Petani NTB Berhasil Tingkatkan Hasil Panen di Musim Kemarau

Minggu, 09 September 2018 – 08:35 WIB
Sejumlah petani melaksanankan panen padi jenis Inpari 40 di Desa Banyu Urip, Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah NTB. Foto: Humas Kementan RI

jpnn.com, LOMBOK TENGAH - Meski sedang dilanda musim kemarau atau kering, petani di Desa Banyu Urip, Kecamatan Praya Barat, Kabupaten lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) justru berhasil meningkatkan hasil panen. Produktivitas padi bahkan mencapai 6,5 juta ton per hektare.

“Di musim kering (kemarau, red) ini kami memperoleh padi enam ton lebih, padahal biasanya cuma dapat empat sampai lima ton per hektare,” ujar Saham, salah satu petani yang hadir di kegiatan Panen dan Temu Lapang di Desa Banyu Urip pada Kamis (6/9) lalu.

BACA JUGA: Hemat 77 Persen, Rahasia Teknologi Benih TSS Bawang Merah

Meskipun musim kering sedang melanda wilayahnya, Sadam menuturkan bahwa sejumlah teknologi padi yang diperkenalkan Kementerian Pertanian melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) berhasil meningkatkan produktivitas. Teknologi tersebut meliputi penggunaan varietas unggul baru Inpari 40, penerapan metode tanam jajar legowo, aplikasi pupuk biosilika, serta sistem pengairan basah kering.

Saham pun optimistis pembinaan yang dilakukan oleh Balitbangtan dapat menjadi modal untuk kemandirian para petani.

BACA JUGA: Pasokan Melimpah dan Stok Penuh, Operasi Pasar Tidak Perlu

“Beberapa teknologi seperti jenis padi, metode tanam, dan pupuk biosilika termasuk baru di sini, tapi karena ada pembinaan dari Balitbangtan maka hasilnya pun maksimal,” jelasnya.

Menurut peneliti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTB, Ahmad Suryadi, masing-masing teknologi yang diterapkan memang memiliki kelebihan, misalnya Inpari 40. Varietas padi yang telah ditanam di lahan seluas 15 hektare ini mampu bertahan saat sawah mengalami kekeringan.

BACA JUGA: Mentan: Jadilah Pengusaha di Sektor Pangan

“Pada saat bunga padi mau keluar saluran air di sini sempat rusak sehingga sawahnya kering, tapi Inpari 40 ini masih bisa bertahan dibandingkan padi milik petani lain. Bahkan petani yang di ujung desa sana padinya kering,’ kisah Suryadi.

Selain Inpari 40, Suryadi pun menceritakan kelebihan sistem pengairan basah kering atau terbatas. Menurutnya, penerapan metode ini dapat menghemat air sebanyak 30 persen sehingga air hasil penghematan tersebut dapat dialihkan ke lahan kering lainnya.

Kepala Balai Besar Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BB Biogen) Balitbangtan, Mastur meyakini paket teknologi ini dapat dikembangkan di NTB, khususnya Lombok Tengah yang merupakan salah satu daerah kering.

"Inpari 40 memiliki kelebihan ketahanan terhadap kekeringan dan produktivitas tinggi. Jika disinergikan dengan teknologi lain tentu akan lebih menguntungkan para petani," ujar Mastur saat dimintai keterangan, Minggu (9/9).

Di kegiatan Panen dan Temu Lapang itu, BB Biogen juga sempat memberikan bantuan benih unggul kedelai Biosoy. Biosoy merupakan varietas kedelai unggul baru Balitbangtan yang memiliki kelebihan biji besar dan produktivitas tinggi. Mastur mengharapkan benih sumber tersebut dapat ditangkar dan dapat dikembangkan di NTB, khususnya Lombok Tengah.

Kegiatan Panen dan Temu Lapang dengan tema “Kaji Terap Teknologi Budidaya Padi di Lahan Kering” digelar oleh Balitbangtan. Kegiatan tersebut dihadiri oleh perwakilan pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, pemerintahan desa, serta para petani Desa Banyu Urip.(adv/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ekspor Manggis, Mentan: Pertanian Indonesia punya Daya Saing


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler