Nevi Zuairina: Agenda Raker Dadakan Komisi VI dan Menteri BUMN Sangat Sensitif

Jumat, 12 Juni 2020 – 22:59 WIB
Anggota DPR RI dari Fraksi PKS dari Dapil Sumatera Barat II Nevi Zuairina. Foto: Dok. FPKS DPR

jpnn.com, JAKARTA - Anggota DPR RI dari Fraksi PKS Hj. Nevi Zuairina mengkritik penyelenggaraan rapat kerja dadakan di masa reses antara Komisi VI DPR dengan Menteri BUMN pada Selasa, 9 Juni 2020 lalu.

Pasalnya, menurut dia, tidak lazim ada rapat kerja di masa reses dan agendanya sangat sensitif yakni rapat kerja Komisi VI DPR dengan Kementerian BUMN yang bertema Pembayaran Utang Pemerintah kepada BUMN dan Penyertaan Modal Negara.

BACA JUGA: Politikus PKS Nevi Zuairina Salurkan 15 Ribu Paket Sembako di Sumbar

“Agak sensitif dan sulit dikontrol rapat di masa reses ini, pembahasannya melibatkan pencairan uang negara untuk BUMN sebesar Rp 152,5 triliun. Mekanismenya rancu dengan tiga pola yakni pembayaran utang atau kompensasi, penyertaan modal negara (PMN), dan dana talangan. Ini tidak dapat digabungkan pembahasannya. Harus dipisah. Karena akan menimbulkan kerancuan dan mengakibatkan kecerobohan," kata Nevi dalam siaran persnya, Jumat (12/6).

Nevi mengaku dirinya memantau situasi Raker Komisi VI DPR RI melalui jarak jauh akibat wabah covid-19.

BACA JUGA: DPR RI Minta Menhan dan Panglima TNI Segera Buat Laporan Soal Tragedi Kendal

Legislator PKS asal Sumbar ini menggambarkan ratusan BUMN yakni sebanyak 142 BUMN tidaklah sehat semua. Bahkan mayoritas kritis. Hanya sekitar 15 saja yang memberi kontribusi terhadap negara, itupun masih perlu pengawasan ketat.

Perlu diakui, lanjut dia, bahwa semua pihak termasuk BUMN terkena dampak signifikan akibat pandemi covid-19. Tapi yang terdampak bukan hanya BUMN, swasta terutama UMKM lebih terasa lagi yang sebagian besar tak ada yang menolong.

BACA JUGA: Tiga Pati TNI AL Ini Kompak Menghadap KSAL Laksamana Yudo, Ada Apa?

Dengan stimulus sebesar 152,5 triliun untuk BUMN, apalagi dengan situasi latar belakang Hutang pemerintah kepada BUMN sebesar Rp 108,48 triliun, PMN sebesar Rp 25,27 triliun dan  Bantuan dana talangannya sebesar Rp 19,65 triliun, dalam bentuk jaminan akan semakin menimbulkan kecemburuan dan berbagai persolan kompleks lain di masa akan datang.

"Ini persoalan ke depan akan makin rumit pengendaliannya. Pertama, pengawasan dana jumbo 152,5 triliun, bila DPR saja yang ngawasi, bakalan meleset dimana-mana,” katanya.

Kedua, menurut Nevi, BUMN sebagai regulator sekaligus operator korporasi, menjadi semakin dimanja dan sumber kecemburuan pihak swasta yang hidup, tumbuh dan mati dengan usaha sendiri. Ketiga, rapat yang dilakukan dimasa reses, kemudian menggabungkan antara PMN, PSO dan pembayaran hutang negara menjadi sangat rancu dan menimbulkan kecurigaan.

Anggota Komisi VI yang sangat konsern terhadap pelaku usaha mikro, kecil dan menengah ini menyoroti karena BUMN mendapat berbagai kemudahan APBN.

“Dia (BUMN, regulator, dia juga operator, tetapi masyarakat tidak diberikan kedamaian dalam pelayanannya. Sebagai fakta, sebelumnya persoalan BPJS yang naik hampir dua kali lipat, dan yang akan diterapkan berupa iuran Tapera yang sangat memberatkan pekerja dan Usaha Kecil Menengah,” katanya.

"Kasihan rakyat, kehidupannya diperas dengan regulasi," katanya dengan miris.

Nevi mengatakan, fraksinya menyarankan, kedepannya PMN harus memberikan multiplayer effect. Seleksi dilakukan pada BUMN yang mempunyai manajemen baik dan direksi yang taat pada aturan Undang-Undang sehingga pemberian PMN dapat mencapai hasil maksimal.

Pemberian dana kepada BUMN, yang tidak terkait dengan penanganan wabah Covid-19 dan memprioritaskan penyelamatan Usaha Rakyat Kecil akibat terpuruknya perekonomian di masa pandemi, baik dalam bentuk PMN, Pembayaran Utang maupun Dana Talangan sebaiknya di tunda dulu.

"Pemerintah mesti dapat membuat prioritas dengan dana minim dan ketat APBN. Beban APBN tahun 2020 ini sangat berat. Defisit berjalan saat ini sangat besar dimana hingga April 2020 defisit APBN sebesar Rp 74,5 triliun, setara dengan 0,44 persen terhadap Produk Domestik Bruto. Jangan ceroboh terhadap penggunaan ABPN, karena bila meleset, yang menjadi korban pertama adalah rakyat kecil," tutup Nevi Zuairina.(fri/jpnn)

Jangan Lewatkan Video Terbaru:


Redaktur & Reporter : Friederich

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
DPR RI   Nevi Zuairina   BUMN   Utang  

Terpopuler