Menggiurkan..Modal Rp 300 Ribu, Raup Untung Jutaan Per Bulan

Minggu, 24 Mei 2015 – 04:50 WIB

jpnn.com - BISNIS di dunia maya bukan hal yang aneh. Namun untuk memulainya, kadang bikin takut. Tapi, tidak bagi Alia Permanasari. Melalui dunia maya pula, usaha bisnis jilbab yang ditekuninya kini kian moncer. Dia membuktikan, bertindak dan berani mengambil risiko, adalah modal lain yang wajib dimiliki pengusaha.

***

BACA JUGA: Pembangunan Hunian Vertikal "Bergeser"

Semua berawal dari coba-coba. Tapi dari usaha coba-coba itulah, kini Alia mendulang uang jutaan rupiah tiap tahun. Dulu, modal yang dikeluarkan Alia sangatlah sedikit. Hanya Rp 300 ribu. Namun, kini ia mampu meraup untung jutaan rupiah per bulannya.

Promosi yang tak kenal lelah menjadi kunci di balik usaha Alia. Dia benar-benar memaksimalkan dunia online. Itu sebabnya, nyaris tiada yang dia lewatkan. Mulai dari facebook, twitter, blackberry masanger, dan juga jualan dalam group online. “Ternyata prospeknya bagus, banyak yang pesan,” ujarnya seperti dikutip dari Lombok Post (Grup JPNN), Sabtu (23/5).

BACA JUGA: Kemenhub Batasi Bandara Berstatus Internasional, Ini Alasannya

Wanita lulusan arsitektur Universitas Islam Indonesia ini, semakin kuat memantapkan niatnya ke dunia bisnis. Setelah bertemu dengan beberapa teman kuliahnya dahulu. Yang juga sama-sama berbisnis jualan hijab. Saling bertukar pengalaman dan masukan. “Jadinya sama-sama kulakan jilbab sama dia,” imbuhnya.

Dia memulai usaha tiga tahun lalu. Seperti pengusaha pemula lainnya, semuanya memang tidak mudah. Jalan tak melulu lempeng. Namun berkat kesabaran dan keuletan, hasil baik akhirnya datang menghampiri.

BACA JUGA: Berani Jamin Beras Bulog Tak Mengandung Bahan Sintetis

Awal tahun pertama, kata Alia, dia mencoba peluang jualan di arena Car Free Day (CFD) Udayana. Walau posisi lapak jauh dari pusat CFD, ternyata rejeki justru tak kemana. Hingga akhirnya, posisi lapak disekitarnya turut ramai dipadati pedagang lainnya. “Kan mereka yang datang dari arah utara sudah mampir duluan di lapak saya,” katanya.

Ikut promosi dalam acara-acara tertentu pun dilakoninya. Walau sekadar ikut-ikutan juga tadinya. Karena niat awal bukan mencari keuntungan. Tetapi sebagai ajang memperkenalkan produk dagangan. Lambat laun usahanya mulai banyak diketahui pelanggan. Bahkan pelanggan sering pula menanyakan lokasi rumahnya ketika barang-barang baru telah datang.

“Tadinya ruang tamu saya gunakan sebagai toko. Tapi karena ingin lebih optimal setahun kemudian mulai cari toko agar lebih mudah,” jelasnya.

Maka berdirilah toko yang berada di Jalan Pemuda, Gomong, Mataram, yang diberi nama Aldies Moslem. Toko itu kini ramai dikunjungu pelanggannya. Tidak jarang pelanggan membawa serta pelanggan baru. Tidak hanya model-model baru yang disediakan. Harga yang ditawarkan pun sangatlah terjangkau. “Tidak ambil untung banyak. Yang penting cepat muter barang dan uangnya,” kata wanita hobi jalan-jalan ini.

Selama menjalankan usaha, Alia dalam menghadapi pelanggan tidaklah sebagai customer belaka. Dia menganggap pelanggan selayaknya teman dekatnya. Apa yang diinginkan pelanggan, model seperti apa yang dicari. Alia berusaha untuk mewujudkannya.

Ini membuatnya tidak lagi mengandalkan produk dari pemasoknya di Jakarta. Dia mulai belajar untuk produksi sendiri. Pengalaman memasarkan produk orang, membuatnya memahami berbagai jenis kain. Begitu pula dengan modelnya. “Belajar membuat barang produk kita beda dengan yang lain,” jelasnya.

Menurutnya, membuat produk yang lain daripada yang lain menjadi keunggulannya. Tidak hanya produk, penampilan booth, display barang haruslah ada sesuatu yang mampu menarik perhatian orang lain. “Terus berinovasi dan kreatif. Usahakan orang yang lewat depan kita, minimal menoleh ke booth,” pungkasnya.

Ciri Khas Produk

USAHA online terus berkembang kian harinya. Ini menunjukkan bisnis online memang menggiurkan. Namun, pesaing tentu banyak. Itu sebabnya, produk wajib memiliki ciri khas.

Itulah yang diterapkan Alia Permanasari. “Bila biasanya pinggiran jilbab itu dibordir. Saya justru lebih memilih menjait,” katanya soal pembeda produk miliknya dengan produk lain.

Selain menciptakan ciri khas, dia memanfaatkan pula jaringan pertemanan. Itu terbukti ampuh memasarkan hasil produknya selama ini. Orang yang berniat berwirausaha, kata Alia, tidaklah takut gagal.

Kebanyakan orang selalu memikirkan jeleknya lebih dulu. Sehingga tidak berani bergerak. Diperlukanlah niat yang kuat, keyakinan untuk sukses dan jalani. “Keyakinan ini yang perlu dikuatkan lebih dulu,” imbuhnya.

Begitu pula dengan menjaga hubungan yang baik dengan pemasok barang. Hubungan yang baik akan memudahkan usaha. Serta yang terpenting selalu menjaga kejujuran dalam berdagang. “Kalau memang produk itu kurang pas untuk pelanggan, ya saya bilang kurang pas,” tegasnya.

Terjun Langsung Sebagai Penjahit

BERWIRAUSAHA di bidang pakaian tidak selamanya membuat Alia Permanasari duduk di belakang meja. Ia ogah hanya berpangku tangan, semata menerima hasil dari pemasok.

Alia turun langsung. Setelah mampu memberikan ciri khas dari produk bikinannya sendiri, Alia pun mencobanya untuk menjahitnya sendiri.

Semua itu juga bermula dari pengalaman pahit yang dialaminya. Ketika mencari penjahit yang memberikan ongkos murah, Alia justru dibohongin penghabisan kain yang cukup banyak. “Berawal dari sana juga saya bertekad belajar menjahit,” katanya.

Hingga saat ini, kata dia, masih ada penjahit yang membantunya. Itu untuk model awal hasil rancangannya. Setelah dipahami, kemudian dia pun belajar menjahitnya sendiri. “Sekarang saya paham berapa penghabisan kain, dan tidak dibohongin lagi,” tungkasnya. (cr-ewi/r12)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kredit Perbankan untuk Sektor Pelayaran Masih Minim


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler