Pilpres 2024 Berpotensi Terjadi Polarisasi, Formasi: Satu Putaran Jadi Solusi

Selasa, 05 Desember 2023 – 03:35 WIB
Koordinator Nasional (Kornas) Formasi Indonesia Moeda Syifak Muhammad Yus saat berbicara dalam diskusi bertajuk “Potensi Polarisasi Antara Kelompok Nasionalis Vs Nasionalis, Satu Putaran Jadi Solusi?" di Longue Room, Universitas Nasional (UNAS), Senin (4/12/2023). Pembicara lainnya anggota DPR RI Fraksi Golkar Bobby Adhityo Rizaldi, Direktur Eksekutif Survei and Polling Indonesia (SPIN) Igor Dirgantara, Dosen UNAS Nurtsatyo serta Nudzran Yusra selaku peneliti Lab Fisipol UI. Foto: Dok. Formasi

jpnn.com, JAKARTA - Formasi Indonesia Moeda kembali menggelar diskusi bertajuk “Potensi Polarisasi Antara Kelompok Nasionalis Vs Nasionalis, Satu Putaran Jadi Solusi?" berlangsung di Longue Room, Universitas Nasional (UNAS), Senin (4/12/2023).

Koordinator Nasional (Kornas) Formasi Syifak Muhammad Yus menyampaikan pada dasarnya, polarisasi adalah sesuatu yang sehat dan alami.

BACA JUGA: Demi Menang Satu Putaran di Pilpres 2024, TKN Prabowo-Gibran Serius Menggarap Suara Generasi Milenial

Sebab, apabila tidak ada partai politik dan pilihan capres dan cawapres yang berbeda, maka masyarakat tidak akan memiliki pilihan.

Hanya saja, yang harus dihindari adalah polarisasi yang membelah sesama anak bangsa.

BACA JUGA: Lebih Kuat dari Banteng, Bison Siap Menangkan Prabowo-Gibran dalam Satu Putaran

Namun, menurutnya polarisasi dalam kompetisi politik kerap dianggap sebagai bagian dari pertarungan hidup dan mati.

“Tentu kita masih ingat bagaimana kerasnya polarisasi yang terjadi selama proses pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta pada tahun 2017 lalu, antara pendukung pasangan Anies-Sandi dengan pendukung pasangan Ahok-Djarot,” ujar Syifak dalam paparannya di Jakarta.

BACA JUGA: Diuntungkan Konstelasi Politik, Anies Baswedan Diprediksi Masuk Putaran Kedua Pilpres

Menurut dia, polarisasi terjadi antara kelompok nasionalis yang diisi oleh pendukung Ahok-Djarot dengan kelompok agamis yang di dalamnya terdiri dari pendukung Anies-Sandi.

“Polarisasi itu terjadi hingga akar rumput, terjadi di perkampungan, komplek, bahkan hingga di gang-gang sempit perkampungan,” ujar Syifak.

Menurut Syifak, polarisasi itu terjadi bukan hanya di DKI Jakarta, bahkan sampai ke daerah lain yang dekat Jakarta dan masih berlanjut bahkan setelah Pilgub DKI Jakarta selesai.

Hal itu menjadi catatan kelam bagi demokrasi bangsa Indonesia. Fenomena itu menunjukkan bahwa demokrasi kita masih belum sehat.

“Dalam sejarah politik Indonesia, polarisasi pernah terjadi pada tahun 1965 antara kelompok nasionalis dan nasionalis. Pada tahun tersebut, terjadi gencatan senjata antarkedua kelompok yang sama. Keduanya sama-sama mengatasnamakan nasionalisme,” urainya.

Kedua, menurut Syifak, polarisasi antara kelompok nasionalis dan nasionalis juga terjadi tahun 1998.

“Masyarakat terpecah belah akibat polarisasi itu. Bahkan telah menimbulkan korban jiwa atas polarisasi yang terjadi pada masa itu,” katanya.

Lebih lanjut, Syifak mengatakan Pilpres 2019 antara Jokowi vs Prabowo juga menjadi catatan tersendiri.

Masyarakat pendukung Prabowo dan pendukung Jokowi terbelah hingga akar rumput. Polarisasi ini terjadi lantaran hanya ada dua pasang calon yang mengikuti kontestasi Pilpres di 2014 dan 2019. Artinya, polarisasi itu mutlak terjadi.

“Pilpres 2024 yang diikuti oleh tiga pasang calon, juga berpotensi hal yang sama. Polarisasi ini bahkan diprediksi akan terjadi tidak hanya antara kelompok Islamis dengan kelompok nasionalis, bahkan juga berpotensi terjadi antara kelompok nasionalis dan kelompok nasionalis seperti yang terjadi pada tahun 1965 dan tahun 1998,” ucapnya,

Dia menyebut pertarungan di media sosial antara pendukung Anies-Muhaimin, pendukung Prabowo-Gibran, dan pendukung Ganjar-Mahfud.

Berbeda dengan pendukung pasangan Anis-Muhaimin yang banyak diisi oleh kalangan agamis, pendukung pasangan Prabowo-Gibran dan pasangan Ganjar-Mahfud diisi mayoritas oleh kalangan kelompok nasionalis.

Lebih lanjut, Syifak mengatakan polarisasi itu terlihat bagaimana keduanya telah mengibarkan bendera perang di dunia maya. Psywar dilakukan terus menerus tanpa henti.

Saling menjatuhkan, saling memfitnah, dan saling melempar isu yang sebenarnya usang.

“Belajar dari sejarah polarisasi yang terjadi di Indonesia, bahwa polarisasi bisa terjadi apabila hanya ada dua pilihan yang berbeda, termasuk yang terjadi di DKI Jakarta tahun 2017, polarisasi dimulai saat putaran kedua di mana pilihannya yang tersisa adalah dua pasangan yaitu pasangan Ahok-Djarot dan pasangan Anies-Sandi.

Oleh karena itu, melihat fenomena ini harus dihindari agar apa yang terjadi pada masa-masa kelam itu tidak berulang kembali di kemudian hari.

Sebab yang dirugikan sepenuhnya adalah rakyat. Bukan elite-elite politik atau sukarelawan pendukung para kandidat.

“Oleh karena itu, penting bagi pemerintah untuk membangun dan memperkuat narasi kebangsaan di tengah masyarakat, sehingga kepentingan nasional tidak dikalahkan oleh kepentingan politik praktis,” urainya.

Selain itu, Syifak berharap satu putaran dapat menjadi salah satu solusi karena mereduksi polarisasi. Satu putaran juga dapat menghemat anggaran.

“Potensi polarisasi itu ada. Melihat perdebatan hari ini masih berputar pada individu calon, belum menyentuh visi misi dari calon. Bukan visi misi yang dibahas atau program melainkan personal,” ujar Syifak.

Lebih lanjut, Syifak menyampaikan peran media juga sangat penting menjaga demokrasi serta mencerdaskan masyarakat untuk menetralisir sebaran berita hoax yang dapat menimbulkan perpecahan dan mengoyak persatuan.

“Jangan sampai kemudian media ikut menjadi corong penyebar hoaks,” ujar Syifak.

Hadir dalam diskusi tersebut anggota DPR RI Fraksi Golkar Bobby Adhityo Rizaldi, Direktur Eksekutif Survei and Polling Indonesia (SPIN) Igor Dirgantara, Dosen Universitas Nasional (UNAS) Nurtsatyo serta Nudzran Yusra selaku peneliti Lab Fisipol UI dan Psikologi Universitas Syiah Kuala (USK).(frijpnn)

Jangan Lewatkan Video Terbaru:


Redaktur & Reporter : Friederich Batari

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler