Penyelidikan FBI Atas E-mail Clinton Bikin Trump Pede

Minggu, 30 Oktober 2016 – 06:36 WIB
Donald Trump dan Hillary Clinton. Foto: AFP

jpnn.com - IOWA - Meski terlambat sekitar satu jam, calon Presiden AS dari Partai Republik, Donald Trump percaya diri melempar senyum lebar ke pendukungnya dalam kampanye di Cedar Rapids, Iowa, Sabtu (29/10) pagi.

Ya, hanya berselang 11 hari sebelum puncak pemilihan presiden AS, sang rival, Hillary Clinton, mendapatkan pukulan telak. Biro Investigasi Federal (FBI) membuka kembali penyelidikan mengenai skandal e-mail pribadi yang digunakan selama Clinton menjabat menteri luar negeri. Tentu saja, itu membuat Trump kembali mendapatkan kepercayaan diri. Dia amat yakin bisa membalik kekuatan.

BACA JUGA: Masuk Dalam Daftar Hitam Presiden, Wali Kota Tewas dalam Razia Narkoba

’’Ini adalah skandal terbesar dalam sejarah politik AS setelah Watergate,’’ kata Trump dalam pidatonya di depan sekitar seribu suporter. Fans taipan 70 tahun itu langsung menyambar. ’’Lock her up! Lock her up!’’ sahut mereka dengan gegap gempita.

Trump menjadikan penyelidikan ulang FBI sebagai topik pembuka pidatonya. ’’Saya banyak mengkritik FBI sebelumnya,’’ kata Trump. ’’Tapi, kali ini kredit untuk mereka yang berusaha mengungkap kebenaran dari kesalahan yang mengerikan ini. Keadilan akan ditegakkan!’’

BACA JUGA: Selamat Ulang Tahun Presiden AS Berikutnya

Dia mengklaim mulai unggul di sejumlah negara bagian yang dukungannya masih mengambang. ’’Di Florida kita sudah unggul 2 poin!’’ serunya menyebut negara bagian yang memiliki 29 electoral college tersebut.

Trump juga yakin kini bakal unggul di Iowa dan Arizona. Trump bersumpah untuk berupaya lebih keras dalam mengejar kemenangan hingga hari pemungutan suara pada 8 November. ’’Oh, aku sudah membelanjakan banyak uang untuk itu. Kita akan menang,’’ yakinnya.

BACA JUGA: Putri Tentara Ini Gagal Jadi Putri Indonesia, Sukses jadi Miss Grand International

Sebelumnya, Direktur FBI James Comey mengirim surat kepada sejumlah legislator senior di parlemen. Surat itu menyatakan bahwa lembaga tersebut tengah memeriksa bukti baru yang diduga terkait dengan e-mail pribadi yang digunakan Clinton saat menjabat menteri luar negeri. FBI menyelidiki apakah bukti baru yang juga berupa e-mail itu akan berdampak pada penyelidikan jaringan komputer Clinton.

E-mail itu diduga terkait dengan penyelidikan Anthony Weiner, mantan anggota kongres yang terlibat dalam sexting, atau SMS mesum, kepada anak di bawah umur. Sebelumnya, FBI tidak merekomendasikan tuntutan hukum.

Departemen Kehakiman pun tidak mengajukan tuntutan atas kelalaian Clinton dalam penggunaaan akun e-mail pribadi selama menjadi Menlu. Penggunaan akun pribadi oleh pejabat strategis seperti Menlu memang dilarang untuk alasan keamanan data.

Dalam konferensi pers di Iowa, Clinton meminta FBI memberikan penjelasan secara komplet. ’’Rakyat Amerika perlu segera mendapatkan fakta yang utuh dan menyeluruh,’’ kata Clinton. ’’Saya percaya, apa pun kata mereka, tidak akan mengubah kesimpulan yang dibuat pada Juli,’’ lanjutnya merujuk keputusan Comey yang menghentikan investigasi pada pertengahan tahun ini.

Sebelum memberikan konferensi pers di Des Moines, Clinton juga berkampanye di Cedar Rapids. Tepatnya di NewBo City Market. Dalam kampanye yang juga dihadiri Jawa Pos itu, Clinton berfokus pada isu perempuan, topik yang sempat membuat Trump terjerembap karena skandal obrolan mesum serta tuduhan pelecehan seksual kepada sejumlah perempuan.

Clinton mengungkapkan bahwa Trump, yang disebut sebagai poster boy of bad business behavior, mungkin memang masih bisa memenangkan pemilu kali ini. ’’Namun, kita tak akan membiarkan itu terjadi,’’ ujar Clinton. 

Dia mengingatkan para pendukungnya untuk tidak memilih Trump yang disebut tidak menghargai perempuan, warga minoritas, dan kaum dengan disabilitas.

Mary Schmidt, 59, pengajar di Cedar Rapids School District, tak peduli dengan skandal e-mail yang menimpa Clinton. ’’Semua orang pernah punya kesalahan. Yang lalu biarlah berlalu,’’ kata Schmidt, yang menjadi fans Clinton sejak istri Presiden Bill Clinton itu menjadi senator. Dia mengatakan, AS lebih membutuhkan sosok Clinton yang punya segudang pengalaman di pemerintahan. ’’Saya sudah tak sabar ingin menyaksikan Amerika punya presiden perempuan.’’

Sementara itu, Amy Wasmer, 35, ibu empat anak yang tinggal di Missouri, mengabaikan skandal perempuan yang membelit Trump. ’’Locker room talk itu, siapa sih yang tidak melakukan? Dan dia (Trump, Red) sudah minta maaf kepada keluarganya,’’ kata Wasmer.

Lagi pula, ujar mantan guru itu, Trump tidak melakukan tindakan kriminal. ’’Sementara Hillary? Yang dia hadapi itu masalah hukum,’’ kata Wasmer yang kemarin membawa poster Classy Woman for Trump. (jawa pos)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Klik di Sini! Negara dan Kota Terbaik Dikunjungi 2017


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler