Meski Agama Berbeda, Air Mata Derita Tetap Sama

Kamis, 29 Oktober 2015 – 01:20 WIB
Sampul Film Nostra Aetate. FOTO: Hermawi Taslim for JPNN.com

jpnn.com - ROMA - Agama boleh berbeda-beda, namun air mata derita umat manusia tetap sama. Oleh karena itu, penting bagi para pemuka seluruh agama di dunia untuk bekerja sama membangun perdamaian dunia dan terus berupaya menciptakan kesejahteraan bagi umat manusia.

Demikian inti dari film “Nostra Aetate, The Leaven Of Good (Nostra Aetate, Ragi Kebaikan – red) yang  menandai dimulainya Konferensi Internasional Peringatan 50 Tahun Nostra Aetate, di Universitas Gregoriana Roma, Italia, Senin (26/10) hingga Rabu (28/10).

BACA JUGA: Astaga, Korban Tewas Gempa Afghanistan Capai 345 Orang

Nostra Aetate (Pada Jaman Kita – Red) adalah salah satu dari 16 dokumen independen yang dihasilkan Konsili Vatikan II yakni pada 28 Oktober 1965. Dokumen itu berisi keterbukaan Gereja Katolik dalam membangun hubungan dengan agama non Kristen.

Dalam konferensi internasional ini, hadir sekitar 300 orang terdiri dari para tokoh dan pemimpin agama dari berbagai belahan bumi. Hadir pula para peserta dari berbagai kalangan, termasuk dua dari Indonesia yakni Hermawi Fransiskus Taslim, Ketua Umum Forum Komunikasi Alumni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Indonesia (FORKOMA PMKRI) dan AM Putut Prabantoro, Ketua Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa).  

BACA JUGA: Hujan Deras, Jarak Pandang Di Singapura Lebih Baik

Hadir dalam acara pembukaan tersebut adalah Presiden Dewan Kepausan Dialog Antar Agama, Kardinal Jean Louis Tauran dan Presiden Dewan Kepausan untuk Persatuan Kristen, Kardinal Kurt Koch.

“Nostra Aetate, The Leaven Of Good” yang berdurasi 25 menit itu merekam berbagai pendapat para tokoh agama dari berbagai keyakinan tentang masa depan dunia. Pesan utama yang ingin dikemukakan adalah dunia tidak mungkin dibangun dengan permusuhan, diskriminasi, penganiayaan ataupun penderitaan umat manusia. Para tokoh agama harus bekerjasama dalam membangun dunia masa depan dengan perdamaian.

BACA JUGA: NGERI: Leher Tertusuk Dua Batang Besi Tembus ke Punggung, Ini Fotonya

“Perdamaian itu syarat mutlak diperlukan ketika perang dirasa tidak akan berakhir. Perdamaian itu diperlukan ketika penderitaan umat manusia dirasa tidak pernah akan beranjak pergi. Dunia harus dibangun dalam perdamaian, kesetaraan dan tanpa diskriminasi. Itu pesan utama dari peringatan 50 tahun Nostra Aetate yang diungkapkan oleh Kardinal Jean Louis Tauran dalam pidato pembukaan konferensi,” ujar Putut Prabantoro.

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa melalui Nostra Aetate, Gereja Katolik mengecam setiap bentuk diskriminasi ataupun penganiayaan berdasarkan keturunan, warna kulit, kondisi hidup dan agama. Karena hal itu bertentangan dengan semangat Yesus Kristus.

“Hanya dengan perdamaian, dialog antar agama dan persahabatan, penderitaan dunia akan terselesaikan,” katanya.

Sementara itu, Hermawi Taslim menguraikan bahwa suatu bangsa yang tercabik-cabik karena perang ataupun penindasan, akan sangat mengerti apa kata perdamaian. Kata itu (perdamaian – red) diperlukan bagi mereka yang hidup dalam diskriminasi, penganiayaan dan penindasan.

Para tokoh agama di manapun memegang peran penting dalam membangun perdamaian yang dibutuhkan setiap bangsa di manapun mereka berada.

“Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana menciptakan perdamaian, kesetaraan, dan juga meniadakan penindasan? Kesejahteraan, saya kira salah satu poin penting yang perlu digarisbawahi oleh para tokoh agama. Bagaimana para tokoh agama menawarkan kesejahteraan itu terkait dengan perdamaian. Kita boleh berbeda agama tetapi soal penderitaan, perang, penindasan adalah sama bagi setiap orang tanpa melihat suku, agama ataupun ras,” ujar Hermawi Taslim dalam siaran persnya dari Roma, Italia kepada Redaksi JPNN.

Menurut Hermawi Taslim, pada acara Pembukaan Konferensi, masing-masing pemuka agama yang hadir mendapat kesempatan untuk memberi sambutannya, termasuk dari Hindu, Islam Sunni, Islam Siah, Budha, Sikh, Dewan Gereja Sedunia, Yahudi, Aliran Kepercayaan Tradisional Afrika dan Focolare Movement.(fri/jpnn) 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Parah... Wartawan Amerika Tulis Ryamizard Presiden Indonesia


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler