Merdeka 19 Juni

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Sabtu, 19 Juni 2021 – 10:38 WIB
Dahlan Iskan. Foto: disway.id

jpnn.com - Hari ini ada peringatan kemerdekaan Amerika Serikat. Besar-besaran. Lho! Hari ini kan tanggal 19 Juni? Bukankah seharusnya 4 Juli?

Itulah. Bagi orang kulit hitam hari kemerdekaan Amerika yang sebenarnya adalah 19 Juni 1865. Bukan 4 Juli 1776.

BACA JUGA: Soal Asal Usul COVID-19, Epidemiolog China Sebut Amerika Harus Jadi Tersangka Utama

Itulah hari hilangnya perbudakan di Amerika Serikat secara tuntas. Yakni dua tahun setelah Presiden Abraham Lincoln mengesahkan UU antidiskriminasi.

Lincoln sendiri kemudian mati ditembak oleh ekstremis kulit putih.

Empat hari lalu eksistensi "19 Juni" itu sudah kukuh. Menjadi resmi. Hari itu DPR Amerika menyetujui UU baru: Juneteenth National Independence Day.

Maka bertambahlah hari libur nasional Amerika: tiap 19 Juni.

Sudah lama Amerika tidak menambah hari libur. Terakhir tahun 1983 lalu, ketika Presiden Ronald Reagan mengesahkan UU Baru untuk menghormati terbunuhnya pejuang persamaan hak Dr Martin Luther King Jr.

Ada yang menggelitik saat diadakan pemungutan suara empat hari lalu: 14 orang menolak. Yang 415 orang setuju. Yang menolak itu semuanya dari Partai Republik.

Di antara 14 orang itu ada yang menolak dengan alasan nama UU itu akan membingungkan: mengaburkan hari kemerdekaan Amerika yang sebenarnya. Bacalah sekali lagi nama UU itu.

Ada juga yang beralasan hari libur sudah terlalu banyak. Sudah sembilan hari. Termasuk hari buruh, hari Veteran, thanks giving, hari Martin Luther King. Hari libur yang terakhir itu kan sudah cukup mengakomodasi persamaan hak.

Lalu ada juga yang menolak karena UU baru itu terkesan berlatar belakang perjuangan ras. "Kalau libur nasional dilatarbelakangi ras, nanti akan ada hari libur semua ras," katanya.

Ada juga yang bilang tambahan libur itu oke saja, tetapi jangan disebut hari kemerdekaan. "Sebut saja hari persamaan hak," katanya. "Atau hari kebebasan. Atau apalah," tambahnya.

Presiden Joe Biden langsung mengesahkan UU baru itu. Kemarin. Maka tanggal 19 Juni hari ini Amerika mulai libur nasional baru.

Yang masih gagal diperjuangkan adalah: belum ada tokoh kulit hitam yang wajahnya muncul di uang dolar Amerika. Semua tokoh di dalam uang Amerika adalah orang kulit putih.

Sebenarnya hampir saja final: gambar uang 20 dolar akan diganti. Yang selama ini bergambar mantan Presiden Andrew Jackson.

Namun, soal ini menjadi ruwet ketika Donald Trump menjadi presiden. Gambar wajah Andrew Jackson itu dipakai sejak 1928. Tepat 100 tahun Jackson terpilih sebagai presiden Amerika.

Saya pernah ke kediaman Jackson. Yang tetap kukuh sampai sekarang. Kediaman itu menjadi museum kepresidenan Andrew Jackson. Lokasinya di luar kota Nashville, Kentucky.

Sebenarnya ironis menjadikan Jackson lambang di mata uang kertas 20 dolar. Jackson adalah presiden yang menentang pencetakan uang kertas. Ia takut mengacaukan moneter karena mudah dipalsu. Jackson bahkan antibank nasional: dianggap mengurangi otonomi negara bagian.

Menurut Jackson tiap negara bagian biarlah memiliki bank sentral sendiri.

Dalam catatan sejarah mata uang, tidak pernah ada penjelasan mengapa wajah Jackson dipilih. Hanya tercatat bahwa wajah lama Stephen Grover Cleveland akan dipindah ke lembaran uang 1.000 dolar. Harus ada penggantinya.

Cleveland menjadi presiden dua kali. Tahun 1885 dan tahun 1893. Ia presiden ke 22 dan ke 24. Lembaran uang 1.000 dolar belakangan dihapus. Dolar terbesar adalah 100 dolar.

Tuntutan mengganti wajah Jackson muncul sejak lebih sepuluh tahun lalu. Seiring dengan kuatnya gerakan emansipasi wanita.

Selama ini belum pernah ada wajah wanita yang jadi hiasan uang kertas. Para pejuang itu punya target: tahun 2020 harus ada perubahan.

Tahun 2020 adalah 100 tahun keberhasilan penting dalam sejarah wanita di Amerika. Yakni ketika wanita Amerika mulai memiliki hak pilih. Ternyata perlu perjuangan 200 tahun, pun di Amerika, agar wanita punya hak pilih.

Diadakanlah jajak pendapat: siapa wanita yang pantas diabadikan di uang kertas. Ketemulah 15 nama paling dikehendaki. Termasuk –sesuai urutan terbanyak–Harriet Tubman, Eleanor Roosevelt, Rosa Parks, dan Wilma Mankiller.

Yang pertama itu adalah wanita biasa kulit hitam, yang kemudian jadi tokoh pejuang penghapusan perbudakan. Dia menyelundupkan banyak budak agar bisa bebas. Dengan cara yang sangat dramatik.

Sedang nama terakhir adalah wanita suku asli Indian dari sub suku Cherokee. Selebihnya, Anda sudah tahu siapa mereka.

Terpilihnya Donald Trump membuat rencana itu berantakan. Mula-mula Trump tidak setuju gambar di uang dikaitkan dengan politik.

Lalu tidak setuju dimulai tahun 2020. Terlalu tergesa. Akan ada kesulitan teknis. Muncul lagi alasan: desain uang akan ditinjau ulang secara keseluruhan.
Tahun 2020 pun lewat begitu saja.

Intinya: tokoh kulit putih tidak boleh disingkirkan dan diganti kulit hitam. Apalagi Jackson adalah lambang supremasi kulit putih. Jackson memiliki 300 budak kulit hitam. Penderitaan mereka masih tergambar di museum yang saya kunjungi itu.

Bagaimana dengan sekarang? Setelah Biden yang jadi presiden? Adakah Harriet jadi menggantikan Jackson? "Akan dipercepat," ujar juru bicara Gedung Putih.

Berarti belum mulai minggu depan. Setidaknya dalam dua minggu ini akan ada dua hari kemerdekaan Amerika: hari ini dan 4 Juli, dua minggu lagi.

Siapa bilang itu repot? Kita menganggap kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Belanda menganggap Indonesia merdeka 27 Desember tahun 1949. (*)


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler