Pemain Bintang Pulang Kampung, Jadi Ajang Bermaafan

Kamis, 23 Agustus 2012 – 07:00 WIB
Foto: JPPhoto
WARGA Desa Tulehu, Maluku Tengah, dikenal gila bola. Bahkan, Lebaran dirayakan dengan mengadakan pertandingan sepak bola. Pemain-pemain bintang asal desa tersebut rela pulang kampung untuk meramaikan hajatan itu.
-----------------
M. DINARSA KURNIAWAN, Maluku Tengah
-----------------
Ribuan orang memadati Lapangan Matawaru di Desa Tulehu. Tribun berkapasitas 500 orang penuh sesak. Ribuan lainnya meluber hingga mengelilingi lapangan. Mereka begitu antusias menyaksikan pertandingan ekshibisi Lebaran antara Tulehu All-Star melawan Nusaina FC, klub Divisi III PSSI yang promosi ke Divisi II.

Laga ekshibisi itu digelar mulai hari pertama Lebaran (19/8) sampai 23 Agustus. ”Pemain yang pulang kampung 28 orang,” ujar Sofyan Lestaluhu, ketua panitia. ”Setiap hari ada dua pertandingan. Jadi, selama lima hari, ada sepuluh pertandingan. Pemain-pemain itu bertanding setiap hari,” tambahnya.

Lelaki yang juga mantan pemain klub Persijatim Jakarta Timur itu mengatakan, laga ekshibisi Lebaran tersebut berlangsung sejak 15 tahun lalu. Kala itu pemain asal Tulehu yang tengah berjaya, antara lain, Mustafa Umarella dan Ibrahim Lestaluhu. Sejak saat itu rangkaian pertandingan untuk merayakan Idul Fitri tersebut menjadi tradisi di Tulehu.

Para pemain asal Tulehu yang sukses di belantika sepak bola nasional ikut meramaikan perhelatan itu. Di antaranya adalah Ramdani Lestaluhu, Hasim Kipuw (keduanya Persija ISL), dan Hendra Adi Bayauw (Persija IPL). Ketiganya berstatus pemain tim nasional. Selain itu, ada nama Rahel Tuasalamony (Perseman Manokwari), Ricky Ohorella (Semen Padang), dan Rizky Pellu (alumnus SAD Uruguay, sekarang di Persis Solo). Mereka memperkuat tim Tulehu All-Star.

Kehadiran mereka mengundang antusiasme warga. Alhasil, selama seminggu penuh, lapangan itu selalu dipadati warga yang menonton pertandingan.

Sofyan mengatakan, pertandingan tersebut memang dilaksanakan guna merayakan Lebaran sekaligus sebagai media untuk bersilaturahmi antar sesama warga desa. ”Mayoritas warga di sini pasti datang ke lapangan kalau ada pertandingan sepak bola. Jadi, bisa sekalian bermaaf-maafan,” ucap lelaki yang juga ketua Bidang Pembinaan Usia Dini Pengprov PSSI Maluku itu.

Tujuan lain diselenggarakannya pertandingan tersebut adalah menjalin persahabatan antar penggemar sepak bola. Karena itu, mereka selalu mengundang tim-tim lain dari luar Tulehu. Yang turun bermain pun bukan hanya bintang-bintang yang kini masih berstatus pemain. Para pensiunan pemain sepak bola pun tak mau kalah. Mereka yang rata-rata sudah berusia di atas 40 tahun setiap hari juga bertanding.

Misalnya, tim Tulehu Old Star bersua PSA (Persatuan Sepak Bola Ambon) Old Star pada hari Lebaran kedua (20/8). Nama-nama yang dahulu pernah tenar memperkuat Tulehu Old Star. Sebut saja, Aji Lestaluhu, Rivai Lestaluhu, dan Muhtadi Lestaluhu. Sedangkan PSA diperkuat Jemi Puttiray, kakak striker legendaris Rochy Puttiray.

Meski hanya ekshibisi, para pemain mempertontonkan seluruh kemampuannya. Baik yang tua maupun yang muda. Bagi para pemain itu, bertanding pada hari Lebaran sudah menjadi semacam tradisi. ”Ini adalah wujud penghormatan saya pada Negeri Tulehu, tempat saya tumbuh dan dibesarkan. Kalau pulang kampung tapi tidak main, malah rasanya tidak lengkap,” ucap Ramdani Lestaluhu.     

Dia menambahkan, pertandingan tersebut menjadi momen yang langka. Sebab, itu adalah waktu kala mereka bisa berkumpul dan bermain bersama. Bukan hanya itu. Saat itu mereka juga bisa berbagi teknik dan informasi lain antar sesama pemain asal Tulehu di perantauan. Pun, ajang untuk membagi ilmu kepada para junior mereka yang masih di kampung halaman.

Di luar Lebaran, mereka sangat sulit untuk saling berjumpa. Mereka hanya bersua kala tim yang mereka bela berjumpa di kompetisi.

Ramdani mengatakan, ada semacam kebiasaan antarpara pemain bola asal Tulehu. Yakni, yang sedang menjadi tuan rumah wajib mengajak jalan-jalan setelah pertandingan. Pesepak bola 20 tahun itu beruntung. Sebab, di timnya masih ada Hasim Kipuw yang tak lain adalah kawan sedesanya. Selain itu, ada Hendra Bayauw yang juga membela klub Jakarta.

Tulehu dikenal sebagai desa sepak bola. Desa yang terletak 25 kilometer sebelah utara Kota Ambon, ibu kota Provinsi Maluku, itu mendapatkan julukan Brasil-nya Indonesia. Maklum, dari desa di Kecamatan Salahutu tersebut, muncul sejumlah nama tenar yang menghiasi panggung sepak bola nasional.

Bakat-bakat baru tak pernah kering alias sambung-menyambung bermunculan dari desa tersebut. Abdul Rahman Nahumarury, anggota DPRD Kabupaten Maluku Tengah yang lahir dan besar di Tulehu, menuturkan, sepak bola adalah kultur yang tidak bisa dipisahkan dari penduduk desa tersebut.

Merunut pada akar sejarah, warga Tulehu mengenal sepak bola sejak 1940-an, kala para pelaut desa itu yang pernah merantau ke Singapura dan Amerika Serikat (AS) pulang kembali ke tanah kelahiran mereka. ”Di sini juga ada tradisi saat bayi akikah, selalu disertakan rumput lapangan. Mungkin itu juga yang membuat anak-anak Tulehu punya bakat alami,” terang fans berat FC Barcelona tersebut, lantas tertawa.

Lelaki 49 tahun itu menyebut, kegilaan warga Tulehu akan sepak bola sudah pada tahap ”akut”. Perempuan di sana tak kalah fanatik. Kalau ada pertandingan, mereka ikut nonton. Kalau tim asal Tulehu berlaga, walau sampai ke luar desa pun, ibu-ibu beserta anak-anaknya mendampingi.

Kala Maluku diguncang konflik antaragama beberapa tahun lalu, yang mengakibatkan aliran listrik sering terputus, warga Tulehu nekat pergi ke desa lain yang listriknya menyala demi menyaksikan tayangan sepak bola di layar kaca. (*/c10/ca)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Menelusuri Sisa-Sisa Kejayaan Lan Fang, Republik Pertama di Indonesia (1)

Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler