Mendikbud Beber 5 Strategi Besar Tingkatkan Hasil PISA, Guru Wajib Tahu

Jumat, 03 April 2020 – 14:46 WIB
Mendikbud Nadiem Makarim. Foto: M Fathra Nazrul Islam/JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengungkapkan, ada lima strategi besar untuk para guru dalam upaya meningkatkan hasil PISA (Programme for International Student Assessment).

PISA adalah assesment global sistem pendidikan di berbagai negara, di mana yang dites anak 15 tahun.

BACA JUGA: Sebentar Lagi Dana Sertifikasi Guru Cair, Nasib PPPK Getir

"Ranking kita di PISA masih banyak terutama di area literasi mengalami penurunan karena itu kami butuh strategi yang komprehensif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sehingga 2024 atau 2025 akan terlihat peningkatan," kata Mendikbud Nadiem di Jakarta, Jumat (3/4).

Dia menyebutkan, ada lima strategi besar untuk meningkatkan hasil PISA dan intinya ada di guru.

BACA JUGA: Kabar Gembira untuk Honorer K2 terkait Revisi UU ASN, PPPK Dapat Jaminan Pensiun

Pertama, mengubah standar penilaian sendiri dari UN jadi assesment kompentensi minimum yang terinspirasi PISA. Soal-soalnya pun melekat dengan PISA.

Karena PISA hanya untuk usia 15 tahun maka Kemendikbud akan menurunkan ke SD, SMP SMA jadi ada setiap jenjang mengikuti standar inti, yaitu PISA dalam pemetaan pendidikan. Sebab, UN standarnya lokal, tetapi assesment pendidikan kita internasional.

BACA JUGA: Instruksi Terbaru dari Jenderal Idham Azis

"Tentu yang dites bukan hanya kognitif saja tetapi juga karakter dan pernyataan hal-hal lain yang berhubungan dengan norma, kesehatan mental, kesehatan moral dan kesehatan anak-anak di masing-masing sekolah. Kami mengubah standar penilaian global yaitu PISA," terang Nadiem.

Kedua, transformasi kepemimpinan sekolah untuk memastikan guru-guru penggerak terbaik di berbagai daerah yang menjadi kepala sekolah.

Mereka diberikan fleksibilitas dan otonomi dalam penggunaan anggaran dan penggunaan teknologi untuk meminimalisir beban administrasi mereka sehingga bisa fokus kepada mentoring tenaga pendidik di dalam sekolah mereka.

Ketiga, meningkatkan kualitas pendidikan profesi guru (PPG) agar kita mencetak guru berkualitas baik yang memiliki misi searah. Yaitu untuk siswa yang terbaik.

"Kami akan membuka program profesi guru lokal dan inti dan akan menciptakan alumni-alumni yang lebih baik lagi karena ada banyak guru-guru PNS yang pensiun setiap tahunnya jadi pabrik guru. Kita harus diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya," ujarnya

Nadiem menegaskan, pelatihan-pelatihan guru sekarang sifatnya jangan hanya teoritis tetapi praktik. Dan ada pelatihan-pelatihan dengan sekolah-sekolah yang kualitasnya lebih baik. Jadi bukan hanya seminar tetapi dengan interaksi antara guru dan guru.

Keempat, melakukan transformasi pengajaran yang sesuai tingkat kemampuan siswa. Sekarang banyak silabus dan kebijakan mengajar sangat ketat.

Banyak guru yang tidak bisa mengajar dengan tingkat kemampuan siswa, jadi kurikulum harus lebih fleksibel dan sederhana.

"Orientasi kompetensi dan dibantu juga dengan platform-platform online yang membantu segmenetasi pembelajaran. Jadi semua murid tidak harus mengerjakan tugas yang sama. Misalnya murid dengan kemampuan yang berbeda mengerjakan project yang berbeda," terangnya.

Kelima, filsafat bahwa semua transformasi atau perubahan hanya di kementerian, akan berubah. Kemitraan dengan daerah dan berbagai organisasi penggerak akan ditingkatkan.

"Kami percaya partisispasi masyarakat, organisasi, perusahaan-perusahaan yang punya passion di pendidikan, efek teknologi start up di pendidikan semua dirangkul untuk menyasar pendidikan pembelajaran siswa. (esy/jpnn)


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler