Paket Wisata ke Bali Diobral di Tiongkok, Ini Kejanggalannya

Senin, 15 Oktober 2018 – 12:48 WIB
MENUNGGU: Wisatawan asal Tiongkok saat menunggu jemputan di Bandara Ngurah Rai Bali. Foto: Miftahuddin Halim/Radar Bali/JPR

jpnn.com, DENPASAR - Para pelaku bisnis pariwisata di Bali mengeluhkan paket wisata yang dijual murah untuk turis Tiongkok. Bahkan, paket-kaket wisaya di Pulau Dewata itu diobral murah di negeri dengan populasi penduduk terbesar di dunia itu.

Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Bali Elsye Deliana yang membidangi Tiongkok mengatakan, wisatawan dari Negeri Panda itu memang punya antusiasme tinggi berwisata ke Pulau Seribu Pura. Bahkan, kini turis Tiongkok menduduki peringkat pertama jumlah kunjungan wisatawan.

BACA JUGA: Awas, Penjahat Pakai Alat Setrum Sasar Siswi di Jalan Sepi

Namun, di balik itu ada praktik-praktik tak patut lantaran paket wisata ke Bali di Tiongkok dijual dengan harga murah. “Kasarnya begini ya, Bali itu dijual sangat murah di Tiongkok oleh agen–agen tertentu. Sangat murah, bahkan semakin berlomba untuk lebih murah,” ujarnya.

Elsye menuturkan, fenomena itu sudah berlangsung sekitar 2 - 3 tahun. Namun, kini makin parah.

BACA JUGA: Gempa di Situbondo, Pipa PDAM di Bali Bergeser

Menurut Elsye, sebelumnya paket wisata ke Bali dijual Renminbi (RMB) 999 atau sekitar Rp 2 juta di Tiongkok. Paket itu sudah termasuk tiket pesawat pulang pergi, makan dan hotel lima hari empat malam.

“Coba dibayangkan, dengan uang Rp 2 juta orang Tiongkok sudah bisa ke Bali, menginap di Bali lima hari empat malam dan sudah dapat makan,” kata Elsye.

BACA JUGA: Panik Ada Gempa, Dua Ibu Berlari ke Luar Rumah Tanpa BH

Yang lebih parah lagi, katanya, belakangan paket itu dijual lebih murah lagi. Kini turun menjadi RMB 777 atau sekitar Rp 1,5 juta.

Bahkan, kini turun lagi menjadi RMB 499 atau sekitar Rp 1 juta hingga RMB 299 atau sekitar Rp 600 ribu. Karena itu Elsye mengkhawatirkan kualitas layanannya.

“Coba dipikir, dengan Rp 600 ribu bisa dapat tiket ke Bali dan balik lagi ke Tiongkok. Dapat makan dan hotel selama lima hari empat malam. Jadi kualitasnya seperti apa,” tanyanya.

Elsye mengatakan, obral itu memang patut dipertanyakan. “Istilah kami zero tour fee (perjalanan tanpa biaya, red),” sambungnya.

Sedangkan Wakil Ketua Komite Tiongkok ASITA Bali (Bali Liang) Bambang mengungkapkan, ada sejumlah pengusaha dari China yang membangun art shop di Bali. Jumlahnya sudah cukup banyak dan mereka memberikan subsidi wisatawan dengan biaya murah itu ke Bali.

Syaratnya, wisatawan Tiongkok wajib masuk ke toko–toko itu. “Ada subsidi dari art shop besar yang punya beberapa di Bali. Subsidi ini yang bisa membuat harga murah,” ungkapnya.

Selanjutnya, wisatawan Tiongkok membeli barang–barang berbahan lateks seperti kasur, sofa, bantal dan lainnya. Tapi, ada yang janggal dengan belanjaan para wisatawan Tiongkok itu.

“Dengan alasan bahwa Indonesia penghasil karet, sehingga barangnya jauh lebih murah. Padahal barang itu sebenarnya barang buatan Tiongkok juga,” kata Bambang.

Ironisnya,  pembayarannya tidak dengan rupiah. Sebab, pembayarannya sudah melalui sistem elektronik dengan barcode.

“Jadi transaksinya berputar saja, datang ke Bali dari Tiongkok, belanja ke toko Tiongkok, kemudian sistem pembayaran masih ala Tiongkok,” ungkap Bambang.(rb/feb/mus/JPR)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kisah Ipda Eka Pasang Pangkat Baru di Pusara Istrinya


Redaktur & Reporter : Antoni

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler