Menunggu Prestasi Tunggal Putri di All England 2019

Rabu, 30 Januari 2019 – 14:16 WIB
Gregoria Mariska. Foto: Badminton Indonesia

jpnn.com, JAKARTA - Sektor tunggal putri menjadi sorotan dalam persiapan All England 2019 yang digelar di Birmingham awal Maret nanti.

Dua turnamen berlevel super 500 (Malaysia Masters dan Indonesia Masters) di awal tahun cukup menjadi gambaran. Dua pemain terbaik Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung dan Fitriani, tidak mampu lolos lebih tinggi dari babak 16 besar.

BACA JUGA: Final All England 2018, Lin Dan Buru Rekor Rudy Hartono

Memang ada sisi tidak mujurnya. Keduanya bertemu pemain-pemain 10 besar di babak-babak awal. Di Indonesia Masters, misalnya, Jorji –sapaan Gregoria–bertemu juara BWF World Tour Finals 2018 Pusarla V. Sindhu di babak kedua. Fitriani setali tiga uang. Dia diadang unggulan kedelapan Saina Nehwal.

Ketika Jorji secara mengejutkan menembus semifinal Denmark Open Oktober lalu, dia diuntungkan drawing. Hingga delapan besar, pemain 19 tahun itu sama sekali tidak bertemu pemain yang peringkatnya lebih tinggi dari dia. Namun, Jorji dan Fitriani tentu tidak boleh terlalu bergantung pada drawing. Inferioritas mereka terhadap pemain top 10 harus diakhiri.

BACA JUGA: Pasti Dahsyat! Mathias/Carsten Tantang Marcus/Kevin di Final

’’Memang hasil belum maksimal, padahal anak-anak masih bisa lebih,’’ kata Minarti Timur, pelatih tunggal putri pelatnas. ’’Tapi, menurut saya lumayan kok. Mereka sudah bisa mengimbangi lawan seperti Sindhu atau Nehwal,’’ imbuhnya.

Penyakit utama kedua anak buahnya, menurut Minarti, belum matang. Terutama dari segi mental. Mereka tidak bisa memberikan eksekusi yang baik di poin-poin kritis. Kurang tenang. Terburu-buru ingin mengakhiri pertandingan yang berbuah kesalahan sendiri. Sementara itu, para pemain sekaliber Nehwal dan Sindhu, karena sudah kaya pengalaman, sangat tenang di lapangan.

BACA JUGA: Keanehan yang Bikin Marcus/Kevin Sempat Goyang di Semifinal

’’Anak-anak panik, jadi permainan juga nggak keluar. Memang semua berdasar pengalaman. Harus banyak belajar dari situ,’’ ucap Minarti.

Jorji sendiri mengakui sulitnya tampil konsisten di BWF Tour berlevel super 500 ke atas. Apalagi, hampir semua performa para pemain top 10 stabil. Mereka jarang goyah. ’’Harus banyak improve kalau melawan pemain yang di atas. Harus lebih tahu juga cara bermain di setiap pertandingan seperti apa,’’ jelas Jorji saat ditemui setelah berlatih di Cipayung kemarin.

Menurut pemain PB Mutiara Bandung itu, dia sebenarnya tidak pernah gentar jika melawan pemain-pemain yang peringkatnya lebih tinggi. ’’Tidak jadi beban. Justru jadi target saya untuk ngalahin mereka,’’ kata Jorji.

Pebulu tangkis yang kini menempati peringkat 14 BWF itu juga menampik bahwa faktor cedera pinggang menjadi penyebab performanya naik turun. ’’Kurang bisa jaga konsistensi saja,’’ ucapnya.

Sebelum berlaga di All England, Minarti menuturkan bahwa Jorji dan Fitriani bakal mengikuti turnamen pemanasan. Yakni, German Open pada 26 Februari–3 Maret. Minarti bakal terus membenahi penampilan mereka. Terutama masalah emosi yang sering mengakibatkan Jorji atau Fitri kehilangan momen berharga untuk ambil poin. ’’Harus lebih berani,’’ tegasnya.

Untuk All England, pelatnas hanya akan mengirim Jorji dan Fitriani. Ruselli Hartawan tidak didaftarkan karena poinnya tidak cukup. Namun, selain mereka, ada dua lagi wakil Indonesia. Yakni, Lyanny Alessandra Mainaky dan Yulia Yosephin Santoso. Hal itu mengejutkan karena peringkat mereka di bawah Ruselli. ’’Kalau poinnya cukup, enggak apa-apa ikut. Bagus juga untuk mencari pengalaman,’’ kata Minarti. (feb/c15/na)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Lihat Hebatnya Marcus/Kevin di Semifinal All England 2018


Redaktur & Reporter : Adek

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler