Pertamina Ingin Eksploitasi Gas Alam Natuna secara Besar-besaran

Minggu, 03 Juli 2016 – 22:59 WIB
Ilustrasi dokumen JPNN

jpnn.com - JAKARTA – Kementerian ESDM berniat mengeluarkan gas alam dari perut Natuna Timur secara besar-besaran. Potensi gas dari wilayah di Kepulauan Riau itu sangat besar, yakni 222 triliun kaki kubik (TCF). 

Dirjen Migas Kementerian ESDM I.G.N. Wiratmaja Puja menyatakan, ada sejumlah cekungan gas di sisi barat, timur, dan selatan Natuna. Khusus di timur Natuna, ada cadangan gas yang bisa dipulihkan setelah pengambilan. Besaran potensinya mencapai 46 TCF.

BACA JUGA: Pemerintah Diusulkan Hapus Bea Masuk Semua Jenis Sapi

’’Di barat (Natuna) banyak wilayah kerja eksploitasi dan eksplorasi. Produksinya besar, hampir 500 mmscfd (juta kaki kubik, Red),’’ jelas Wirat, sapaan akrab guru besar ITB tersebut. 

Hasil penyedotan gas alam dari perut bumi itu akan dialirkan melalui pipa bawah laut ke Batam. Lalu, aliran disambungkan ke jaringan pipa lain ke Sumatera dan Jawa. Potensi besar tersebut membuat wilayah kerja (WK) Blok East Natuna akan dilelang Kementerian ESDM. 

BACA JUGA: Gubernur: Tidak Beres, Sudah Disubsidi tapi Harga Masih Tinggi

Pemenang lelang nantinya memang menghadapi tantangan besar. Alasannya, gas di Natuna Timur mengandung 72 persen karbondioksida. Kondisi itu membutuhkan penanganan dengan kompleksitas tinggi. Sebab, diperlukan teknik khusus untuk memisahkan gas alam dan zat asam arang. ’’Tekniknya memang sudah ditemukan, tapi belum pernah dilakukan dalam skala produksi yang besar,” terangnya.

Sebagai gambaran, kontraktor harus membangun fasilitas pemisahan gas alam dan karbondioksida berkapasitas besar. Kemudian, pihaknya menyediakan area khusus untuk menyimpan CO2 yang telah dipisahkan. Agar tidak mengakibatkan perubahan iklim, karbondioksida berjumlah besar tersebut harus disuntikkan lagi ke bumi. 

BACA JUGA: Monitoring Pasokan Energi Harus Real Time

Selain itu, kontraktor migas harus membuat fasilitas penyimpanan gas terapung yang berukuran besar. Kesulitan bertambah besar. Sebab, semua fasilitas tersebut harus dibangun di tengah laut. Belum lagi, jarak antara ladang gas dan konsumen sangat jauh. ’’Pemrosesan khusus untuk CO2 itu merupakan yang terbesar di dunia,’’ ungkapnya. 

Jika kendala teknis tersebut teratasi, kontraktor menghadapi kendala nonteknis. Harga gas yang dihasilkan lapangan East Natura akan lebih mahal daripada gas dengan kandungan CO2 yang rendah.

Meski demikian, tutur Wirat, bila pengembangan East Natuna berhasil, dampaknya akan sangat positif. Suplai gas untuk kawasan Sumatera dan Jawa akan makin andal. Pipa gas bisa ditarik ke Kalimantan Barat yang memiliki banyak smelter mineral. Masuknya gas membuat proses industri menjadi lebih murah.

Saat ini, konsorsium Pertamina, Exxon Mobil, dan PTT Exploration and Production melakukan studi pengembangan Blok East Natuna. Namun, Dirut Pertamina Dwi Soetjipto mengaku, tingginya kandungan karbondioksida menjadi kendala utama. Biaya untuk kembali menyuntikkan karbondioksida ke perut bumi sangat mahal. ’’Kami mencari jalan keluarnya. Tujuannya, porsi sharing investor, operator, dan pemerintah lebih ekonomis,’’ jelasnya. 

Pemerintah berharap lapangan gas Natuna Timur segera berproduksi. Wirat menyebutkan, Natuna Timur bisa onstream sepuluh tahun mendatang. ’’The sooner, the better,” pungkasnya. (dim/c5/noe)

BACA ARTIKEL LAINNYA... DPD RI: UU Tax Amnesty Harus jadi Solusi, Bukan Problematik


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler