Museum Holocaust

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Kamis, 03 Februari 2022 – 22:32 WIB
Kamp Konsentrasi NAZI di Auschwitz, Polandia. Foto: Antoni/JPNN.com

jpnn.com - Holacaust adalah peristiwa pembunuhan berencana terhadap ras Yahudi oleh Nazi Jerman pada Perang Dunia Kedua.

Peristiwa ini diyakini sebagai pembunuhan terencana dan sistematis terbesar di dunia. Korban Holocaust diyakini berjumlah jutaan. Mereka meninggal di kamp-kamp kerja paksa dan di kamar-kamar gas beracun di beberapa kamp pengungsian di Eropa sejak 1940 sampai 1947.

BACA JUGA: Di Depan PM Israel, Merkel Sebut Jerman Akan Terus Memikul Dosa Holocaust

Sampai sekarang Holocaust tetap menjadi kontroversi. Ada yang melestarikan memori terhadapnya sebagai pengingat kepada seluruh dunia akan kejamnya politik rasis yang diterapkan oleh rezim Nazi Jerman di bawah kepemimpinan Adolf Hitler.

Ada yang menyangkal keberadaan peristiwa Holocaust, dan menganggapnya sebagai rekayasa politik Zionis untuk memberi pembenaran terhadap pendirian negara Yahudi Israel di tanah Palestina.

BACA JUGA: Populasi Warga Yahudi di Dunia Kini Hampir Sama Sebelum Tragedi Holocaust

Kontroversi Holocaust terjadi di seluruh dunia, membelah opini politik menjadi dua kelompok yang saling bersitegang. Kekejaman Hitler yang melampaui batas kemanusiaan dikutuk.

Namun, kekejaman yang dilakukan Yahudi Israel terhadap warga Palestina juga menjadi pertanyaan besar yang belum terjawab.

BACA JUGA: Korban Holocaust Rencana Bangun Museum di Australia Selatan

Bagainana mungkin, sebuah bangsa yang menyelamatkan diri dari penjajahan dan pembunuhan masal kemudian melakukan kekerasan terhadap bangsa lain yang sama-sama minoritas? Bangsa Yahudi lari dari Eropa menuju Palestina untuk mendirikan negara sendiri.

Namun, kemudian dalam proses itu bangsa Yahudi melakukan berbagai kekejaman dan pelanggaran hak asasi terhadap bangsa Palestina yang sudah terlebih dahulu eksis.

Rasa ketidakadilan itulah yang dirasakan oleh orang-orang Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Itulah sebabnya mengapa pemerintah Indonesia berkomitmen untuk membela kemerdekaan bangsa Palestina dari penguasaan Yahudi Israel.

Sampai sekarang pemerintah Indonesia tetap menjaga komitmen itu.

Karena itu, ketika berdiri museum Holocaust di Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara (27/1) beberapa organisasi Islam Indonesia melakukan protes. Pendirian museum itu dianggap tidak sensitif terhadap suasana kebatinan umat Islam Indonesia dan bertentangan dengan komitmen Indonesia terhadap perjuangan Palestina.

Museum Holocaust di Indonesia menjadi sebuah paradoks yang menimbulkan tanda tanya besar. Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di seluruh dunia.

Indonesia secara resmi mendukung negara Palestina dan ikut aktif di berbagai forum dunia untuk membantu kemerdekaan Palestina.

Pendirian negara Israel di atas tanah Palestina sejak 1948 dianggap sebagai sebentuk penjajahan. Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya--seperti yang termaktub dalam pembukaan konstitusi—untuk menghilangkan penjajahan dari muka bumi.

Pendirian negara Israel di tanah Palestina adalah bentuk penjajahan, dan karena itu harus dihapuskan.

Mendirikan museum Holacaust di Indonesia menjadi paradoks yang aneh yang bertentangan dengan semangat konstitusi. Holocaust menjadi catatan kelam sejarah yang harus dikecam dan ditentang.

Namun, kekejaman yang dilakukan oleh Yahudi Israel terhadap bangsa Palestina juga tidak boleh dibiarkan terus-menerus terjadi.

Holocaust menjadi salah satu peristiwa pembunuhan berencana yang paling kontroversial. Pemimpin Nazi, Adolf Hitler, memprakarsai sebuah proyek pembunuhan berencana terhadap ras Yahudi. Proyek ini dinamai ‘’Final Solution’’, solusi terakhir.

Melalui Solusi Terakhir Hitler menyalurkan kebenciannya yang sangat mendalam terhadap ras Yahudi, dengan mengumpulkan mereka ke dalam kamp-kamp kerja paksa, dan menggiring mereka ke dalam ‘’gas chamber’’ rumah-rumah gas beracun.

Tujuan final dari program Hitler adalah menghabisi ras Yahudi dari muka bumi.

Hitler adalah seorang ultra-nasionalis radikal yang percaya bahwa ras Aria Jerman adalah terbaik di dunia. Karena ini Bangsa Aria harus menjadi penguasa dunia. Petualangan untuk menguasai dunia dimulai Hitler dari Eropa. Dengan menguasai Eropa maka Jerman akan menguasai jantung dunia.

Bersamaan dengan eksperimen militer itu Nazi Jerman juga melakukan rekayasa sosial untuk menciptakan ras Aria sebagai ras unggul dunia, dan menghilangkan ras lain yang inferior yang bisa mencemari kemurnian dan keunggulan ras Aria.

Sasaran utama Hitler adalah ras Yahudi yang dianggapnya paling rendah di dunia yang bisa mencemari keunggulan Aria.

Ras Aria harus dijaga kemurniannya sebersih mungkin. Tidak boleh ada setetes pun aliran darah ras lain, terutama ras Yahudi. Solusi yang dipilih Hitler adalah membunuh sampai habis, tumpas kelor, semua orang Yahudi yang ada di Eropa harus dihilangkan.

Ketika itu di seluruh Eropa diperkirakan terdapat 11 juta orang Yahudi yang tersebar di berbagai negara. Hitler mulai melakukan pembersihan melalui pembunuhan terencana di wilayah Jerman dan Eropa Timur yang sudah dikuasai Nazi.

Komunitas-komunitas Yahudi di Jerman, Polandia, dan sekitarnya menjadi sasaran utama Hitler. Kamp konsentrasi besar didirikan di Auschwitz di Polandia untuk menampung orang-orang Yahudi dan kaum homoseksual yang sangat dibenci Hitler.

Di kamp konsentrasi itu para tahanan disekap dan dikenai kerja paksa dalam kondisi yang tidak manusiawi. Tahanan yang masih muda dan sehat menjadi budak kerja paksa, dan orang-orang tua dan anak-anak dikonsentrasikan ke dalam kamp khusus.

Ribuan orang mati karena kelaparan dan penyakit, dan ribuan lainnya mati karena diracun di ruang gas.

Jumlah korban Holocaust menjadi kontroversi. Ada yang memperkirakan 1 juta sampai 1,5 juta orang Yahudi meninggal akibat genosida ini. Ada yang menyebut angka enam juta. Ada yang memperkirakan ratusan ribu, dan ada juga yang tidak percaya bahwa Holocaust pernah terjadi.

Presiden Iran Mahmud Ahmadenijad semasa kepemimpinannya pada 2005 menyangkal Holocaust dan menyebutnya sebagai mitos politik.

Ahmadinejad mengatakan bahwa mitos Holocaust sengaja diciptakan oleh gerakan Zionis internasional, yang didukung Eropa dan Amerika, untuk memberi pembenaran terhadap pendudukan Yahudi Israel terhadap tanah bangsa Palestina.

Ahmedinejad dikecam di Eropa dan Amerika, dan dianggap melakukan tindakan anti-semitisme yang mendiskriminasi orang Yahudi. Ahmadinejad menentang arus besar dunia. Anti-semitisme menjadi arus politik besar yang sangat kuat. Siapa pun yang kritis terhadap politik Israel mendapat label anti-semit dan dikucilkan dari pergaulan internasional.

Siapa pun yang membuat komentar kritis terhadap Holocaust akan dicap sebagai anti-semit dan akan dibulli secara internasional dan dipaksa meminta maaf. Terbaru, aktris berkulit hitam Whoopi Goldberg dipaksa meminta maaf (31/1) karena berkomentar bahwa Holocaust bukan masalah rasial, karena terjadi di antara sesama orang kulit putih.

Goldberg tidak secara eksplisit menyangkal keberadaan Holocaust. Ia secara implisit ingin mengatakan bahwa orang-orang kulit putih telah melakukan tindakan yang sama terhadap orang-orang kulit hitam.

Goldberg secara implisit mengatakan bahwa holocaust orang kulit putih terhadap orang kulit hitam lebih masif dan kolosal.

Goldberg dikecam secara luas dan akhirnya meminta maaf. Mempertanyakan Holocaust adalah tindakan tabu yang tidak bisa ditoleransi. Holocaust menjadi kebenaran yang tidak boleh lagi dipertanyakan atau dikritisi.

Namun, bagi intelektual Amerika keturunan Palestina, Edward Said, Holocaust dan Palestina justru menjadi pertanyaan penting yang harus memperoleh jawaban. Keberadaan pemerintah Yahudi Israel di Palestina adalah ironi terbesar dalam sejarah geopolitik internasional.

Edward Said mempertanyakannya dalam ‘’The Question of Palestine’’. Mengapa orang-orang di seluruh dunia membela Yahudi dari kebrutalan Nazi Jerman, tetapi tidak membela bangsa Palestina dari kekejaman banga Yahudi? Itulah pertanyaan besar mengenai Palestina.

Penyekapan oleh Hitler terhadap Yahudi dalam kamp-kamp raksasa adalah kekejaman kemanusiaan yang tidak termaafkan. Namun, mengapa sekarang terjadi penyekapan yang sama oleh rezim Yahudi Israel terhadap bangsa Palestina? Edward Said menuntut jawaban atas pertanyaan itu.

Pertanyaan itu menjadi pertanyaan kemanusiaan yang universal. Semua orang di seluruh dunia, yang mempunyai rasa kemanusiaan dan keadilan, harus punya pertanyaan itu, dan berusaha menemukan jawabannya.

Mungkin itu juga yang harus menjadi pertanyaan para pengelola museum Holocaust di Minahasa. (*)


Redaktur : Adek
Reporter : Cak Abror

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler