Persiba Bantul Kejar Konsorsium

Minggu, 12 Agustus 2012 – 12:36 WIB
BANTUL - Persiba Bantul sudah menerima opsi pemutusan kontrak pemain per 12 Juli yang dilemparkan konsorsium. Opsi ini lahir akibat konsorsium hanya mampu membayar dua bulan gaji untuk para penggawa The Reds.

Tapi ternyata, masalah belum selesai. Dana untuk membayarkan gaji itu belum jelas. Hal ini terungkap dari penuturan Sekretaris Persiba Wikan Werdo Kisworo. Saat dihubungi Radar Jogja (Jawa Pos Group), lelaki plontos ini mengaku belum bisa memberikan surat terminasi kontrak plus pengunduran diri pada pemain. Padahal, drafnya sudah siap dan tinggal dikirimkan melalui surat elektronik.

Dia mengaku belum mendapat jaminan dari konsorsium kapan pembayaran dilakukan. "Sebenarnya uang yang hendak mereka cairkan belum siap. Jadi, kami masih belum berani memberikan surat pemutusan kontrak plus draf surat pengunduran diri," ujarnya.

Saat ini manajemen Persiba sedang mengejar kesanggupan konsorsium membayarkan dua bulan gaji untuk pemain dan perangkat tim. Tanpa adanya kesanggupan otomatis manajemen Persiba tak dapat menentukan tenggat waktu pembayaran gaji dalam surat terminasi kontrak.

"Itu masih menghambat kami untuk mengirimkan surat pengunduran diri dan terminasi kontrak. Saya berharap konsorsium segera memberikan kepastianlah. Biar semuanya enak," tambahnya.

Pemain Persiba belum sepenuhnya ikhlas kontrak mereka diputus per 12 Juli. Wikan mengatakan, seluruh pemain belum memberikan jawaban pasti. Namun, apapun jawaban yang diberikan pemain nanti akan dilaporkan ke konsorsium.

"Sekali lagi saya bilang, kami tak memiliki jalan lain. Sudah opsi terminasi kontrak ini memang tak ada alternatifnya. Ya mau bagaimana lagi memang cuma segini kemampuan kami," ujarnya.

Terkait kemungkinan pemain tak menerima opsi pemutusan kontrak dan siap menggugat Persiba, Wikan mengatakan kasus ini takkan dapat dibawa ke ranah hukum positif. Dia berdalih, dalam klausul kontrak disebutkan pemain hanya dapat menuntut Persiba ke pengadilan olahraga. Tututan dapat diajukan jika hak-hak mereka tak dapat dipenuhi manajemen.

"Sudah saya pastikan pemain nggak bakal bisa menyeret masalah ini ke hukum positif. Bisanya ya ke pengadilan olahraga, misal ke Badan Arbitrase Olahraga Indonesia atau ke FIFA sekalian," terangnya. (nes/amd/jpnn/ko)
BACA ARTIKEL LAINNYA... PBSI Tunggu Laporan Manajer

Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler