Pesan Cinta Kasih dan Kedamaian

Peringatan Waisak 2556 BE

Senin, 07 Mei 2012 – 06:47 WIB

MAGELANG - Puluhan ribu umat Buddha mengikuti puncak perayaan Hari Raya Waisak 2556 BE di pelataran Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, tadi malam (6/5). Momentum tersebut sekaligus dimanfaatkan untuk menyebarkan pesan cinta kasih dan kedamaian sesuai yang diajarkan dalam Buddha Dharma.

"Bulatkanlah tekad untuk tidak berbuat"jahat, kembangkanlah terus perbuatan-perbuatan baik. Sucikanlah hati dan pikiran, sesuai dengan ajaran Sang Buddha," kata Koordinator Dewan Sangha DPP Walubi YM Bhiku Tadisa Paramita Mahasthavira dalam renungan Waisak siangnya di Candi Mendut, juga di Magelang, kemarin.

Ribuan umat Buddha dengan khusyuk mengikuti detik-detik Waisak yang jatuh pada pukul 10.34.49 WIB. Sekitar 10 menit sebelum dan setelah detik-detik Waisak, segenap umat khusyuk melakukan meditasi. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan penyampaian doa-doa dari 15 sangha yang hadir.

Tadisa menambahkan, untuk menuju kehidupan yang lebih baik, manusia wajib mematuhi ajaran agama yang dianutnya. Agama akan menuntun manusia menuju pencerahan. Agama juga mengajarkan kebenaran dan kebaikan demi"keselamatan dan kebahagiaan umat manusia.

Lalu, kenapa kehidupan manusia masih juga belum bisa rukun dan sejahtera? "Karena biasanya manusia lupa menghayati hukum karma atau sebab akibat (karma, Red) dan ajaran cinta kasih serta belas kasih universal," katanya.

 Akibatnya, penganut agama itu cenderung menjadi jahat, kejam, beringas, dan brutal dalam setiap perilakunya. "Aksi kekerasan merajalela sehingga kehidupan masyarakat tidak aman dan membuat citra dan kemuliaan luhur bangsa menjadi pudar dan merosot di mata dunia internasional," tegasnya.

Untuk itu, lanjut dia, tiga pilar agama berupa pendidikan, kebudayaan, dan kebijakan belas kasih harus selalu ditegakkan."Bila ada agama yang mengabaikan tiga pilar itu, pelan-pelan akan redup dan dilupakan orang atau pemeluknya. Hal sebaliknya akan disenangi dan dibutuhkan umat manusia serta mudah berkembang dan banyak pengikutnya," katanya.

Ketua Umum DPP Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) sekaligus Ketua Umum Panitia Waisak Nasional Indonesia 2556 BE/2012 Siti Hartati Murdaya berharap Waisak dijadikan sebagai momentum umat Buddha mengikuti jejak Sang Budha Gautama saat berjuang melawan hawa nafsu. "Pada intinya, melawan hawa nafsu sang ego karena sang "aku" inilah sumber malapetaka dan segala penderitaan lahir dan batin".

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo meminta umat Buddha"bersama umat agama lain bersinergi, mewujudkan tri kerukunan. Yakni, meliputi kerukunan"antara sesama pemeluk agamanya, kerukunan dalam agamanya, dan kerukunan dengan pemerintah. "Umat Buddha juga diharapkan dapat berkontribusi besar dalam tantangan hidup dewasa ini, menyebarkan kebaikan untuk orang lain dan lingkungan yang ada di sekitarnya," katanya.

Pada kesempatan yang sama, Bupati Magelang Singgih Sanyoto mengatakan, setiap tahun Kabupaten Magelang menjadi tuan rumah perayaan Waisak meski mayoritas penduduknya beragama Islam. Hal itu, kata dia, merupakan bentuk berjalannya komitmen kerukunan beragama dan rasa saling menghormati.

Puncak acara Waisak tahun ini diwarnai dengan pelepasan ribuan lampion ke udara. Lampion itu menyimbolkan harapan dan doa umat kepada Tuhan Yang Mahaesa.

Sementara itu, perayaan Waisak nasional (Dharmasanti Waisak) 2556 BE/2012 rencananya dihelat di Pekan Raya Jakarta pada 16 Mei mendatang. Acara tersebut akan dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam acara silaturahmi itu juga bakal disuguhkan drama musikal.

Rangkaian Waisak dilakukan sejak 22 April. Di antaranya, membersihkan lokasi taman makam pahlawan. Selain itu, ada sejumlah aksi sosial, seperti donor darah, screening pasien katarak dan bedah minor, serta pengobatan gratis. (vie/ton/jpnn/c6/ttg)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Gubernur dari PKS Segera Tambah


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler