Menlu Retno Tekankan Pentingnya Kepemimpinan Aktor Kemanusiaan di Asia-Pasifik

Rabu, 06 Oktober 2021 – 23:56 WIB
Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi. Foto: arsip JPNN.com/Ricardo

jpnn.com, JAKARTA - Indonesia mendorong peningkatan kapasitas orang-orang yang berperan pada kemanusiaan (aktor kemanusiaan) di kawasan Asia Pasifik, melalui penyelenggaraan Konferensi Regional tentang Bantuan Kemanusiaan (RCHA) yang berlangsung secara virtual pada Rabu.

Peningkatan kapasitas serta pembangunan jejaring aktor kemanusiaan baik di tingkat regional, nasional, maupun lokal dinilai penting untuk menghadapi tantangan kemanusiaan yang semakin diperparah dengan pandemi COVID-19.

BACA JUGA: Menlu Retno Percaya Amerika Berusaha Memvaksin Dunia

“Upaya bersama kita harus bertujuan untuk memperkuat kepemimpinan aktor nasional dan lokal. Inisiatif di tingkat regional harus mendukung kepemimpinan nasional dan lokal dalam aksi kemanusiaan,” kata Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi ketika membuka konferensi tersebut secara virtual.

Mengingat rawannya kawasan Asia Pasifik terhadap berbagai bencana, ditambah dengan pandemi, Menlu Retno menegaskan bahwa upaya kemanusiaan tidak bisa lagi dilaksanakan melalui cara-cara tradisional (business as usual), tetapi membutuhkan kemitraan yang kuat di antara para aktor regional serta nasional dan lokal.

BACA JUGA: Dunia Kekurangan Vaksin, Menlu Retno Tegaskan Indonesia Siap Jadi Solusi

Kemitraan yang relevan, setara, dan harmonis itu hanya akan mungkin terjadi dengan jaringan aktor kemanusiaan yang kuat. Upaya tersebut harus muncul dari aktor kemanusiaan nasional dan lokal di Asia Pasifik sendiri.

“Kerja sama antara aktor regional, nasional, dan lokal harus saling mendukung untuk mengatasi keadaan darurat yang sedang berlangsung dan bersiap menghadapi tantangan di masa depan,” tutur Menlu RI.

BACA JUGA: Menlu Retno Buktikan Batik Punya Peran dalam Diplomasi Indonesia

Diselenggarakan atas inisiatif Indonesia dengan mengangkat tema “Advancing Humanitarian Capacities in a Changing World: National and Local Leadership”, konferensi tersebut berfokus pada pembahasan tiga isu kemanusiaan utama.

Pertama, yaitu penguatan kepemimpinan aktor kemanusiaan lokal dan nasional yang dianggap penting karena di setiap kejadian bencana mereka lah yang menjadi responden pertama sehingga kemampuannya akan memengaruhi keefektifan respons bencana.

Kedua, memastikan transisi yang lancar dari fase darurat ke pembangunan kembali.

“Ini merupakan upaya berkesinambungan yang tidak boleh putus, termasuk kemampuan untuk menyediakan pekerja kemanusiaan,” ujar Direktur Jenderal Kerja Sama Multilateral Kemlu RI Febrian Ruddyard yang bertindak sebagai Ketua RCHA 2021, dibantu oleh tiga ketua bersama dari Australia, Jepang, dan Fiji.

Ketiga, mendorong sinergi dan kerja sama di antara aktor kemanusiaan regional, nasional, dan global.

Dalam hal ini, sinergi yang lebih fokus dan terarah akan diupayakan melalui pembentukan Basis Data Kontak dan Keahlian Aktor Kemanusiaan (Directories of Humanitarian Actors’ Contact Points and Expertise) yang mencakup 62 aktor kemanusiaan dari 41 institusi kemanusiaan baik pemerintah dan nonpemerintah dari delapan negara di Asia Pasifik.

Basis data, yang merupakan dokumen hasil RCHA tersebut, diharapkan menjadi rujukan bersama dalam kerja sama kemanusiaan di kawasan, dan akan dikomunikasikan ke kantor-kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk urusan kemanusiaan seperti UNOCHA, IFRC, dan ICRC

“Belajar dari pengalaman selama pandemi, aktor kemanusiaan di tingkat nasional dan lokal nampak semakin memainkan peran penting untuk memimpin aksi kemanusiaan. Ini menjadi perhatian dan aset kita bersama, sehingga perlu disatukan dan dibentuk suatu jejaring,” kata Febrian.

Selanjutnya, ia menyatakan bahwa pembimbingan aktor kemanusiaan nasional dan lokal juga sangat penting untuk mendorong kesesuaian agenda penyelenggaraan bantuan kemanusiaan dengan kebutuhan aktual di lapangan.

“Sebagai responden pertama, mereka akan menjadi penilai pertama sehingga seberapa jauh atau banyaknya bantuan atau seperti apa bantuan yang diperlukan akan tepat guna dan memang sesuai kebutuhan. Kita bergantung pada penilaian dari aktor nasional dan lokal (mengenai situasi bencana di lapangan),” tutur Febrian.

Sebagai satu-satunya forum di Asia Pasifik yang secara spesifik membahas isu bantuan kemanusiaan, RCHA tahun ini mengundang kehadiran 21 negara dan sembilan organisasi internasional.

Sebanyak 14 pembicara dijadwalkan hadir dalam forum yang diikuti berbagai pemangku kepentingan itu, yakni Selandia Baru, China, Bangladesh, Timor Leste, Palang Merah Indonesia, Palang Merah Internasional, Disability-inclusive Disaster Risk Reduction Network, Save the Children, SIAP SIAGA, BNPB, UNOCHA, Pujiono Centre, Medicine Sans Frontieres, serta Humanitarian Forum Indonesia. (ant/dil/jpnn) 

 

Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler