Presiden (Perem)Puan

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Minggu, 28 Agustus 2022 – 14:21 WIB
Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan putrinya, Puan Maharani. Foto: arsip JPNN.com/Ricardo.

jpnn.com - Indonesia baru merdeka 77 tahun, baru seumur bibit jagung jika dibanding Amerika Serikat yang sudah merdeka 246 tahun.

Akan tetapi, dalam hal kepemimpinan perempuan orang  Indonesia boleh berbangga dan menepuk dada masing-masing, karena lebih unggul dari Amerika Serikat. 

BACA JUGA: Buka Kirab Bendera Merah Putih, Presiden Didampingi Kapolri hingga Habib Luthfi

Indonesia sudah pernah punya presiden perempuan, sementara Amerika belum pernah sama sekali.

Indonesia pernah punya Megawati Soekarnoputri sebagai presiden ke-5. 

BACA JUGA: Puan Tinjau Harga Bahan Pangan di Pasar Kebon Roek Mataram, Warga Menyambut, Ada Teriakan Presiden

Meskipun tidak jangkap 5 tahun tetapi Megawati tetap tercatat sebagai presiden resmi. 

Megawati mencoba maju sebagai petahana pada Pilpres 2004, tetapi kalah dari Susilo Bambang Yudhoyono. 

BACA JUGA: Presiden Jokowi dan Kapolri Jenderal Sigit Bakal Bertemu di Agenda Ini

Megawati marah sekali oleh kekalahan itu dan sampai sekarang masih belum bisa move on. 

Meski demikian, Megawati tetap tercatat dalam sejarah sebagai presiden perempuan pertama di Indonesia.

Megawati sering membanggakan diri karena mendapatkan sederet gelar akademis yang mentereng. 

Meskipun pendidikan formalnya cuma SMA karena protokol waktu kuliah, tetapi Mega sekarang tercatat memegang 2 gelar profesor kehormatan, dan 9 gelar doktor kehormatan. Kalau ditotal dengan gelar-gelar kehormatan lain kabarnya Mega punya sampai 30 gelar.

Dalam banyak kesempatan, Mega sering membanggakan deretan gelar itu. 

Mega bahkan masih ingin menambah gelar-gelar itu lagi. 

Beberapa kalangan akademik tidak sepakat dengan obral gelar yang didapat Mega. 

Banyak juga kalangan yang mencibir dengan memelesetkan gelar ‘’doctor honoris causa’’ menjadi ‘’doctor humoris causa’’ karena menjadi bahan tertawaan.

Gelar Mega yang patut dipamerkan sebenarnya bukan gelar-gelar akademik yang diduga diberikan atas pamrih tertentu.

Gelar Mega yang tidak terbantahkan adalah sebagai presiden perempuan pertama dan satu-satunya di Indonesia sampai sejauh ini. 

Capaian itu seharusnya sangat pantas dibanggakan, karena tidak akan diperdebatkan lagi. 

Kalau toh harus masuk ke MURI (Museum Rekor Dunia Indonesia), publik pun akan menerima dengan lapang dada dan tidak ada yang menyangkalnya.

Akan tetapi, entah mengapa Mega tidak pernah membanggakan capaian itu. 

Mungkin Mega tidak terlalu bangga karena dia hanya melanjutkan kepresidenan Gus Dur yang tersisa 3 tahun. 

Mungkin juga Mega tidak terlalu bangga karena ia gagal memenangkan kepresidenan ketika maju dalam kontestasi pemilihan langsung untuk merebut masa jabatan penuh 5 tahun.

Mega masih menyimpan keinginan untuk maju menjadi capres lagi pada perhelatan 2014 setelah SBY lengser. Akan tetapi, realitas politik ketika itu tidak memungkinkan, karena elektabilitas Mega tertinggal jauh oleh Joko Widodo yang ketika itu menjadi gubernur DKI. Mega tidak punya pilihan lain selain menyerahkan tiket capres PDIP kepada Jokowi.

Jokowi diam-diam mempersiapkan segala sesuatu dengan matang, termasuk menjalankan proyek pencitraan yang masif.

Dalam waktu relatif singkat elektabilitas Jokowi meroket dan tidak bisa ditahan lagi oleh siapa pun. 

Mega menghadapi pilihan yang dilematis. Ia menghadapi fait accompli dan akhirnya menyerah. 

Mega menjadi korban ‘’creeping coup’’ atau kudeta senyap yang dilakukan Jokowi.

Sekarang 10 tahun berlalu. Tentu masih segar dalam ingatan Mega betapa sakitnya menjadi korban creeping coup ketika itu.

Ketika Mega maju dalam Pilpres 2004, ia menginginkan SBY sebagai calon wakilnya. 

SBY yang ketika itu menjadi menteri koordinator politik dan hukum di kabinet Megawati menolak ajakan Mega, dengan alasan ingin fokus pada tugasnya sebagai menteri.

Akan tetapi, diam-diam, dari balik punggung Mega, SBY membangun kekuatan, melakukan machtsvorming, penggalangan kekuatan untuk mengudeta Mega. 

SBY mendirikan Partai Demokrat untuk menjadi kendaraan politik maju sebagai calon presiden. 

Mega kaget dan geram oleh manuver SBY ini. 

Akan tetapi, ia terlambat menyadari dan popularitas dan elektabilitas SBY telanjur moncer.

Manuver SBY menelikung Mega ini sama saja dengan creeping coup yang dilakukan Jokowi, meskipun cara dan strategisnya berbeda. 

Ujung-ujungnya Mega dibuat terpojok dan tidak punya pilihan kecuali menyerahkan kepresidenan kepada orang lain.

Pengalaman pahit itu sekarang diantisipasi dengan lebih siap oleh Mega. 

Kali ini Mega tidak punya cukup waktu lagi. Ia berpacu dengan waktu, it’s now or never, sekarang atau tidak sama sekali.

Pemilu Presiden 2024 sudah di depan mata, dan usia Mega sudah merambat makin sepuh. 

Dia harus mengamankan partai dan sekaligus mengamankan legasi politiknya.

Mega harus mengamankan trah Soekarno dengan mewariskan kepemimpinan kepada Puan Maharani sebagai putri mahkota.

Persoalan menjadi pelik karena elektabilitas Puan masih tetap sulit bergerak dari angka satu koma. 

Ketika pesaing-pesaingnya sudah berlari dengan elektabilitas di atas 20 persen, Puan masih berkutat di juru kunci terbawah.

Mega tidak mau lagi mengalami penelikungan seperti yang dialaminya dari SBY. 

Mega juga tidak mau mengalami kudeta senyap seperti yang dilakukan oleh Jokowi. 

Karena itu, tidak ada pilihan lain bagi Mega kecuali memunculkan Puan untuk menjadi calon presiden dari PDIP.

Ancaman kudeta senyap paling nyata muncul dari Ganjar Pranowo. 

Ancaman penelikungan ala SBY muncul dari Jokowi yang diam-diam menyiapkan calon sendiri untuk menjadi suksesornya pada 2024. 

Ganjar dan Jokowi sama-sama petugas partai yang ditunjuk oleh Mega menjadi gubernur dan presiden. 

Karena itu, Mega berani tegas menghadapi dua petugas itu. 

Mega bisa memaksa Ganjar untuk tidak maju. Mega juga bisa memaksa Jokowi untuk tidak mengajukan calon sendiri. 

Akan tetapi, persoalan menjadi pelik ketika calon yang dipilih Mega tidak bisa mengimbangi elektabilitas Ganjar yang selalu masuk 3 besar.

Waktu sudah makin sempit. Mega pun mulai melepas Puan ke palagan. 

Harapannya Puan segera bisa bermanuver dan bisa mengerek dukungan. 

Gerakan masif dilakukan. Kampanye wacana presiden perempuan pada 2024 pun diluncurkan. 

Puan sudah mulai berani sesumbar bahwa 2024 nanti sudah waktunya Indonesia punya presiden perempuan.

Tantangan akan sangat kompeks. Kepemimpinan perempuan di level nasional masih sangat sensitif, terutama  di kalangan umat Islam konservatif. 

Masih sangat banyak ulama yang berpendapat bahwa wanita haram hukumnya menjadi pemimpin, apalagi menjadi presiden.

Mega sudah mengendus kemungkinan ini. Karena itu ia pun sudah menyiapkan strategi antisipasi. 

Salah satunya dengan membentuk opini di media, dan mencari fatwa dari para ulama pendukung kepemimpinan perempuan. Mega sendiri kerap mengungkap ‘’prestasi akademik’’-nya sebagai testimoni bahwa seorang perempuan bisa berprestasi tinggi. 

Apakah kampanye pamer prestasi ala Mega ini efeketif atau malah jadi bahan rundungan, harus kita lihat nanti di lapangan.

Di negara yang mengeklaim diri sebagai biang demokrasi seperti Amerika Serikat, kepemimpinan perempuan sebagai presiden masih menjadi impian yang jauh. 

Tidak ada satu pun presiden perempuan dalam dua setengah abad sejarah negara itu. 

Saat ini, Wakil Presiden Kamala Harris menjadi perempuan pertama yang menjadi wakil presiden di Amerika Serikat. 

Sebelum Harris ada ada dua perempuan yang menjadi calon wakil presiden. 

Satu Geraldine Ferraro dari Demokrat berpasangan dengan Walter Mondale pada 1984,  dan Sarah Palin dari Partai Republik pada pilpres 2008 berpasangan dengan John McCain. 

Dua-duanya gagal memenangkan kontestasi. Bahkan Palin yang menjadi gubernur Alaska ketika itu sering diolok-olok karena dianggap dungu. Entah mengapa Republik memilih Palin menghadapi pasangan Barrack Obama-Joe Biden pada pemilu itu.

Di Indonesia Puan Maharani mulai berani mengklaim bahwa 2024 akan menjadi tonggak sejarah dengan munculnya presiden perempuan hasil pemilihan langsung. Good Luck, mudah-mudahan tidak bernasib seperti Sarah Palin, gagal karena dianggap dungu. (*)

Kamu Sudah Menonton Video Terbaru Berikut ini?


Redaktur : M. Kusdharmadi
Reporter : Cak Abror

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler