PMKRI Gelar Sarasehan dan Deklarasi Pemuda Membangun Bangsa

Minggu, 11 November 2018 – 12:51 WIB
Ketua Presidium PP PMKRI Juventus Prima Yoris Kago (kedua kanan) saat Sarasehan dan Deklarasi Pemuda Indonesia Membangun Bangsa di Grand Cemara Hotel, Menteng, Jakarta Pusat, pada Sabtu, 10 November 2018. Foto: Dok. PMKRI

jpnn.com, JAKARTA - Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI) menggelar Sarasehan dan Deklarasi Pemuda Indonesia Membangun Bangsa pada Sabtu, 10 November 2018 di Grand Cemara Hotel, Menteng, Jakarta Pusat.

Hadir sebagai narasumber dalam Sarasehan dan Deklarasi tersebut Ketua Presidium PP PMKRI Juventus Prima Yoris Kago, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Robaytullah Kusuma Jaya, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) Najih Prastiyo. Hadir juga sebagai keynote speaker dari Kasubdit Keamanan Khusus Baintelkam Polri, Rato Kuncoro, SIK.

BACA JUGA: Rahasia Persatuan Pahlawan Kemerdekaan Indonesia (4)

Sarasehan dan Deklarasi ini diselenggarakan bertepatan dengan Hari Pahlawan yang diperingati setiap tanggal 10 November. Sarasehan dan deklarasi ini membahas tiga poin penting yakni Pancasila di tengah infiltrasi ideologi asing, fenomena hoaks, dan wacana menuju revolusi industri 4.0.

Ketua Presidium PP PMKRI, Juventus Prima Yoris Kago, dalam paparannya menyebutkan pemuda merupakan satu kekuatan penting yang menopang keberlanjutan perjalanan negara dan bangsa Indonesia. Beragam persoalan yang menggerogoti kehidupan negara-bangsa Indonesia hari-hari ini tetap membutuhkan peran serta pemuda Indonesia dalam menyikapinya.

BACA JUGA: Relawan Kiai Ma’ruf Amin Jadikan Sutopo Pahlawan Antihoaks

“Pemuda Indonesia perlu mengonsolidasikan kekuatannya bagi pembangunan bangsa dan membendung segala bentuk gerakan dan aksi yang kontraproduktif dengan konsep kebangsaan Indonesia,” tegas Yuventus.

Kemudian, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM), Najih Prasetyo melihat fenomena hoaks sebagai ancaman bagi pemuda Indonesia. Tantangan pemuda Indonesia saat ini, menurut Najih, adalah bagaimana menghindari paham radikalisme dengan cara menghindari berita-berita yang tidak jelas sumbernya.

BACA JUGA: Fahri Hamzah: Terlalu Cepat Mendefinisikan Pahlawan

Untuk narasi krisis multikulturalisme, Najih berpandangan bahwa pluralisme merupakan akar berdirinya bangsa Indonesia sehingga tidak perlu diperdebatkan lagi.

Najih menanggapi fenomena hoaks akahir-akhir ini. Dia menilai salah satu penyebab rentannya generasi muda Indonesia terpapar berita hoaks adalah rendahnya budaya membaca.

Sementara itu, Ketua DPP GMNI Robaytullah Kusuma Jaya beranggapan diskursus tentang Pancasila dan Nasionalisme seharusnya tidak lagi dilakukan saat ini karena sudah dilakukan oleh para pejuang serta pencetus teori tentang dasar Negara Indonesia di tahun 1945. Yang terjadi hari ini harusnya adalah bagaimana mengimplementasikan dan mengaplikasikan nilai-nilai luhur pancasila tersebut.

Ia menambahkan, generasi muda harus mampu memfilter mana berita hoaks dan mana berita yang harus kita telaah.

“Pemuda harus bisa menyinkronkan pemikirannya yang Pancasilais dengan keberadaannya sebagai generasi milenial,” katanya.

Ratno Kuncoro yang hadir sebagai keynote speaker mengungkapkan Indonesia khususnya pemuda harus segera meningkatkan rasa nasionalisme untuk bisa meredam ideologi asing yang membahayakan bangsa Indonesia.

Kemudian ia menambahkan tantangan Pilkada tidak harus dijadikan sebagai ajang perpecahan akan tetapi harus mengacu pada ajang beradu gagasan demi kemaslahatan bangsa untuk terciptanya kedamaian dan keamanan nasional.

Pada bagian akhir Sarasehan ini digelar pembacaan Deklarasi Pemuda Indonesia Membangun Bangsa oleh Ketua Presidium PP PMKRI.(fri/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Begini Makna Pahlawan Bagi Maudy Ayunda


Redaktur & Reporter : Friederich

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler