Mengharukan! Sebelum Gugur, Pelda Rama Mahyudi Sempat Lepas Rindu dengan Istri dan 3 Anaknya

Sabtu, 04 Juli 2020 – 05:10 WIB
Suasana upacara militer pengantaran jenazah Pelda Anumerta Rama Wahyudi dengan Inspektur Upacara Komandan PMPP TNI Mayjen TNI Victor H Simatupang di Skadron 17 Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (3/7). Foto: Puspen TNI

jpnn.com, PEKANBARU - Sebelum menghembuskan napas terakhir akibat serangan milisi pada Senin malam (22/6) di bagian timur Republik Demokratik Kongo, Serma Rama sempat melepas rindu dengan istri dan ketiga buah hatinya melalui video call.

"Terakhir kontak kakak saya dengan almarhum itu hari Minggu jam 9 malam. Mereka melakukan video call. Kemudian almarhum mengatakan nanti akan menghubungi kembali karena harus mengambil air karena saat ini krisis air di Kongo," kata adik ipar almarhum Arfan Nur Fahri di Kampar, Rabu.

Namun, video call itu ternyata merupakan komunikasi korban untuk yang terakhir kalinya.

Arfan mengatakan Serma Rama merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Menjadi prajurit TNI adalah cita-cita besarnya yang berhasil ia wujudkan.

Rama mulai mendapatkan tugas di Kongo beberapa bulan sebelum Idulfitri. Itu merupakan tugas pertama dia ke luar negeri.

Selain menghubungi istrinya, Arfan juga mengatakan Serma Rama sempat menghubungi dirinya.

BACA JUGA: Setelah Tembakan Salvo, Isak Tangis Air Mata Mengiringi Pemakaman Pelda Anumerta Rama Wahyudi

"Dia mengatakan bulan Agustus mendatang dapat cuti sebulan dan akan pulang. Tetapi Allah berkehendak lain," ujarnya.

Lebih jauh, Arfan mengisahkan keluarganya menerima kematian Serma Rama langsung dari Komandan Denpal Pekanbaru.

Saat itu, pada Selasa pagi (22/6), keluarganya langsung didatangi Komandan Denpal dan mengabari berita duka tersebut.

Hingga kini, Arfan mengatakan keluarganya sudah ikhlas melepas kepergian Serma Arma.

BACA JUGA: Doa AHY Untuk Serma Rama Wahyudi dan Pratu Syafii Makbul


Santunan internasional

Rama Wahyudi kemungkinan besar juga akan mendapatkan santunan dari PBB sebesar 75 ribu Dollar AS karena gugur saat bertugas di lembaga internasional tersebut.

Komandan Pusat Misi Pemelihara Perdamaian (PMPP) TNI Mayjen TNI Victor Hasudungan Simatupang mengatakan hal itu saat jumpa pers, di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat.

Namun demikian, saat ini proses investigasi masih dilaksanakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), guna mencari tahu pihak yang bersalah atas insiden ini.

"Apabila bukan salah yang bersangkutan (Serma Rama), maka akan mendapatkan (santunan) USD 75 ribu seperti yang pernah diterima rekan-rekan kontingen beberapa negara," kata Victor.

Proses investigasi masih terus berjalan. Hasilnya kemudian akan dinaikkan ke tahap "board of inquiry" dan akan diputuskan pihak yang bersalah dalam insiden tersebut.

Sementara itu, Kapuspen TNI Mayjen TNI Sisriadi mengatakan, negara juga akan memberikan santunan kepada ahli waris seperti diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 39 Tahun 2010 tentang Administrasi Prajurit TNI.

Dalam Pasal 74 huruf b disebutkan ahli waris akan mendapat 12 bulan gaji dari prajurit yang gugur dan tewas dalam melaksanakan tugas.

"Ada di PP 39 2010 tentang administrasi prajurit, termasuk ada yang baru bisa ditanya ke Kemhan kaitannya ASABRI," kata Sisriadi.

Sebelum diberitakan, ppemakaman Pembantu Letnan Dua Anumerta Rama Wahyudi yang gugur di Kongo dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Dharma, Kota Pekanbaru, Riau, Jumat (3/7) siang, dengan ditandai tembakan salvo.(Ant/fri/jpnn)

Jangan Lewatkan Video Terbaru:

BACA JUGA: Perwakilan Alumni Akabri 1995 Sambangi Panglima TNI, Ada Apa?


Redaktur & Reporter : Friederich

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler