Mengklaim sebagai Pemenang Wajar, Merasa Sudah jadi Presiden Itu Lucu

Minggu, 21 April 2019 – 00:16 WIB
Masinton Pasaribu. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Masinton Pasaribu merasa heran dengan sikap capres nomor urut 02 Prabowo Subianto yang sudah mendeklarasikan diri sebagai presiden Indonesia hasil Pilpres 2019. Menurut politikus PDI Perjuangan tersebut, aksi Prabowo itu hanya lucu-lucuan.

Menurutnya, mengklaim kemenangan memang wajar dilakukan. Namun, yang tidak boleh itu mengklaim sudah menjadi pilihan rakyat dan akan menjadi presiden selanjutnya.

BACA JUGA: Anak Buah Prabowo Akui Akurasi Quick Count

“Siapapun boleh (klaim kemenangan), tapi kalau menyatakan kamilah yang lebih pilihannya rakyat, kamilah yang akan dan sudah menjadi pilihan rakyat dan menjadi residen selanjutnya, ini kan jadi lucu-lucuan,” ujar Masinton di diskusi bertajuk ‘Pemilu Serentak Yang Menghentak’ di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (20/4).

Masinton meminta agar para kandidat tidak terlalu reaksioner terhadap hasil hitung cepat atau quick count. Apalagi menyebut hasilnya tidak valid hanya karena hasil yang dimunculkan tidak sesuai dengan keinginannya.

BACA JUGA: Ini Sosok Utusan Jokowi yang Menemui Prabowo Subianto

BACA JUGA: Guru Besar Statistika: Jangan Heran jika Hasil Quick Count Sama dengan Penghitungan KPU

“Para kandidat jangan reaksioner terhadap hasil quick count. Santai saja,” imbuhnya.

BACA JUGA: Bang Sandi Diperiksa Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Ternyata…

Quick count dikatakan Masinton hanya metode ilmiah untuk menyampaikan informasi ke rakyat. Sehingga harus tetap dihormati. Namun, hasil akhir pemilu sendiri bukan berdasarkan quick count, melainkan tergantung hasil hitung resmi KPU melalui tahapan berjenjang.

“Kita hormati metode ilmiah yang harus kita hormati bersama, tidak perlu kita tanggap, reaktif,” jelasnya.

Di tempat sama, Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Pipin Sopyan mengatakan aksi deklarasi yang dilakukan Prabowo bukan tanpa alasan. Mantan Danjen Kopassus itu disebut memiliki tim khusus yang sudah melakukan penghitungan sendiri.

“Jadi tentu dasarnya Prabowo memiliki tim khusus untuk menghitung dari berbagai daerah. Dan dilihat memang ada perbedaan dengan data quick count,” kata Pipin.

Pipin juga mempersoalkan metode quick count. Pasalnya hanya menggunakan sample sekitar 2.000 TPS. Padahal jumlah TPS seluruh Indonesia lebih dari 800 ribu.

BACA JUGA: Quick Count LSI Denny JA 100 Persen, Jokowi - Ma'ruf Unggul Jauh Banget

“Ini ironis, seolah semua selesai dengan quick count,” tambah Juru Bicara BPN Prabowo-Sandi itu.

Sementara itu, Founder Lembaga Survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik (KedaiKOPI), Hendri B Satrio memastikan data quick count merupakan data riil sesuai dengan hasil di TPS yang telah dipilih sebagi sample. Terlepas ada kecurangan, hal itu bukan terletak di dalam proses hitung cepat itu.

“Data quick count nggak pernah bohong, data quick count apa adanya,” pungkas Hendri. (Sabik Aji Taufan/JPC)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Menurut Monica, Bang Sandi Mengalami Tekanan Berat, Duuuh


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler