Penjahit dan Ketua RW Berani Melawan Gibran, Ujang Sebut Bentuk Sindiran

Kamis, 10 September 2020 – 13:15 WIB
Putra Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka. Foto : Ricardo/JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Pengamat politik Ujang Komarudin mengomentari proses pencalonan kepala daerah di Solo, Jateng, pada Pilkada 2020.

Ujang menyoroti majunya pasangan calon independen Bagyo Wahyono-FX Suparjo, sebagai lawan pasangan Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakosa.

BACA JUGA: Gibran bin Jokowi pun Terengah-engah

Bagyo Wahyono punya latar belakang sebagai penjahit. Sedangkan Suparjo merupakan ketua RW.

Mereka akan menghadapi  anak sulung Presiden Joko Widodo yang berpasangan dengan ketua DPRD Solo.  

BACA JUGA: Kali Ini Pak Pur Terima Gibran Secara Terbuka, tetapi Tak Istimewa

"Saya kira (majunya pasangan penjahit-ketua RW) gejala sindiran bagi elite. Sindiran bagi yang punya jabatan. Sindiran bagi yang punya kuasa," ujar Ujang kepada jpnn.com, Kamis (10/9).

Dosen di Universitas Al Azhar Indonesia ini menilai demikian, karena di pilkada Solo hampir semua partai mengusung pasangan Gibran-Teguh.

BACA JUGA: Ruhut Sitompul Tuding Anies Baswedan Penyebab 59 Negara Tolak WNI

Hal tersebut dinilai sangat tidak baik bagi perjalanan demokrasi, karena muncul kesan para penguasa memaksakan kehendak.

"Jadi, kesannya itu, mereka dianggap memaksakan kehendak dengan mendorong keluarganya menjadi calon kepala daerah. Ini sindiran dari rakyat bawah," katanya.

Lebih lanjut direktur eksekutif Indonesia Political Review (IPR) ini menilai, majunya pasangan penjahit-ketua RW lewat jalur independen, seperti memperlihatkan, bahwa ketika rakyat berkehendak, maka tidak ada yang bisa menghalangi, walau lewat jalur partai politik pintu sudah tertutup.

"Sekali lagi, saya menilai ini merupakan sindiran dari arus bawah, bahwa rakyat biasa juga bisa menjadi calon wali kota. Ini gejala perlawanan harus rakyat terhadap para peguasa dan elite," katanya.

Di sisi lain, Ujang juga mengakui sah-sah saja jika kemudian muncul opini pasangan Bagyo-Suparjo hanyalah pasangan boneka.

"Kesannya seperti itu. Bisa iya dan bisa juga tidak. Karena di banyak tempat dan di banyak kasus, calon boneka itu ada dan terjadi. Dalam kasus Solo, kenapa ada kesan calon boneka, karena Gibran memborong partai politik, sehingga tak ada lawan dari calon dari parpol," katanya.

Menurut Ujang, maju sebagai pasangan calon independen, sangat tidak mudah. Butuh banyak dukungan dari berbagai pihak.

Sementara Bagyo-Suparjo hanyalah pasangan penjahit dan ketua RW, yang tentu kemampuannya sangat terbatas.

"Untuk menjadi calon independen tak mudah, sehingga background tukang jahit dan ketua RW maju tanpa bantuan pihak tertentu, itu juga menjadi pertanyaan," pungkas Ujang.(gir/jpnn)


Redaktur & Reporter : Ken Girsang

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler