Nyawa Bendot Melayang Usai Dilempar Batu

Senin, 27 Mei 2019 – 15:15 WIB
Jalan Gatot Subroto tempat kejadian meninggalnya Bendot. Foto: Radar Solo

jpnn.com, KLATEN - Hendi Aji Santoso alias Bendot, 18, remaja asal Klaten, Jawa Tengah, meregang nyawa karena dilempar batu di ruas Jalan Gatot Subroto, Minggu (26/5) dini hari kemarin.

Suara tangis terdengar menderu di depan Ruang Instalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Moewardi pagi kemarin.

BACA JUGA: Gangguan Jiwa, Anak Gorok Leher Ibu Sendiri dengan Golok

Rohni, 41, ibu Hendi terlihat memendam duka mendalam atas kepergian putranya tersebut. Rohni mengaku hatinya hancur ketika mendapat kabar dari salah satu anggota kepolisian kalau anak keduanya telah meninggal dengan cara cukup tragis.

“Tadi saya ke sini (RSUD Dr Moewardi) diantar sama kakaknya. Sepanjang jalan saya tidak menangis. Dalam hati saya terus berdoa semoga itu bukan anak saya. Sampai di depan saya diantar satpam ke ruang jenazah. Hati saya langsung hancur setelah selimut yang menutupi dibuka ternyata benar itu anak saya Hendi,” ujarnya sambil berurai air mata.

BACA JUGA: Pesawat Dipotong 3 Bagian Terlebih Dahulu, kini jadi Bioskop

BACA JUGA: 50 Pelajar SMP Siap Tawuran Bawa Pedang Saat Sahur

Menurut Rohni, Hendi dikenal sangat perhatian, baik kepada orang tua maupun rekan-rekannya. Bahkan Hendi memiliki rencana untuk membawa Rohni berobat ke rumah sakit karena mengalami gangguan pada telinganya.

BACA JUGA: Ibu Penyeret Balita Pakai Motor Jalani Observasi Kejiwaan

Sabtu (25/6) sekitar pukul 20.00, Rohni menuturkan, anaknya pulang ke rumah setelah bekerja sebagai penjaga rental play station tidak jauh dari rumahnya.  Sampai rumah Hendi langsung ganti baju dan berpamitan untuk menghadiri acara ulang tahun salah satu rekannya.

“Saya tawari makan dulu, tapi dia bilang buru-buru, sudah ditunggu,” tutur Rohni.

Sebelum pergi, Hendi sempat bertanya kepada Rohni, bagaimana kondisi kuping, masih sakit atau tidak. "Saya bilang masih, terus dia bilang yang sabar. Tanggal 3 Juni THR (tunjangan hari raya) turun, nanti diperiksakan ke dokter,” kenang Rohni.

BACA JUGA: Tawuran di Kramat Senen, Seorang Remaja Tewas

Rohni mengatakan, sosok Hendi merupakan anak yang mandiri, bahkan ketika dia tidak bisa membiayai sang anak melanjutkan sekolah ke jenjang SMA karena kondisi ekonomi, Hendi tidak mempermasalahkan hal tersebut. “Terus dia memilih cari kerja,” ujarnya.

Ditanya soal harapannya terhadap kasus ini, Rohni menyerahkan kepada pihak kepolisian. Namun dia juga ingin bertemu dengan para pelaku yang menyebabkan Hendi meregang nyawa.

“Saya mau tanya, kok sampai segitu, salah anak saya apa. Nyawa harus dibayar nyawa,” tegas Rohni. (atn/bun)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ibu Seret Anak Ratusan Meter Menggunakan Sepeda Motor


Redaktur & Reporter : Rah Mahatma Sakti

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
Klaten  

Terpopuler