Menilik Sejarah Hotel Pertama di Indonesia yang Dibangun dengan Standar Internasional

Selasa, 12 Mei 2015 – 05:19 WIB

jpnn.com - HOTEL Indonesia menjadi salah satu hotel kebanggan masyarakat Indonesia. Ya, Hotel yang diresmikan oleh Presiden pertama Indonesia Soekarno pada 5 Agustus 1962 itu telah menjadi landmark bersejarah yang seolah ikut menyambut semua orang yang datang ke Jakarta. Pasalnya, hotel bintang lima itu terletak di jantung ibu kota dan di depannya berdiri patung Selamat Datang karya Henk Ngantung dan Edhi Sunarso. 

“Dalam pidato pelantikannya, Presiden Soekarno menyatakan bahwa Hotel Indonesia membuka pintunya secara luas untuk pariwisata dan pintu itu menunjukkan wajah Indonesia. Jelas bahwa sejak awal, Hotel Indonesia diposisikan untuk mempromosikan pariwisata Indonesia,” kata Director of Public Relation Hotel Indonesia Kempinski Rebecca Leppard.

BACA JUGA: Pemprov DKI Dinilai Langgar HAM

Nah, Soekarno sebagai sang penggagas tak ingin pembangunan Hotel Indonesia berjalan setengah-setengah. Bahkan dia menugaskan arsitek asal Amerika Serikat Abel Sorensen dan istrinya Wendy untuk merancang sebuah hotel dengan luas bangunan 25.085 meter persegi. “Tujuan menunjuk Sorensen agar hotel tersebut menampilkan Indonesia yang modern,” kata Rebecca. 

Sorensen berhasil menciptakan Hotel Indonesia sebagai hotel modern dan hotel efisien. Hotel tersebut menunjukkan unsur-unsur arsitektur lokal (Sumatera Barat) yang dicampur dalam nuansa modern arsitektur Indonesia. Lantai 15 Ramayana Wing dan lantai 8 Ganesha Wing adalah bagian pertama dari hotel yang dibangun.

BACA JUGA: Empat Pahlawan Reformasi Dijadikan Nama Jalan

“Hotel ini (Hotel Indonesia) adalah hotel pertama di Indonesia yang dibangun dengan standar internasional,” imbuhnya.

Acara penting yang menggunakan Hotel Indonesia adalah Asian Games ke IV yang berlangsung pada tahun 1962. 

BACA JUGA: Manjakan Penggemar Cosplay dengan Festival Ennichisai

Selain itu berdasarkan catatan sejarah, pada tahun-tahun awal hotel didirikan, Presiden Soekarno pernah menggelar makan malam untuk menjamu Pangeran Norodom Sihanouk dari Kamboja yang mengunjungi Indonesia di akhir tahun 1962.

Selain itu, pada Februari 1964 Soekarno juga menggelar makan malam bersama Presiden Filipina Diosdado Macapagal. Kini tak terhitung kepala negara dan pejabat internasional yang pernah tinggal dan menikmati makan malam kenegaraan di Hotel Indonesia.

Selama masa jayanya, Hotel Indonesia menjadi pusat berbagai kegiatan budaya. Mulai dari acara musikal

dan pertunjukan teater secara rutin dipentaskan di hotel. Acara kebudayaan yang rutin digelar telah melambungkan beberapa seniman ternama Indonesia. Di antaranya, Teguh Karya yang dulu merupakan manajer panggung Hotel Indonesia, Slamet Rahardjo dan Rima Melati. 

Catatan lain yang menarik adalah bahwa Hotel Indonesia, menjadi titik acuan untuk gaya hidup perkotaan. Orang kaya yang sukses dan pejabat pemerintah, sering mengatur pertemuan di hotel. 

Nah, dengan warisan sejarah seperti itu, Hotel Indonesia akhirnya dinobatkan sebagai situs warisan budaya

dengan Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 475 tanggal 29 Maret 1993. Keputusan itu memerintahkan agar bangunan dan seluruh aset sejarah harus dijaga dan dipelihara dengan baik.

Setelah perbaikan total dimulai pada tahun 2004, Hotel Indonesia dikelola oleh Kempinski Hotel SA. Kempinski adalah kelompok hotel mewah tertua di Eropa. Dengan portofolio properti yang unik, Kempinski telah berhasil membuktikan kemampuannya untuk mengelola Hotel Indonesia. (mas/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Memaknai Hari Bumi dengan Aksi Penanaman Pohon


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler