Prof Didik Rachbini Sebut Warisan Pemikiran BJ Habibie Tidak Hanya IPTN

Rabu, 11 September 2019 – 22:03 WIB
BJ Habibie di kediamannya pada 1 Mei 2019. Foto M Fathra Nazrul Islam/JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Prof Didik Junaedi Rachbini, anak buah Prof BJ Habibie di dalam kepengurusan organisasi Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia atau ICMI menyampaikan rasa duka yang mendalam atas meninggalnya Presiden ketiga RI tersebut.

Didik pun menyampaikan pandangannya tentang tokoh yang menurutnya sangat berperan dalam sejarah mengantar peralihan rezim Orde Baru ke Orde Reformasi.

BACA JUGA: Kenang BJ Habibie, Wiranto: Beliau Sosok Kreatif dan Demokratis

Dalam masa kepemimpinan yang singkat, kata politikus PAN ini, Habibie telah melahirkan banyak kebijakan yang mendorong ke arah demokratisasi politik, desentralisasi, Bank Indonesia yang independen, hingga pemberantasan korupsi.

"Boleh dikatakan bahwa Habibie adalah Bapak demokrasi Indonesia," kata tokoh berusia 59 tahun ini di Jakarta, Rabu (11/9).

BACA JUGA: Penghormatan Terakhir untuk Eyang Habibie: Pemain Kenakan Pita Hitam dalam Pertandingan

Ketika kehidupan Indonesia masih agraris tahun 1980-an dan orang belum kenal apa itu ilmu, apa itu teknologi, katanya, Prof Habibie mengenalkan konsep ilmu pengegahuan dan teknologi yang kemudian dikenal dengan istilah iptek kepada bangsa ini.

Bahkan, dia menyebutkan bahwa modernisasi Indonesia juga melalui kiprah dan pemikirannya. Bahwa warisan pemikiran Habibie dalam bidang teknologi menurut Didik, tidak hanya PT IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara), kini PT Dirgantara Indonesia, tapi ada yang lainnya.

BACA JUGA: BJ Habibie Meninggal Dunia, Menteri Nasir Tak Kuasa Bendung Air Mata

"Warisan pemikiran dan usaha Prof Habibie dalam bidang teknologi semestinya bisa dilanjutkan untuk memperkuat Indonesia dalam bidang teknologi. Warisan PT PAL untuk bidang perkapalan, PINDAD untuk persenjataan, IPTN untuk kedirgantaraan," jelasnya.

Didik berharap, semua warisan pemikiran Habibie itu masuk dalam kerangka undang-undang pembangunan teknologi nasional dan kekuatan militer, agar Indonesia tidak diremehkan oleh dunia internasional.

"Ini yang diabaikan selama ini sehingga Indonesia tergantung kepada teknologi luar," tandas mantan Cagub DKI Jakarta pada Pilkada 2012 ini.(fat/jpnn)

 


Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler