Mobil Baru Wajib Konverter BBG

Produsen Minta Waktu Dua Tahun

Senin, 07 Mei 2012 – 08:23 WIB

JAKARTA - Upaya meredam lonjakan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) terus dilakukan. Kali ini, pemerintah tengah menggodok regulasi yang mewajibkan mobil yang baru diproduksi harus dipasangi converter kit bahan bakar gas (BBG).

Dirjen Migas Kementerian ESDM Evita H. Legowo mengatakan, kewajiban pemasangan converter kit tersebut menjadi rekomendasi resmi dari Kementerian ESDM dalam program pengendalian konsumsi BBM. "Jadi, nanti semua mobil baru yang dijual ke konsumen wajib dipasangi konverter," ujarnya di Jakarta akhir pekan lalu.

Menurut Evita, dalam rekomendasi Kementerian ESDM, untuk tahap awal, mobil masih bisa menggunakan sistem dual fuel. Artinya, selain konverter, mobil bisa menggunakan tangki BBM sehingga bisa memakai BBM maupun BBG. "Ini sambil menunggu pembangunan infrastruktur SPBG (stasiun pengisian bahan bakar gas)," katanya.

Evita menyatakan, rekomendasi tersebut sudah disampaikan kepada Menko Perekonomian dan kini tengah dimatangkan dengan Kementerian Perindustrian selaku kementerian teknis yang membawahi sektor industri otomotif. "Dari (Kementerian) Perindustrian sudah setuju dengan rekomendasi kami. Sekarang mereka sedang bicara dengan produsen otomotif untuk persiapannya," jelasnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Sudirman M.R mengakui, pelaku usaha memang sudah diajak bicara oleh pemerintah terkait ketentuan wajib pasang konverter. "Kami katakan, butuh waktu satu hingga dua tahun untuk meluncurkan produk tersebut (mobil dengan konverter, Red)," ujarnya.

Yang bisa dilakukan dalam waktu dekat, lanjut dia, diler-diler resmi agen tunggal pemegang merek (ATPM) akan membantu pemasangan converter kit pada mobil milik konsumen. "Pemasangan harus di bengkel resmi karena ini menyangkut teknis, standar keselamatan, maupun asuransi," katanya.

Meski demikian, kata Sudirman, pelaku usaha mengingatkan pemerintah agar pelaksanaan program BBG itu lebih serius daripada tahun-tahun sebelumnya. "Misalnya, soal infrastruktur. Kalau ingin sukses, SPBG harus diperbanyak. Sekarang kan jumlahnya masih sedikit dan di banyak kota masih belum ada SPBG," ucapnya.

Menteri ESDM Jero Wacik mengakui, dalam beberapa tahun terakhir, pengembangan BBG memang belum terwujud sehingga banyak orang yang menyebut kebijakan tersebut hanya omdo alias omong doang. "Kali ini, saya tidak mau omdo. Pemerintah akan siapkan sebaik mungkin," tegasnya.

Menurut Jero, pemerintah kini fokus pada tiga faktor utama pengembangan BBG, yakni pasokan gas untuk BBG, pembangunan SPBG, dan penyediaan converter kit. "Tiga-tiganya kita garap serius. Pasokan gas sudah ada, SPBG mulai dibangun, dan converter kit sementara akan diimpor sambil menunggu kesiapan produksi dalam negeri," jelasnya. (owi/c6/kim)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Pemerintah Harus Sigap Hadapi Ancaman Inflasi


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler