Pecah Usai Pilpres, Venezuela Jadi Mainan AS dan Rusia

Kamis, 17 Januari 2019 – 17:42 WIB
Pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido. Foto: Al Jazeera

jpnn.com, KARAKAS - Amerika Serikat (AS) dan Rusia terlibat dalam pusaran krisis politik dalam negeri Venezuela. Negara beribu kota Karakas itu tampaknya akan jadi arena terbaru bagi persaingan kedua negara

Kemarin, Rabu (16/1) Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengkritik AS yang berpihak kepada kubu oposisi Venezuela. Dukungan Washington itu, menurut Moskow, merupakan salah satu bentuk intervensi.

BACA JUGA: FBI Curiga Donald Trump Antek Rusia

"Itu bukti bahwa AS menganggap remeh pemerintahan negara lain," ungkap Lavrov sebagaimana dilansir Reuters. Apalagi, Wakil Presiden AS Mike Pence juga sempat menghubungi kubu oposisi Venezuela pada Rabu (16/1).

Politik Venezuela memang kian terbelah pascadeklarasi Juan Guaido, ketua parlemen, sebagai presiden sementara pada masa transisi. Sejak awal Januari, parlemen Venezuela memang menyebut negaranya berada dalam masa transisi. Sebab, oposisi yang menguasai parlemen tidak mau mengakui Nicolas Maduro sebagai presiden.

BACA JUGA: Raja Agong Hilang di Balik Ratu

Oposisi yakin kubu petahana mencurangi pemilihan presiden (pilpres) Mei lalu. Karena itu, mereka tak mau menerima kemenangan Maduro.

Pelantikan presiden baru pada 10 Januari juga membuat mereka berang. Parlemen pun lantas mendaulat Guaido sebagai presiden tandingan.

BACA JUGA: Maduro Presiden Lagi, Venezuela Bakal Dikucilkan

"Saat ini Venezuela berada dalam krisis terbesar sepanjang sejarah," ujar Guaido dalam wawancara dengan Washington Post.

Setelah mendeklarasikan diri sebagai presiden sementara dan menyebut Venezuela berada pada masa transisi, politikus 35 tahun itu sempat ditangkap polisi. Tapi, dia lantas dibebaskan pada hari yang sama.

"Tujuan kami jelas. Kami ingin menghentikan perampasan kekuasaan. Karena itu, kami perlu dukungan rakyat, militer, dan sekutu kami," papar Guaido. Secara konstitusi, yang bisa terjadi selanjutnya di Venezuela adalah pilpres ulang.

Namun, itu hanya bisa terjadi jika pemerintahan Maduro memberikan lampu hijau. Sebab, untuk mewujudkan pilpres ulang, komisi pemilu pun harus memberikan rekomendasi. Padahal, pascapilpres, komisi tersebut sudah mengumumkan kemenangan Maduro secara sah.

Meski mendapat dukungan penuh kubu oposisi, upaya Guaido menggulingkan Maduro hanya akan terwujud dengan bantuan militer. Dan, upaya menggaet militer jelas tidak mudah.

Sementara itu, negara-negara tetangga cenderung mendukung Guaido. Langkah yang kini sedang dipertimbangkan adalah mengirimkan personel militer ke Venezuela. (bil/c10/hep)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Bayi Ajaib Hebohkan Rusia


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler