Pandemi Corona, Indonesia Masih Mampu Ekspor Produk Samping Jagung

Jumat, 20 Maret 2020 – 15:26 WIB
Jagung yang siap dipanen. Foto: Humas Kementan

jpnn.com, CILEGON - Ekspor sektor pertanian masih menunjukkan tren positif di tengah lesunya ekonomi akibat mewabahnya virus corona. Salah satu contohnya, ekspor 126 ton produk turunan jagung (Corn Gluten Meal/CGM) ke Vietnam.

"Secara teknis ekspornya telah memenuhi persyaratan negara Vietnam. Kami juga berikan kemudahan dalam pelayanan sertifikasi," jelas Kepala Karantina Pertanian Cilegon, Raden Nurcahyo di ruang kerjanya, Cilegon, Banten.

BACA JUGA: Bea Cukai Jateng DIY Terus Berikan Fasilitas Kawasan Berikat untuk Dorong Investasi dan Ekspor

Sertifikat Kesehatan Tumbuhan atau Phytosanitary Certificate (PC) diberikan setelah produk ekspor senilai Rp 1 miliar ini melewati proses pemeriksaan dan karantina tumbuhan.

Sejalan dengan kebijakan Menteri Pertanian untuk mendorong peningkatan nilai ekspor pertanian dengan memberikan kemudahan dan kecepatan layanan, Karantina Pertanian Cilegon lakukan layanan pemeriksaan di gudang pemilik atau inline inspection.

BACA JUGA: Program Jangka Panjang Kementan Dinilai Menjanjikan Akademisi

Layanan ini selain untuk mempercepat proses muat barang di pelabuhan atau stuffing, juga untuk meningkatkan akurasi pemeriksaan. Sehingga proses sertifikasi dapat berjalan dengan cepat dan akurat sehingga dapat meningkatkan daya saing bagi komoditas yang diekspor.

Menurut Raden, pasar untuk komoditas ekspor ini selain Vietnam juga banyak diekspor ke Thailand dan India. CGM merupakan limbah jagung dari proses penggilingan jagung secara basah dari jagung yang digunakan dalam industri tepung jagung dan syrup.

BACA JUGA: Kementan Pastikan Ketersediaan Komoditas Jelang Puasa dan Lebaran Aman

CGM berbentuk serbuk atau bubuk, dengan warna kuning segar hingga coklat cerah. Umumnya sebagai pakan ternak dengan kandungan energi, protein, asam-amino, xantophyll, vitamin dan mineral, papar Raden.

"Data sertifikasi ekspor produk ini sepanjang 2019 tercatat sebanyak 5,5 ribu ton dengan nilai ekonomi Rp. 22,9 miliar, namun harus diakui wabah corona sedikit menurunkan volumenya saat ini, tutup Raden.(ikl/jpnn)


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler