad Jaya; Ketua Masyarakat Adat Kenegerian Kari, Yulizar; Kepala Desa Pintu Gobang, M. Seni, bersama para kepala desa lainnya yang tergabung dalam Kenegerian Kari, para pemuka agama, para datuk, para pemuda, dan tamu undangan lainnya.

Salah satu pemandangan yang menarik dalam pagelaran seni budaya di Kenegerian Kari malam itu adalah tampilnya para tokoh masyarakat dan kaum ibu, termasuk Idris Laena dan Suryani, dalam satu lingkaran. Lagu Lamak dek awak, kelayu dek urang didendangkan oleh biduan diiring grup Dendang Kamari Jadi, dan para tokoh itu pun sontak bergerak maju dalam lingkaran sembari bergoyang dalam tarian Randai. Suasana pun menjadi hangat, meski malam itu udara mendung diselingi gerimis kecil. Dan, semua bergembira. (adv/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Eksekusi Tuti, Arab Saudi Dinilai Tak Mematuhi Konvensi Wina


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler