Pengembangan Green Energy Pertamina Kurangi Pemanasan Global & Perubahan Iklim, Harus Kita Dukung

Selasa, 01 November 2022 – 10:34 WIB
PT Pertamina (Persero). Foto: dok Pertamina

jpnn.com, JAKARTA - Pakar kesehatan lingkungan Universitas Indonesia Profesor Budi Haryanto mendukung upaya Pertamina dalam mengembangkan green energy.

Menurut Budi, green energy akan mengurangi pemanasan global dan perubahan iklim.

BACA JUGA: Kemenkominfo Ajak Warga Bandung Hijrah ke TV Digital

Adapun alokasi anggaran yang disiapkan Pertamina untuk pengembangan energi hijau hingga 2060, secara total diperkirakan mencapai USD 150 miliar atau sekitar Rp 2.322 triliun (asumsi kurs Rp 15.490 per USD).

“Harus selalu didukung karena pengembangan green energy akan berdampak positif terhadap kesehatan dan lingkungan,” kata Budi.

BACA JUGA: Merindukan Figur yang Merakyat, Buruh Eks Karesidenan Pati Dukung Ganjar Jadi Presiden 2024

Untuk itu Budi berharap, agar Pertamina konsisten dalam pengembangan energi hijau tersebut yang akan menekan emisi seminimal mungkin.

“Dengan demikian, juga mengurangi pemanasan global dan perubahan iklim,” ujarnya.

BACA JUGA: Pertamina Raih Peringkat 2 Rating ESG Dunia, Daya Saing Makin Meningkat

Dukungan juga disampaikan oleh anggota Komisi VII DPR RI Sartono Hutomo. Menurut Sartono, saat ini dunia sudah berlomba-lomba bertransformasi melalui penggunaan energi bersih.

Sartono mencontohkan green refinery Pertamina. Menurut dia, sebagai program strategis nasional, tingkat produksi green refinery juga harus terus dioptimalkan.

Dengan demikian, target pengembangan biosolar dapat terus berlanjut hingga B100.

“Di sisi lain pemerintah harus dapat mengembangankan pasar dalam negeri untuk menggunakan green energy, sehingga demand di dalam negeri menjadi besar, baik dalam bentuk bio solar maupun bahan bakar nabati seperti HVO/ Hydrotreated Vegetable Oil yang saat ini sudah dikembangkan oleh Pertamina,” jelas Sartono.

Menurut dia, penggunaan energi bersih adalah sebuah keharusan. Indonesia sudah mencapai point of no return dalam perubahan iklim dan ketahanan energi sehingga energi baru dan terbarukan merupakan solusi konkret.

Karena itu Sartono berharap posisi Indonesia sebagai Presidensi G20 harus mendorong tindakan percepatan transisi energi bersih sebagai kunci dalam mencapai nol emisi karbon atau karbon netral pada 2060.(chi/jpnn)


Redaktur & Reporter : Yessy Artada

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler