Menteri Siti Berbahagia Menyambut Kelahiran Fitri di Tengah Pandemi Covid-19

Senin, 25 Mei 2020 – 19:48 WIB
Bayi Fitri bersama induknya. Foto: dok.KLHK

jpnn.com, JAKARTA - Kabar bahagia datang dari lembaga konservasi (LK) Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua di tengah pandemi covid-19 ini.

Telah lahir seekor bayi orang utan bertepatan dengan momentum Hari Keanekaragaman Hayati Dunia yang jatuh pada 22 Mei dan Idulfitri pada 24 Mei 2020.

BACA JUGA: Kisah Mereka yang Setia Menjaga Orangutan dari Ancaman Virus Corona

Menteri LHK Siti Nurbaya menamai bayi itu Fitri karena lahir hari ini 25 Mei 2020, masih dalam momen perayaan Idulfitri 1441 Hijriah.

"Alhamdulillah, di hari yang bahagia sekaligus prihatin dengan situasi pandemic Covid-19, telah lahir jam 05.00 pagi bayi orangutan betina,” kata Menteri Siti Nurbaya di kediamannya di Jakarta hari ini.

BACA JUGA: Tembaki Orangutan Dengan 74 Peluru, Dua Remaja Aceh Hanya Wajib Adzan Di Masjid

Menteri Siti mengatakan, bayi orang utan ini merupakan jenis Kalimantan (Pongo pygmaeus) dari induk Evi dan jantan Ipung.

BACA JUGA: Menteri Siti: Kelola Kebun Binatang Harus Menguasai Manajemennya dan Kenal Satwa

Fitri dan induknya

Menurutnya, selain Fitri, selama penutupan Lembaga Konservasi dan berlangsungnya Penerapan Sosial Berskala Besar (PSBB), telah banyak satwa yang lahir.

Antara lain Gajah Sumatera di TSI Cisarua dan Gembira Loka Yogyakarta, komodo (12 ekor), burung Kasturi Raja (1 ekor), orangutan fitri di TSI Cisarua, Tarsius (1 ekor) di Faunaland Ancol, Kasuari (3 ekor) di R Zoo and Park di Sumatera Utara, serta satwa- satwa eksotik lainnya seperti jerapah, zebra dan common marmoset.

Ini, tutur Menteri Siti, menandakan bahwa pengelola LK telah menerapkan kesejahteraan satwa dengan baik sehingga bisa berkembang biak secara alami.

Lembaga konservasi, sambungnya, telah menjalankan fungsinya sebagai tempat pengembangbiakan di luar habitat yang tetap mempertahankan kemurnian genetiknya.

"Diharapkan melalui program captive breeding ini, konservasi ex-situ link to in-situ bisa dijalankan dan pada akhirnya peningkatan populasi in-situ dapat tercapai", ujar Menteri Siti.

Hal ini juga dibuktikan oleh KLHK dengan telah melakukan pelepasliaran satwa ke habitat alaminya dari pusat rehabilitasi, pusat penyelamatan, dan unit konservasi satwa lainnya sebanyak 214.154 individu sejak tahun 2016-2020.

Menteri Siti juga menjelaskan peningkatan populasi bisa dilakukan dengan membuat kantung-kantung baru populasi satwa dan menyelamatkan metapopulasi satwa yang sudah ada.

Metapopulasi adalah kelompok populasi yang secara spasial terpisah dari jenis yang sama dan berinteraksi pada beberapa tingkatan.

"Untuk itu saya (sedang) kembangkan kebijakan untuk mendorong adanya konektivitas kantong-kantong satwa melalui pengembangan sistem kawasan lindung yang mencakup areal yg bernilai konservasi tinggi di konsesi-konsesi sektor kehutanan dan perkebunan. KLHK telah mengidentifikasi ada 1,4 juta area bernilai konservasi tinggi yang bisa masuk dalam sistem kawasan yang dilindungi," sambungnya.

Pada tingkat spesies, Indonesia telah telah menyusun peta jalan untuk memulihkan populasi 25 spesies target yang terancam punah.

“Melalui lebih dari 270 lokasi pemantauan, beberapa populasi spesies meningkat dalam lokasi pemantauan tersebut, seperti Jalak Bali, Harimau Sumatra, Badak Jawa, Gajah Sumatra, dan Elang Jawa,” tegas Menteri Siti.

Pada tingkat genetik, Indonesia telah mempromosikan bioprospeksi (bioprospecting) untuk keamanan dan kesehatan pangan, seperti Candidaspongia untuk anti-kanker, dan gaharu untuk disinfektan, yang produksinya telah ditingkatkan selama pandemi COVID-19 ini. (jpnn)


Redaktur & Reporter : Natalia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler