Peran Perempuan dalam Terorisme Harus Dilihat Secara Holistik

Jumat, 23 Februari 2024 – 16:15 WIB
Ilustrasi perempuan mengalami kekerasan. Foto/ilustrasi: arsip jpnn.com

jpnn.com, JAKARTA - Executive Board Asian Moslem Network (AMAN) Indonesia, Yunianti Chuzaifah menyoroti kaum perempuan yang dianggap sebagai salah satu kelompok paling rentan terpapar paham radikal.

Menurut Yuniarti, perempuan punya kerentanan untuk menjadi sasaran luapan frustasi suami. Saat aksi teror gagal, si suami atau bapaknya ada kecenderungan menumpahkan emosinya.

BACA JUGA: Menteri Pemberdayaan Perempuan Israel Bangga Melihat Gaza Runtuh

"Para penyerang yang frustasi karena gagal di luar pada saat pulang ke rumah itu agresinya muncul dan disasarkan kepada yang dipersepsi lemah, yaitu kepada perempuan, istrinya, kepada anak-anaknya, kepada PRT-nya," kata Yunianti dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT RI) 2024 di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (21/2). .

Karena itu, hak asasi perempuan atau keadilan gender menjadi penting dalam rangka optimalisasi perlindungan perempuan dalam skema penanggulangan terorisme.

BACA JUGA: Densus 88 Terbang ke Palu dan Semarang, Tangkap 2 Tersangka Terorisme

"Hak asasi perempuan atau keadilan gender harus menjadi pandega dalam penanggulangan ekstremisme berbasis kekerasan karena tidak jarang hak asasi ini dimaknai sebagai freedom to harm, bebas apa saja."

Selain itu, Yuniati mengungkapkan ada kecenderungan perempuan itu dahulu adalah korban, tetapi saat ini pelaku juga menjadi teroris. 

"Saya membahasakannya demonizing women. Jadi seperti perempuan itu sekarang banyak yang jahat. Saya menilai interseksi itu perlu untuk dilihat bahwa sekarang ada loh yang memang jadi pelaku, yang korbannya juga tidak sedikit," urainya.

Walau demikian, dia juga menekankan pentingnya peran perempuan dalam pusaran terorisme.

Pasalnya, beberapa pelaku teror tidak beroperasi sendiri, melainkan ada peran suami.

"Dalam konteks penanggulangan perlu melihat perempuan dengan daya lakunya atau mengakui agensinya. Saya senang tadi dari BNPT mempunyai paradigma yang selaras, juga dari Kemen PPPA, bahwa daya laku itu penting, bukan hanya sebagai sosok yang jadi korban, tidak berdaya," ujar dia.

Sementara itu, Analis BNPT Leebarty Taskarina menuturkan, keterlibatan perempuan dalam aksi terorisme di Indonesia terutama yang bersinggungan dengan ISIS tidak bisa dianggap remeh.

Pasalnya ada latar belakang pribadi, pengaruh orang terdekat, serta identitas sosial yang terkait dengan solidaritas muslim.

"Terdapat narcissistic disorder yang membuat dia ingin terlihat lebih unggul tapi dengan cara berbeda karena dia teralienasi dari kelompok yang lebih dominan, hingga akhirnya dia ingin menjadi pemimpin dalam perannya," katanya.

Kehadiran agensi dalam aksi terorisme perempuan juga ditemukan dalam penelitian Dosen Psikologi Islam UIN Raden Mas Said Surakarta, Dhestina Religia Mujahid, yang membilang peningkatan peran aktif perempuan dalam aksi teror adalah egalitarianisme gender untuk mempermalukan laki-laki yang dianggap lemah dengan melakukan aksi sendiri.

"Pada penelitian lain juga menyebutkan ada rasa agensi perempuan yang muncul ketika melihat laki-laki tidak mampu melakukan perannya sebagai laki-laki yang sering disimbolkan sebagai orang yang lebih berani. Ketika ada tugas yang diberikan kepada laki-laki dan ternyata laki-lakinya enggak berani, di situ muncul ada agensi perempuan," kata dia.

Berdasarkan data sepanjang 2000 -2023, terdapat 65 putusan pengadilan dengan terpidana perempuan yang terlibat terorisme. Berdasarkan data Densus 88 AT Polri terdapat 68 perempuan yang ditangkap akibat terlibat dengan terorisme.

Sejak 2000 sampai 2023, sebanyak 80 orang dengan kategori usia 18-24 tahun ditangkap atas keterlibatannya dengan terorisme di mana lima di antaranya adalah perempuan.(mcr10/jpnn)


Redaktur & Reporter : Elvi Robiatul

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
Perempuan   terorisme   BNPT   Densus 88  

Terpopuler