Soal Buku "Jokowi Undercover"

Pak Tito Dinilai Pemimpin yang Unik

Rabu, 04 Januari 2017 – 19:15 WIB
Tito Karnavian. Foto: JPNN

jpnn.com - JPNN.com - Direktur EmrusCorner Emrus Sihombing mengatakan Kapolri Jenderal Tito Karnavian pemimpin yang unik. Tito tidak hanya menguasai bidang Polri tapi juga sosok ilmuwan sejati yang menguasai betul filsafat ilmu.

Hal itu dikatakan Emrus menanggapi pernyataan Jenderal Tito yang menyebut penulis buku "Jokowi Undercover" Bambang Tri tidak punya kemampuan melakukan penelitian.

BACA JUGA: Mahfud MD Pengin Punya Buku Jokowi Undercover

Emrus mengatakan, dengan argumentasi akademis, Tito mengemukakan penilaian dari aspek epistemologi (cara memperoleh ilmu dan atau pengetahuan).

"Menurut Pak Tito. Penulis buku "Jokowi Undercover", tidak punya kemampuan penelitian terkait dengan penulisan buku tersebut. Dengan kata lain, penulis buku tersebut belum menyajikan kualitas metodologi penelitian yang digunakan," kata Emrus, Rabu (4/1).

BACA JUGA: Kapolri Buru Oknum di Belakang Layar Jokowi Undercover

Padahal, lanjut Emrus, setiap penulisan buku yang berbasis pada data penelitian harus menyajikan data primer yang diperkuat dengan data sekunder.

Ketika membaca berbagai berita tentang buku "Jokowi Undercover", Emrus menduga perspektif yang digunakan penulis buku tersebut ketika melakukan penelitian, cenderung kualitatif.

BACA JUGA: Polisi Uber Pembantu Pembuatan Buku Jokowi Undercover

Sebagai pendekatan kualitatif, kekuatan topangan data menjadi "tulang punggung" penelitian dan dalam sajian tulisan. Sedangkan teori, konsep dan logika peneliti hanya sebagai pengayaan, bukan utama.

"Artinya, data harus sedalam mungkin, komprehensif dan melalui proses pengujian keabsahan," katanya.

Berdasarkan data yang demikian itu, kata dia, lalu dilakakukan analisis dengan terlebih dahulu mengelompokkan data berdasarkan kategori tertentu. Yakni dengan mencari berbedaan dan persamaan dari perspektif tertentu untuk menarik kesimpulan dalam sebuah konsep tertentu.

"Dalam penelitian kualitatif disebut sebagai proses berfikir induktif menarik abstraksi berupa konsep atau kesimpulan," ujarnya.

Bila proses tersebut diteledani dalam suatu penelitian kualitatif, maka hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan secara akademis. Dengan demikian, data yang disajikan mampu "berbicara" sendiri dan mempersempit ruang bagi penelaah lain menyangkal temuan penelitian.

Sebaliknya, bila prosedur penelitian tidak dilakukan secara ketat, utamanya dalam pengumpulan data dan melakukan proses berfikir ilmiah induktif, maka hasil penelitian pantas diragukan dan berpotensi sesat pikir.

Karena itu, setiap buku yang ditulis berbasis data penelitian, harus bersumber dari data primer dengan dukungan data sekunder.

Sedangkan analisis, pandangan dan penilaian sebagai pengayaan dalam sajian pembahasan. "Bukan sebaliknya," tegas pengajar di berbagai universitas itu.

Sebagai peraih gelar Ph.D dengan predikat magna cum laude, Emrus menilai Tito memberikan contoh pentingnya data dalam suatu penelitian.

"Menurutnya, seseorang disimpulkan sebagai keturunan dari A, harus didukung oleh data primer berupa dokumen, akta lahir, atau sumber pertama orang yang mengetahui," pungkas Emrus.

BACA ARTIKEL LAINNYA... Siapa sih Bambang Tri Mulyono? Oh, Ternyata


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler