Nasdem: Investor China Siap Dukung Hilirisasi Nikel Indonesia, Apa Kabar Perusahaan Lokal?

Kamis, 08 Februari 2024 – 12:01 WIB
Unjuk rasa di kawasan industri nikel Morowali menuntut perlindungan karyawan. (Reuters: Ajeng Dinar Ulfiana)

jpnn.com, JAKARTA - Ketua DPP Partai NasDem Bidang Lingkungan Hidup Lusyani Suwandi menegaskan hilirisasi nikel yang dilakukan pemerintah sangat merugikan Indonesia.

Hal itu disebabkan mayoritas investor nikel adalah perusahaan asing dari China.

BACA JUGA: Arief Puyouno: Luhut Dikenal Sebagai Counterpart Investor China

"Karena itu, nilai tambah industri smelter dinikmati oleh pihak asing," tegas Lusyani, baru-baru ini.

Lusyani menjelaskan China adalah salah satu negara yang tidak menginginkan atau membatasi perusahaan smelter beroperasi di negaranya untuk mengurangi pencemaran lingkungan.

BACA JUGA: Cak Imin: Hilirisasi Tambang Dilakukan Ugal-ugalan

Hal itu dilakukan meskipun mereka sangat membutuhkan nikel untuk bahan baku industri baterai dan kendaraan listrik yang sedang booming.

"Nah, untuk mengatasi kondisi dilematis itu, perusahaan-perusahaan China mencari peluang investasi smelter di luar negeri, utamanya di negara penghasil nikel seperti Indonesia. Upaya ini didukung penuh oleh pemerintah China, bahkan difasilitasi demi menjamin kebutuhan nikel di dalam negeri China," papar Lusyani.

BACA JUGA: Tambang Nikel Ilegal yang Mengancam Hilirisasi Bakal Sulit Diberantas Jelang Pilpres

Oleh karena itu, sambung Lusyani, China menyambut kebijakan hilirisasi di Indonesia dengan gembira.

"Itu menempatkan Indonesia sebagai negara tujuan investasi 'industri kotor' pencemaran lingkungan, yakni smelter nikel," ujar Lusyani.

Lusyani melanjutkan industri smelter nikel yang dinikmati China itu, mencemari lingkungan dengan sangat serius.

Lingkungan yang dicemari adalah udara,tanah dan air yang akan terkontaminasi logam dan zat kimia beracun.

"Itu sangat berbahaya bagi manusia dan makluk hidup lainnya," tegasnya.

Menurutnya, sebagai negara penghasil nikel, Indonesia memang tak bisa hindari pembangunan smelter.

"Tetapi seharusnya dilakukan oleh perusahaan lokal dan diikuti oleh pembangunan industri baterai dan kendaraan listrik," pungkasnya. (flo/jpnn)


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler