Perkiraan Bank Dunia tentang Pemulihan Ekonomi Indonesia, Sabar ya

Selasa, 28 September 2021 – 13:52 WIB
Antrean pengunjung XXI di Mal Royal Plaza Surabaya setelah tutup setahun akibat pandemi Covid-19, Jumat (2/4). Foto: Arry Saputra/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Kepala Ekonom Bank Dunia Kawasan Asia Timur dan Pasifik Aaditya Mattoo menyatakan percepatan vaksinasi dan pengujian untuk mengendalikan COVID-19 dapat membangkitkan kegiatan ekonomi.

Bank Dunia memperkirakan Indonesia dan Filipina akan mampu melakukan vaksinasi terhadap lebih dari 60 persen penduduk mereka pada awal pertengahan tahun depan.

BACA JUGA: DKI Jakarta Tunggu Kebijakan Kemenkes soal Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun

Jika vaksinasi sudah mencapai 60 persen jumlah penduduk maka kegiatan ekonomi dapat dipulihkan kembali bahkan melipatgandakan angka pertumbuhan pada tahun berikutnya.

“Vaksinasi tidak menghilangkan infeksi. Namun mengurangi angka kematian secara signifikan sehingga kegiatan ekonomi dapat dilakukan lagi,” kata Aaditya Mattoo dalam World Bank East Asia and Pacific Economic Update Briefing di Jakarta, Selasa (28/9).

BACA JUGA: Komentar Pedas AHY Menyikapi Status Indonesia yang Turun di Mata Bank Dunia

Dia mengatakan Kawasan Asia Timur dan Pasifik perlu melakukan upaya serius dalam empat bidang untuk menangani COVID-19 yang berkepanjangan yakni mengatasi keraguan tentang vaksin dan keterbatasan kapasitas distribusi.

Selain itu meningkatkan pengujian, pelacakan dan isolasi untuk mengendalikan infeksi serta meningkatkan produksi vaksin regional untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan impor.

BACA JUGA: Kasus Irjen Napoleon Menghajar Muhammad Kece, Ini Informasi Terbaru dari Brigjen Andi

“Terakhir yaitu memperkuat sistem kesehatan untuk mengatasi berkepanjangannya penyakit ini,” ujarnya.

Dia mengatakan kenaikan kasus COVID-19 menyebabkan perusahaan-perusahaan kehilangan aset dan menunda investasi yang produktif dengan dampak terparah dialami oleh perusahaan kecil.

Perusahaan-perusahaan besar mengadopsi teknologi canggih dan menerima dukungan dari pemerintah sehingga mengalami dampak yang lebih kecil.

Rumah tangga pun mengalami kesulitan khususnya masyarakat miskin karena kehilangan penghasilan, kekurangan pangan, dan anak-anak mereka tidak aktif dalam kegiatan pembelajaran.

Kondisi tersebut berakibat pada bertambahnya angka stunting, pengikisan modal manusia dan hilangnya aset-aset yang produktif sehingga berpotensi menghambat penghasilan rumah tangga tersebut di masa depan. (antara/jpnn)


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler