Pengalaman Ulama Suni 'Belajar' di Komunitas Syiah Iran (1)

Kaligrafi Indah Itu Ternyata Pelaris Dagangan

Jumat, 03 September 2010 – 08:08 WIB
Prof Dr M. Ali Aziz (kiri) di depan Masjid Shah dengan desain tanpa atap yang setelah Revolusi Iran kini diganti namanya menjadi Masjid Khumeini. Foto : M. Ali Aziz for Jawa Pos

jpnn.com, TEHERAN - Untuk yang ketiga, Prof Dr MohAli Aziz MA, guru besar Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya, diundang ke Iran untuk menjadi imam Tarawih dan narasumber kajian Islam selama Ramadan

BACA JUGA: Setengah Suni Setengah Syiah

Berikut catatan perjalanannya dari negeri berpaham Syiah itu yang ditulis dari Teheran.
            
=============

"SALOM, salom,"  teriak anak berusia sekitar sepuluh tahun sambil berjalan tergesa-gesa

Kaki kecilnya beringsut di tengah jamaah yang baru selesai salat Duhur di Masjid Hadharat Qaim, kira-kira 50 meter dari Wisma Kedutaan Besar Republik Indonesia Teheran, tempat saya tinggal

BACA JUGA: Taliban Serang Pasar Buah Langganan Warga Syiah, Banjir Darah

Inilah hari pertama Ramadan (11/8) sekaligus salat Duhur berjamaah pertama pada kunjungan ketiga saya di Teheran.

Masyarakat Iran lebih terbiasa dengan ucapan salom daripada  assalamualaikum  seperti di Indonesia

Bocah berhidung mancung dengan celana panjang dan kaus bergaris itu terlambat datangSeharusnya dia bertugas sebagai "remote" salat  DuhurKarena terlambat, dia baru melaksanakan tugasnya untuk salat Asar yang selalu dikerjakan satu waktu dengan Duhur (Demikian juga, salat Isya di sana dikerjakan secara berjamaah pada waktu magrib). 

Bocah itu langsung memegang mikrofonDia berdiri tiga meter sebelah kanan imam"Allahu Akbar," komando sang bocah kepada jamaah di belakangnya, segera setelah imam yang mengenakan pakaian kebesaran jubah cokelat tua dan serban putih memulai salatDemikian seterusnya untuk komando rukuk, sujud, iktidal, dan sebagainya.

Pada rakaat kedua salat jamaah itu, saya keliru memahami komandoSebelum rukuk, terdengar komando takbirSaya langsung rukuk sebagaimana biasa saya lakukanTernyata itu komando doa kunutBaru takbir berikutnya, komando rukuk.

Dalam perjalanan pulang dengan udara panas yang sampai membuat hidung keluar darah, saya berkata dalam hati, "Hebat benar, seorang bocah bisa memberi komando sang syekh." Yang menarik, meski memberikan komando, dia tidak ikut salatBocah "remote" itu baru salat "sendirian" setelah salat jamaah usai.
   
Tidak selalu "remote" salat jamaah adalah anak-anakDi Masjid Jamik Imam Shodiq Alaihissalam di Aqdasiyeh Street Teheran, komando salat diucapkan orang dewasa yang duduk persis di depan imam salatDengan celana dan baju lengan panjang yang disingsingkan sedikit dan tanpa tutup kepala, dia memberikan komando dengan suara mantap.
   
Masyarakat Iran tidak biasa menggunakan tutup kepala saat salat di masjidHanya imam yang menggunakan tutup kepala dengan serban hitam atau putihSerban hitam sebagai tanda bahwa dia sayyid (keturunan nabi) dan warna lainnya bukan sayyid.

Saya memang sering terlihat asing bagi jamaah lainnyaBukan hanya karena baju dan kulit saya, tapi juga karena cara beribadah saya yang non-SyiahSejak wudu saja, saya sudah dipandang anehBagi penganut Syiah, membasuh tangan untuk berwudu tidak boleh dengan membasahinya di bawah pancuran keran, tapi dengan cakupan tanganSisa air dari tangan itu lalu diusapkan sedikit di kepala dan sedikit di kakiJadi, tanpa mengusap telinga dan tanpa membasuh kakiDalam buku Amozes Namaz (petunjuk salat) yang saya beli di Bazar Bozorge (Pasar Besar), ternyata memang demikian aturan wudu.

Ketika masuk masjid, saya juga asingMereka mengambil turbah  (tanah bulat atau persegi empat dari tanah "suci" Karbala, tempat cucu nabi sekaligus anak Ali bin Abi Thalib meninggal) yang tersedia di rak pintu masjid untuk alas sujud, sedangkan saya ngeloyor begitu sajaApalagi sewaktu berdiri salat, hanya saya yang bersedekapJamaah lain membiarkan tangan lurus ke bawah. 

Kekakuan di tengah jamaah itu segera cair setelah Karami, warga Iran yang lebih dari 15 tahun menjadi staf lokal KBRI, yang mendampingi saya, menjelaskan kepada jamaah bahwa saya sedang belajar tentang Syiah dan masyarakat IranPaham Syiah memang amat kental bagi masyarakat IranBerkali-kali saya bertemu orang dan ditanya dengan pertanyaan yang sama: Dari negara mana, penganut Syiah atau tidak, dan ketika saya menjawab Suni, mereka bertanya pengikut mazhab apa?
   
Pada Ramadan hari ketiga, saya salat Duhur didampingi Choiruddin, pelajar Indonesia yang sudah tiga tahun belajar di Iran, di Haram Muthahar Imam Khumeini (masjid dan makam Imam Khumeini)"Jika ditanya orang, Pak Ustad sebaiknya menjawab saya pengikut Suni bermazhab Imam Syafii,"  pesan Choiruddin.

Benar kata ChoiruddinBeberapa menit kemudian, dua orang berpakaian rapi dan berjas menghampiri sayaMereka mengajukan pertanyaan yang samaDengan bahasa Arab yang lumayan fasih, dua orang itu berbicara sangat sopan dan toleran terhadap kami yang SuniBahkan, keduanya "orang kampus sekaligus penghafal Alquran" menyebut beberapa kebaikan Imam Syafii.

Sekalipun ulama Suni, Imam Syafii sangat dicintai penganut SyiahBanyak penduduk Iran yang bernama Syafii"Jika bukan orang kampus, Pak Ustad pasti diceramahi panjang lebar, yang intinya ajakan untuk meninggalkan paham nenek moyang yang tidak benar dan mengikuti Syiah,"  kata Choiruddin setelah mengucapkan Khoda hafez (Tuhan menjagamu) sebagai ucapan perpisahan kepada keduanya.
   
Hampir semua masjid di Iran yang saya kunjungi dihias dengan kaligrafi yang sangat indahJangankan masjid, tembok-tembok rumah dan kantor pun berhias kaligrafiPada mihrab Masjid Jamik Imam Shodiq Alaihissalam, misalnya, terdapat kaligrafi  surat An-Nur ayat 35,  "Allah adalah (pemberi) cahaya langit dan bumi..."Mengapa ayat itu yang dipilih? Bagi mereka, ayat itu ada kaitannya dengan kedudukan para imam SyiahCahaya Allah hanya bisa terpancar di langit dan bumi melalui para imam.

Terdapat juga doa dalam kaca dan berlampu yang menggambarkan penantian akan datangnya Imam Mahdi yang sedang dirindukan sebagai pemberi solusi semua masalah kehidupanSebutan untuk imam yang dinantikan itu bermacam-macam.  Ada kalanya dipanggil Wali Ashr, Imam Zaman, Shahibuz Zaman, atau Mahdi al Muntadhar.

Setiap usai salawat nabi dengan lagu yang khas, baik sewaktu mendengar azan maupun selesai salat, mereka selalu menambah dengan doa wa"ajjil farajahum (wahai Allah percepatkan selesainya semua masalah umat dengan kehadiran Mahdi al-Muntadhar)Ada juga doa yang terpampang di tembok, Ya shahibaz Zaman adrikni  (Wahai Imam yang ditunggu, beri saya jalan keluar).

Ada juga kaligrafi yang dipasang di hampir semua toko yang terkenal dengan sebutan kaligrafi  Waiy YakadSebutan itu terkait dengan bunyi awal ayat yang ada dalam kaligrafi tersebut, yaitu Surat Al-Qalam ayat 51, yang artinya  "Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka tatkala mereka mendengar Alquran".
   
Pada Ramadan dua tahun yang lalu, saya sudah membeli kaligrafi itu karena indah dan sangat populerMelihat artinya, saya menduga ayat tersebut untuk penangkal kejahatanNamun, baru pada kunjungan kali ini saya menemukan jawabannya bahwa itu adalah kaligrafi "pelaris dagangan".

"Masyarakat Iran yang terkenal cerdas ternyata juga menyukai jimat," kata saya kepada Buyuk, warga Iran yang bertugas sebagai sopir di KBRIMendengar kelakar saya itu, dia hanya tersenyum. 

Dadan Maula, ketua Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) di Iran, punya pandangan menarik tentang fenomena tersebut"Bahkan,  "jimat" yang banyak beredar di masyarakat Indonesia ada kaitannya dengan budaya dan keyakinan orang Iran, Pak," katanya setelah sama-sama mengikuti upacara memperingati kemerdekaan ke-65 RI di Teheran.

Dia menunjukkan beberapa bukti, antara lain, gambar pedang pada jimat di JawaGambar itu diduga kuat adalah gambar pedang Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang juga sangat populer di Iran.  Kaligrafi berbentuk kepala singa yang banyak kita jumpai di Indonesia juga sangat mungkin dari IranSebab, gambar tersebut juga ada di bendera Iran pada zaman pemerintahan Shah PahleviOrang Iran menyebut gambar itu dengan shir va khurshid (harimau dan matahari).

Saat berada di pasar dekat masjid, saya ditawari Buyuk yang sudah lansia itu untuk membeli tasbih zahra untuk oleh-oleh"Tasbih apa lagi," pikir sayaSaya menduga tasbih (alat penghitung zikir) itu terbuat dari bunga karena zahra dalam bahasa Arab berarti bungaSetelah masuk toko, ternyata itu tasbih biasa seperti yang banyak dijumpai di Indonesia.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa orang Iran menyebut itu dengan tasbih zahraTernyata, karena orang Iran menggunakan tasbih selain untuk berzikir subhanallah, alhamdulillah, dan Allahu Akbar, juga untuk memanggil-manggil imam atau orang suci pujaan merekaYa Zahra  (gelar untuk Fatimah, putri Rasulullah, istri Ali bin Abi Thalib) atau Ya Husein (cucu nabi, putri Fatimah) atau Ya Abal Fadhal (imam atau pejuang yang terpotong-potong tubuhnya karena membela Imam Husein di Karbala).

Sebelum keluar dari toko, pemilik toko mengangkat  tangan saya sambil mengatakan dengan bahasa Persia,  Andunezi khaeli khubeBa Iran Israel ra ruswa kunim (Indonesia sangat baik, bersama Iran, kita tumpas Israel?"BaleMamnun," jawab saya, yang berarti, ya dan terima kasih.

Saya tidak tahu dia paham atau tidak terhadap jawaban sayaTapi, yang jelas, dia kemudian mengangkat kedua ibu jari tangannya (Jika hanya mengangkat satu ibu jari, itu berarti penghinaan di Iran)Tapi, karena sudah menjadi kebiasaan, saya sering keliru memuji orang dengan satu ibu jari(bersambung)


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
Syiah   Ramadan   Iran   dakwah  

Terpopuler