Pak Ganjar dan Istri Jatuh Cinta pada Wisata Kereta Uap Ambarawa, Pemandangannya Menakjubkan

Sabtu, 26 September 2020 – 15:27 WIB
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan istri di Kereta Uap Ambarawa. Foto : Instagram

jpnn.com, AMBARAWA - Suara suling Kereta Uap Ambarawa nyaring menyambut kedatangan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, Sabtu (26/9) pagi tadi.

Suaranya melengking, disusul semburan uap panas dari lokomotif kereta uap peninggalan Belanda sejak 1898 silam itu.

BACA JUGA: Ganjar Pranowo: Mari Beli Produk Teman Sendiri

Di atas lokomotif B-5112 itu, sejumlah petugas sibuk memasukkan kayu jati ke tungku pembakaran. Dari kayu jati inilah, Kereta Uap Ambarawa bisa berjalan membawa tiga gerbong dengan gagahnya, menembus jalanan dari stasiun Tuntang menuju stasiun Ambarawa Kabupaten Semarang.

"Wah, kita disambut sama suara Kereta Uap, dengar itu suaranya melengking. Ini keren, bisa menjadi destinasi wisata unggulan di Jawa Tengah. Yok kita naik," kata Ganjar mengajak rombongan.

BACA JUGA: 5 Berita Terpopuler: Tsunami Raksasa akan Datang, Prediksi Berakhirnya Covid-19 di Indonesia, Kenangan dengan Ahok

Ganjar yang didampingi istri, Siti Atikoh tampak menikmati perjalanan dengan kereta uap sekitar 30 menit itu. Indahnya pemandangan Rawa Pening menambah romantis suasana.

Sawah-sawah membentang, dengan para petani yang sibuk menyiang rumput dari padi, juga gunung Merbabu dan Telomoyo tampak berdiri kokoh seolah memberikan salam hangat.

BACA JUGA: Dua Ponpes jadi Klaster Covid-19, Pak Ganjar Minta Kegiatan Belajar Ditutup Sementara

"Ini keren, tadi kata pemandunya, wisata kereta api uap ini hanya ada tiga di dunia, yakni India, Swiss dan Indonesia. Maka, ini potensi luar biasa yang bisa terus dikembangkan," ucap Ganjar.

Selain bisa menikmati sensasi menaiki kereta uap bersejarah, pemandangan yang ditawarkan juga sangat memesona. Kereta seolah melintas membelah Rawa Pening dan penumpang bisa melihat dengan bebas karena jendela di gerbong kereta itu terbuka.

"Suasananya begitu eksotis, saya kira ini bisa kita jadikan destinasi unggulan, tentu harus ada perbaikan dan penataan. Kalau ini bisa dijadikan paket wisata, tentu menarik sekali," imbuhnya.


Ganjar sengaja mengajak para peserta Tour de Borobudur menikmati sensasi lain dari event tahunan itu. Jika biasanya peserta hanya gowes di jalan dan hanya bisa menikmati Candi Borobudur, saat ini diberikan tambahan wisata baru.

"Saya pengen berikan suasana lain, karena hampir tiap minggu jalurnya sama, saya ingin mendapatkan suasana berbeda. Saya sengaja ajak peserta naik kereta uap ini, agar mereka yang banyak juga dari luar Jawa Tengah tahu ada destinasi wisata menarik ini," terangnya.

Tentunya, wisata kereta uap di Ambarawa ini lanjut Ganjar masih melakukan pengurangan jumlah wisatawan dan penerapan protokol yang sangat ketat. Sebab, pandemi Covid-19 belum usai.

"Kalau nanti pandemi sudah selesai, silahkan ramai-ramai wisata ke sini," pungkasnya.

Sementara itu, Direktur Operasional Raden Agus Dwinanto Budiadji mengatakan, kereta uap tersebut merupakan peninggalan Belanda sejak 1898. Sampai saat ini, kondisi lokomotif masih asli, dengan penggerak utama adalah uap dari kayu bakar.

"Minat masyarakat untuk menaiki kereta api uap ini sangat tinggi. Karena selain sensasi naik kereta api bersejarah, kami juga menawarkan sensasi pemandangan alam yang sangat eksotis selama perjalanan," ucapnya.

Untuk bisa menaiki kereta uap itu, Agus mengatakan masyarakat harus reservasi dahulu secara online atau datang langsung ke kantor di Lawang Sewu Semarang. Harga sewa menaiki kereta uap itu lanjut Agus mulai Rp10-15 juta.

"Masyarakat juga bisa naik kereta diesel. Kalau naik kereta itu, masyarakat bisa langsung datang ke stasiun Ambarawa dengan membayar tiket Rp50.000. Tapi untuk sementara karena pandemi, wisata itu masih kami tutup," pungkasnya. (flo/jpnn)


Redaktur & Reporter : Natalia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler