Pengembangan Bandara Silangit Dipaksakan, Hasilnya Mengejutkan

Kamis, 25 Agustus 2016 – 00:54 WIB
Menteri Perhubungan Budi Karya (kanan) berbincang dengan Direktur Utama Jawa Pos Group (JPG) Suhendro Boroma dan sejumlah jajaran pimpinan JPG lainnya di Kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Selasa (23/08/2016). Foto: Imam Husein/Jawa Pos

jpnn.com - JAKARTA – Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengatakan, dirinya bekerja berdasar program prioritas yang dicanangkan Presiden Joko Widodo, yang tertuang dalam Nawa Cita.

Poin pertama Nawa Cita, kata Budi Karya Sumadi, intinya adalah bagaimana agar masyarakat merasakan kehadiran negara.

BACA JUGA: Tahun Depan, BNN Provinsi Gorontalo Dibentuk

“Presiden kita sangat simple, tapi memberikan landasan yang kuat bagi perubahan bangsa ini. Nawa Cita itu sederhana, tapi implementasinya memang tidak sederhana. Itu tantangan, bagaimana negara terasa hadir di tengah-tengah masyarakat,” ujar Budi Karya Sumadi, saat menerima sejumlah pimpinan media massa Jawa Pos Group, yang dikomandani Direktur Utama Jawa Pos Group (JPG) Suhendro Boroma di Kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Selasa petang (23/8).

Dalam bidang perhubungan, menghadirkan negara di tengah masyarakat, lanjut Budi, berarti harus membangun infrastruktur pelabuhan, bandara, kereta api, dan sarana-sarana pendukung lainnya.

BACA JUGA: Kekeringan Melanda, Air Bersih Mulai Langka

Budi yang kini nonaktif sebagai Dirut PT Angkasa Pura II (Persero) itu mengatakan, pembangunan infrastruktur dimaksud akan sangat mendukung program andalan pemerintahan Jokowi-JK lainnya, yakni menggenjot kunjungan wisatawan asing.

Dia membri contoh pengembangan Bandar Udara Silangit di Tapanuli Utara, Sumut. Dilihat dari sisi bisnis, Bandara Silangit tidak layak untuk dikembangkan. Namun, karena sudah menjadi komitmen Presiden Jokowi, bandara tersebut akhirnya dikembangkan.

BACA JUGA: Geger, Pria Dua Anak Tewas Tergantung

“Presiden Jokowi sudah berkali-kali mengatakan, untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Danau Toba, harus allout. Dari bandara yang sebelumnya tidak layak dilandasi pesawat, lantas kita bangun. Kita setengah memaksakan. Tapi ternyata, hasilnya mengejutkan, penumpang naik lima hingga enam kali lipat di Bandara Silangit,” ujar Budi.

Begitu juga untuk Bandara Internasional Sam Ratulangi, Manado. Di saat kunjungan wisatawan membludak, maka dia langsung membuat keputusan cepat. “Saya langsung minta penerbangan 24 jam (di bandara Sam Ratulangi, red),” ujar Budi.

Banyak hal disampaikan Budi dalam pertemuan hangat itu. Mulai masalah menggeliatnya wisatawan di Labuan Bajo, NTT, setelah dikembangkannya Bandara Komodo. Juga bandara di Balikpapan untuk mendongkrat jumlah kunjungan,  pengembangan bandara di Jogjakarta, dan Semarang, dan beberapa rencana strategis lainnya.

“Semua merupakan tugas-tugas menantang, yang harus dikerjakan secara riil agar masyarakat merasakan langsung kehadiran negara,” ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Suhendro Borama mengatakan, maksud kedatangannya semata untuk silaturahmi. Namun, tak lupa Suhendro menyampaikan apreasiasi atas gebrakan Budi saat masih aktif sebagai Dirut AP II.

Suhendro menyebut Terminal III Ultimate Bandara Soekarno-Hatta cukup megah, bahkan fasilitasnya mengalahkan beberapa negara lain di dunia. Megah, membanggakan.

“Terminal III Bandara Soekarno-Hatta merupakan sesuatu yang membanggakan bangsa ini. Kami akan tunggu langkah-langkah berikutnya dari Bapak Menteri yang bisa membanggakan bangsa ini, kami akan memberikan dukungan,” ujar Suhendro. (sam/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Lihat nih, Kondisi Kembar Siam Rahma-Rahmi Membaik


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler