Penembak Polisi di Tol Cipali Diduga Teroris

Sabtu, 25 Agustus 2018 – 23:10 WIB
Sebuah mural yang menentang aksi terorisme terlukis di pinggir Jalan Raya Ngagel, Surabaya, Rabu (16/5). Foto: Hanung Hambara/Jawa Pos

jpnn.com, JAKARTA - Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane menilai kasus penembakan terhadap dua polisi di tol Cipali, Cirebon, Jawa Barat, adalah modus kejahatan baru yang sangat sadis.

Dia menegaskan bahwa Polri perlu mengantisipasi modus kejahatan ini agar tidak berulang dan membuat anggota kepolisian menjadi "mati konyol" saat bertugas.

BACA JUGA: Polisi Memburu Penembak Dua Anggota PJR di Tol Cipali

Meskipun kedua polisi tersebut hanya luka berat, IPW berharap Polri segera menata sistem perlindungan terhadap anggotanya saat bertugas di lapangan.

Menurutnya, dengan melihat kasus penembakan di Tol Cipali ini, sudah saatnya Polri melengkapi mobil patrolinya dengan alat deteksi senjata jarak jauh atau dalam radius tertentu.

BACA JUGA: Arus Balik di Tol Cipali, Ribuan Personil Polisi Diterjunkan

Dengan begitu saat menemukan pihak yang mencurigakan, sebelum melakukan pemeriksaan atau penggeledahan, petugas patroli sudah mengetahui, apakah orang yang dicurigai itu memiliki senjata atau tidak.

"Dengan demikian petugas kepolisian bisa lebih prepare dalam menghadapi situasi dan tidak "mati konyol" dalam menghadapi penjahat-penjahat yang nekat," kata Neta, Sabtu (25/8).

BACA JUGA: Kemenhub Beri Beasiswa 2 Keluarga Korban Petugas Tol Cipali

IPW mendata ada tiga kelompok yang sering membunuh polisi di lapangan. Yakin, penjahat jalanan, bandar narkoba, dan teroris.

Penjahat jalanan dan bandar narkoba, biasanya membunuh polisi karena dalam kondisi terjepit. Mereka menembak polisi saat digerebek atau saat hendak ditangkap.

"Belum pernah ada satu kasus pun, penjahat jalanan atau bandar narkoba serta merta tanpa alasan yang jelas menembak atau membunuh polisi," jelasnya.

Kasus penembakan yang serta merta tanpa alasan jelas hanya dilakukan para teroris terhadap anggota kepolisian.

Kasus terakhir terjadi di Jember tahun lalu. Selain itu, beberapa kali polisi yang sedang bertugas diserang teroris dengan serangan bom bunuh diri.

"Jadi, melihat serangan di Tol Cipali patut diduga, pelakunya adalah teroris," kata Neta.

Sepertinya, lanjut Neta, mereka sengaja berdiri di pinggir tol agar polisi patroli datang, kemudian mereka menembaknya di bagian vital yang mematikan.

Jika dikaitkan dengan travel warning Australia pekan lalu, ujar dia, sepertinya kasus penembakan di Tol Cipali ini sebuah sinyal peringatan akan adanya serangan berikutnya.

Untuk itu Polri perlu mengantisipasi jaringan teroris pascaserangan di Tol Cipali. Polri tidak boleh lengah mengingat banyaknya orang asing yang mengikuti Asian Games.

"Selain itu, sudah saatnya Polri melengkapi mobil patrolinya dengan detektor senjata jarak jauh agar petugasnya di lapangan bisa lebih terlindungi saat bertugas," katanya. (boy/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tangani Kendaraan Mogok, Petugas Tol Ditabrak Hingga Tewas


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler