Penyerangan Ahmadiyah Coreng Citra Indonesia

Rabu, 18 Juli 2012 – 05:43 WIB

JAKARTA – Kembali terulangnya kekerasan atas nama agama di Indonesia bakal memantik perhatian masyarakat internasional. Citra Indonesia akan semakin terpuruk.

Demikian diungkapkan peneliti senior Wahid Institute Rumadi menyikapi terulangnya kekerasan di pemukiman Ahmadiyah di Desa Cisalada, Kec. Ciampea, Kabupaten Bogor. ’’Daerah itu kan memang pemukiman Ahmadiyah. Artinya memang menjadi titik rawan penyerangan. Jika ada pengamanan sejak dini tak mungkin itu terjadi,’’ ujar Rumadi di Jakarta, Selasa (17/7).

Wahid Institute meminta aparat kepolisian mengambil tindakan tegas terkait kasus bentrokan di pemukiman jemaat Ahmadiyah di Desa Cisalada, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Sanksi hukumnya harus ditegakkan.

’’Aparat kepolisian harus mengambil tindakan hukum pada siapapun yang melakukan tindak kekerasan dan memberi perlindungan keamanan kepada jemaat Ahmadiyah,’’ tegas Rumadi.

Dikatakan Rumadi, penyebab konflik itu merupakan proses penyidikan. Tetapi peristiwa yang penyerangan hingga terjadi kekerasan tidaklah dapat dibenarkan dengan alasan apapun.

Apalagi, lanjut dia, sampai ada kekerasan fisik yang menimbulkan korban luka. Hingga perusakan kekayaan pihak lain tetap tidak bisa diterima. Hal seperti itulah yang menjadikan fokus negara-negara luar. ’’Karena apapun alasannya tindakan melawan hukum tidak bisa dibiarkan,’’ katanya.

Rumadi menambahkan kejadian itu harus segera ditelusuri. Pemerintah terkait, mulai Kementerian Agama, Kepolisian sampai Pemerintah daerah harus mengambil sikap. Menuntaskan persoalan ini.

Jika terlambat, dia khawatir peristiwa tersebut bakal terus meluas. Bahkan kembali mengemuka dalam sidang Universal Periodic Review (UPR) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) seperti beberapa waktu lalu. ’’Sorotan itu hanya bisa dibantah dengan tindakan nyata,’’ katanya.

Di sisi lain Rumadi juga menyesalkan terjadinya peristiwa tersebut lantaran berlangsung jelang Ramadan 1433 Hijriah. Seharusnya sambung dia, seluruh pihak turut serta menciptakan suasana damai menjelang masuknya bulan puasa.
’’Kekerasan menjelang Ramadan ini sungguh memprihatinkan dan memalukan. Karena menghadapi bulan suci tidak dengan membersihkan diri tapi justru dengan mengumbar amarah,’’ katanya.

Terpisah, Kapolri Timur Pradopo meminta jemaat Ahmadiyah terbuka terhadap masyarakat sekitar lingkungan mereka. ’’Ahmadiyah sudah harus terbuka dengan komunitas lain harus membuka diri jadi tidak dicurigai,’’ ujar Timur di Shangri-La Hotel, Jakarta.

Dia juga mengingatkan agar warga masyarakat tidak sembarangan anarkis.’’Masyarakat juga harus taat hukum, tiap pelanggaran hukum akan diproses,’’ wanti Kapolri.

Seperti diberitakan, Jumat pekan lalu terjadi bentrokan jemaat Ahmadiyah dengan warga di Ciampea, Cisalada, Bogor. Aksi ini berawal dari dipicu kedatangan empat wartawan asing yang hendak meliput aktivitas Ahmadiyah.

Warga rupanya terprovokasi dengan kedatangan para jurnalis itu lalu mendatangi kawasan yang dihuni jemaat Ahmadiyah. Kedua pihak saling melempar batu sehingga menyebabkan dua korban dari masing-masing pihak. Perusakan tidak berbuntut pada aksi penganiayaan baik bagi kelompok yang diserang atau yang menyerang. (rko)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Tes CPNS Honorer K2 Digelar Lagi April 2013


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler