Pet, Nyerempet Sejarah Topi Copet

Senin, 15 April 2019 – 13:53 WIB
Para loper koran dengan topi copet. Foto: Capture Gentlemans Gazette.

jpnn.com - DI negeri asalnya, topi jenis ini disebut newsboys. Ciri khas anak-anak penjaja koran. Di perantauan, topi ini beragam nama. Yang paling atraktif di Indonesia; topi copet.
 
WENRI WANHAR – JAWA POS NATIONAL NETWORK
 
Bagi puan dan tuan yang tumbuh dalam lingkungan tradisi membaca, agaknya tahu lakon Oliver Twist, copet cilik yang senantiasa menggunakan topi newsboys.
 
Novel Oliver Twist karya Charles Dickens, penulis berpengaruh pada masanya. Pertama terbit pada 1837.
 
Lakon utamanya bernama Oliver Twist. Settingnya dataran Eropa abad 19, dengan latar utama kota-kota di Inggris pada masa revolusi industri.
 
Kisah ini diangkat ke panggung pertunjukan. Drama musikal. Dan layar lebar pada 1968. Tempo hari, 2005, kisahnya kembali difilmkan.
 
Kuatnya karakter Oliver Twist inilah yang diduga banyak kalangan menjadi pangkal mula lahirnya istilah topi copet.
 
Sebelumnya, orang-orang di negeri yang hari ini bernama Indonesia menyebutnya topi pet.
 
Seperti dikisahkan Rosihan Anwar dalam buku Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia volume 4.
 
Pada 1927, Rosihan—wartawan legendaris Indonesia--masih berusia 5 tahun. Ia tinggal di Danguang-Danguang, Payakumbuh, tak jauh dari Suliki, kampung halaman Tan Malaka.
 
Di Danguang-Danguang, pada masa itu, Anwar gelar Maharadja Soetan, ayah Rosihan Anwar, bertugas sebagai Asisten Demang.
 
Suatu hari, sekeluarga itu berfoto di jenjang batu depan pintu rumah.
 
“Saya berdiri pakai baju dan celana pendek dekat ibu Siti Safiah yang menggendong adik saya, Rohana, berusia satu tahun. Di Samping ibu tampak ayah…ayah menggunakan pakaian formal ambtenaar Binnenlands Bestur (BB) baju jas tutup, dengan kancing besar bertulisan W dari nama Ratu Wilhelmina, dan di kepalanya topi pet warna putih,” kenang Rosihan.
 
Topi pet. “Nama sebenarnya flat cap. Mulanya, bagian dari identitas rakyat jelata di Inggris. Kelas pekerja, buruh pelabuhan, dan loper koran. Makanya disebut juga topi newsboys,” kata Hendri Tegal, pengelola tokomahari, kedai online yang khusus menjajakan flat cap, kepada JPNN di Solo, beberapa hari lalu.
 
Saya mengenal Henri Tegal sejak masih remaja tanggung di Jakarta. Dulu, kami sama-sama pengamen Ibukota. Dan—untungnya--hidup di lingkungan yang tradisi diskusi-membaca-nya lumayan kuat.
 
Ketika saya mulai jadi wartawan, dia hijrah ke Solo. Bersama istrinya yang alumni UNS, dia merintis usaha rumahan; memproduksi topi flat cap. Pelanggannya berbagai kalangan. Om Bagus, vokalis band Netral satu di antaranya.
 
Menariknya, Hendri tak hanya paham aneka model flat cap. Dia juga lihai menceritakan sejarah topi tersebut.
 
Flat cap yang mulanya identitas rakyat jelata, kemudian hari naik kelas,” katanya. “Pangkal mulanya ketika pemerintah Inggris mengeluarkan kebijakan meningkatkan penggunaan wol, karena over produksi era revolusi industri.”
 
Pemerintah Inggris menyeru peningkatan produksi industri dengan bahan dasar wol pada 1571, dan mewajibkan warganya menggunakan topi wol tiap hari Minggu. Yang melanggar kena denda.
 
“Sejak itu flat cap menjadi bagian dari stelan orang banyak. Tak hanya kalangan rakyat jelata. Nah, paska kebijakan itu berakhir pada 1597, karena terlanjur suka, flat cap tetap bertengger di kepala,” paparnya.
 
Antara abad 19 dan 20, ketika imigran Eropa ramai-ramai datang ke Amerika, “lihat saja foto-fotonya. Flat cap menghiasi kepala orang-orang dalam gelombang imigrasi besar-besaran itu,” terang Hendri seraya memperlihatkan foto hitam putih dari kelampauan.
 
Merujuk literasi yang disodorkan Hendri, ternyata di luar negeri flat cap dikenal juga dengan nama paddy cap, cabbie cap, longshoreman’s cap, scally cap, wigens cap, ivy cap, golf cap, duffer cap, driving cap, bicycle cap, Jeff cap, bunnet, Dai cap, cheese-cutter.
 
Entah bagaimana pula pangkal mulanya, orang yang memakai flat cap kerap diindetikkan sebagai seniman. Pelukis kenamaan dunia, Pablo Picasso (lahir Spanyol, 1881) khas dengan flat cap.
 
Di Indonesia, flat cap antara lain menjadi ciri khas sutradara Putu Wijaya dan sastrawan Pramoedya Ananta Toer.
 
Sayangnya, menurut penuturan Hendri, hingga sekarang dia belum menemukan literasi tertulis yang menjelaskan sejarah flat cap atau topi copet masuk ke Indonesia. Meski terus berjuang mencarinya.
 
Dalam menjalankan bisnis flat cap, Hendri Tegal rupanya tak sekadar mencari hasil. Dia juga mencari asal. Makanya, produknya punya karakter.
 
Mengisi waktu dalam perjalanan, saya membaca naskah Momo: Kisah Ajaib Mengenai Gerombolan Pencuri Waktu dan Seorang Anak Kecil…., karya Michael Ende.
 
Cuplikannya:
 
…pemandu wisata hanya salah satu dari sekian banyak pekerjaan yang ditekuninya sesuai keadaan. Dan ia sama sekali bukan pemandu wisata resmi.
 
Satu-satunya persyaratan yang dimilikinya untuk pekerjaan itu adalah topi pet. Topi itu segera dipakainya setiap kali ada rombongan wisatawan yang tersesat ke daerah itu.
 
Dengan tampang serius ia lalu menghampiri orang-orang itu dan menawarkan untuk membawa mereka berkeliling sambil menjelaskan sesuatu.
 
Kalau para pelancong setuju, ia akan mulai dengan bualannya. Ia akan mengumbar cerita mengenai peristiwa yang dikarangnya sendiri, berikut nama-nama dan tahun…
 
Ada yang menyadari itu bualan. Tapi, sebagaian besar pelancong percaya. Mereka mengeruk kantong. Dan lakon kita ini pun menyodorkan topi petnya… (wow/jpnn)

BACA JUGA: Surat dari Tukang Copet Buat Korbannya

BACA ARTIKEL LAINNYA... Waktu Kecil, Ani Yudhoyono Jagoan Lho...


Redaktur & Reporter : Wenri

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler