Pemerintah Pusat Ingin Terlihat sebagai Dewa Penolong Honorer K2

Sabtu, 06 April 2019 – 07:03 WIB
Massa honorer K2 menggelar aksi unjuk rasa di depan Istana Negara, Selasa (30/10). Foto: Ricardo/ JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Sejumlah pentolan honorer K2 menilai rekrutmen PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) dari honorer K2 terlalu dipaksakan demi kepentingan meraup dukungan di Pilpres 2019.

Rekrutmen tahap satu yang buru-buru dan tanpa perencanaan, mengorbankan honorer K2 serta pemda yang harus menanggung gaji PPPK.

BACA JUGA: Akan Ada MoU Honorer K2 dan Jokowi di Silatnas? Apa Isinya?

"Kami melihat presiden, MenPAN-RB dan BKN tengah bersandiwara. Rekrutmen PPPK tahap satu dipaksakan tuntas sebelum pilpres, karena ingin membuat K2 tenang dan berpihak kepada pemerintah," kata Koordinator Wilayah Perkumpulan Hononer K2 Indonesia (PHK2I) Maluku Utara Said Amir kepada JPNN, Sabtu (6/4).

Said membeberkan, sejak awal, skenario politik sudah terbaca saat PP 49/2018 tentang Manajemen PPPK ditetapkan akhir tahun lalu.

BACA JUGA: Garda SOKSI Kerahkan Kader dalam Kampanye Jokowi

BACA JUGA: Akan Ada MoU Honorer K2 dan Jokowi di Silatnas? Apa Isinya?

Kemudian selang sebulan langsung dibuka rekrutmen PPPK tanpa ada regulasi. Regulasi ditetapkan beberapa hari setelah rekrutmen dibuka.

BACA JUGA: Generasi Muda Masyumi Dukung Jokowi - KH Ma’ruf Amin

Sandiwara terus berlangsung ketika proses pendaftaran PPPK juga dipaksakan dimulai, tanpa kesiapan pemda. Alhasil rentang waktu pendaftaran sangat sempit sehingga merampas hak-hak honorer K2. Yang harusnya sepekan, jadi 2-3 hari karena pemda terlambat membukanya.

Parahnya, ketika pemerintah berupaya tepat jadwal pendaftaran dan tes, pengumuman justru molor. Mestinya kata Said, pendaftaran yang diperpanjang bukan pengumuman. Sebab, bisa saja timbul multitafsir.

"Kelihatan sekali kalau pemerintah tengah bermain sandiwara. Pusat seolah-olah ingin terlihat sebagai dewa penolong, sementara pemda sebagai tertuduh. Karena pusat mengalihkan semua tanggung jawab ke pemda," tuturnya.

Said menyarankan pemerintah pusat berhenti bersandiwa. Jangan menunggu banyak kepala daerah masuk bui karena memenuhi hasrat politik pemerintah.

BACA JUGA: Semangat Gelar Silatnas Honorer K2 dengan Presiden Jokowi, Kapan sih?

Senada itu Korwil PHK2I Sulawesi Selatan Sumarni Azis mengatakan, saat ini pemda belum berani mengumumkan karena dana tidak punya. Konsekuensi pengumuman adalah Pemda sudah siap menggaji PPPK.

"Aduh, kami terus dipertontonkan dengan dagelan politik pemerintah. Kami ini bukan kaum bodoh. Kami sudah paham ini hanya untuk membujuk honorer K2. Kenapa enggak diumumkan saat pencoblosan 17 April saja," tandasnya. (esy/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Bambang Gerindra Janji Tinggalkan DPR Jika Prabowo Bohongi Honorer K2


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler