Menristek Bambang Dorong Penerapan Riset Teknologi Pertanian

Rabu, 06 November 2019 – 07:22 WIB
Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro. Foto: Humas Kemristek

jpnn.com, JAKARTA - Menteri Riset dan Teknologi/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro mendorong penerapan riset, teknologi dan inovasi untuk meningkatkan produktivitas pertanian di Indonesia. Penguasaan riset, teknologi dan inovasi dalam bidang pertanian merupakan kunci keberhasilan bangsa Indonesia untuk menguasai produksi pertanian, khususnya pangan dan untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional.

"Kami sangat mendorong kerja sama Triple Helix antara peneliti baik yang berasal dari lembaga pemerintah maupun perguruan tinggi (Academicians), dunia usaha (Business) maupun pemerintah (Government) untuk mengembangkan produktivitas pertanian, baik dari hulunya maupun industri yang mengolah di hilirnya,” ujar Menteri Bambang saat menjadi Keynote Speaker dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kamar Dagang dan Industri (KADIN) dengan tema “Produktivitas dan Daya Saing Pertanian dan Industri Pangan” di Jakarta, Selasa (5/11).

BACA JUGA: Mentan SYL Beri Perhatian Khusus pada Riset dan Teknologi Pertanian

Selain program-program riset, teknologi dan inovasi dari lembaga riset pemerintah serta perguruan tinggi, Menteri Bambang mendorong pihak swasta turut terlibat aktif. Penelitian, pengembangan, pengkajian dan penerapan (research, development, engineering and operational/implementation) harus dilakukan mulai dari hulu hingga industri pengolahan hasil pertanian sehingga produk pertanian Indonesia semakin berkualitas dan dapat bersaing di tingkat global.

“Sudah cukup banyak perusahaan di Indonesia mempunyai unit R&D yang cukup bagus dan memperkuat daya saing nasional (national competitiveness) sehingga apa yang dikembangkan para peneliti dan atau innovator bisa langsung berjalan sesuai kebutuhan market,” ujar Bambang.

Dia juga mendorong agar petani dan masyarakat Indonesia mengubah pola pikir terkait dengan profesi petani. Dia mengatakan yang dimaksud dengan petani itu adalah pengusaha di bidang pertanian. Hal ini dilakukan untuk mengurangi dikotomi antara pengusaha dan petani. Dikotomi ini telah membuat petani seolah tidak bisa melakukan usaha. Padahal kesempatan petani untuk menjadi pengusaha pertanian saat ini adalah sangat besar, karena kesempatan ada di mana-mana.

“Solusinya adalah kita harus angkat petani untuk bisa melakukan usaha (business process). Petani harus mengubah mindset-nya untuk tidak hanya menjadi produksi hasil pertanian dan bekerja di lapangan, tetapi para petani dapat bertindak sekaligus menjadi Pengusaha di bidang Pertanian,” jelasnya.

Dia juga berharap hubungan kemitraan antara anggota KADIN baik pusat maupun daerah dengan para petani dapat ditingkatkan. Kemitraan ini dilakukan untuk menstimulus para petani daerah dalam berusaha. Sehingga manfaatnya pun bisa dirasakan bersama.

"Saya juga menemukan bahwa kesejahteraan petani bisa meningkat dengan cepat, jika terjalin kemitraan antara petani yang skala kecil dengan pengusaha pertanian yang lebih besar. Dengan kemitraan berdasarkan mutual benefit, kesejahteraan petani akan meningkat lebih baik lagi, karena selain harganya baik, konsumen juga tidak terkena margin tinggi sehingga inflasi dapat dikendalikan," tandasnya.(esy/jpnn)


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler