Raker di Komisi VI DPR, Dirut PT Taspen Laporkan Kinerja Positif 2019

Rabu, 19 Februari 2020 – 14:40 WIB
Direktur Utama PT Taspen A.N.S. Kosasih usai Raker di Komisi VI DPR, Rabu (19/2). Foto: M Fathra Nazrul Islam/JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Direksi PT Taspen (Persero) melaporkan kinerja positif yang berhasil dicatatkan BUMN perasuransian itu sepanjang 2019 dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR pada Rabu (19/2). Forum tersebut dipimpin Wakil Ketua Komisi VI DPR M Hekal.

Direktur Utama PT Taspen A.N.S. Kosasih dalam paparannya menyampaikan bahwa perseroan yang dia pimpin membukukan laba bersih sebesar Rp388,24 miliar pada 2019. Angka itu melonjak Rp116,69 miliar jika dibandingkan dengan laba 2018 sebesar Rp271,55 miliar atau naik sebesar 42,97% secara year on year.

Lonjakan laba tersebut dikontribusikan oleh kenaikan pendapatan premi sebesar Rp977 miliar serta kenaikan pendapatan investasi sebesar Rp1,46 triliun, atau masing-masing naik sebesar 12,08% dan 19,08% dibandingkan tahun 2018. Lonjakan laba Perseroan yang mencapai hampir 43% tersebut menunjukkan efisiensi biaya yang sangat baik diterapkan Taspen, yang jauh lebih rendah dibandingkan expense ratio industri asurasi di Indonesia.

Kosasih menjelaskan, lonjakan kinerja tersebut merupakan hasil implementasi strategi dan kebijakan investasi secara prudent, berhati-hati dan aman dengan memperhitungkan secara saksama tingkat risiko yang diterima, kondisi pasar, likuiditas, imbal hasil yang optimal, serta pencadangan yang konservatif untuk menjamin kesejahteraan peserta.

“Di tengah kondisi pasar yang sangat volatile kami selalu menerapkan prinsip kehati-hatian dan memprioritaskan keamanan investasi untuk mencapai manfaat yang optimal bagi para peserta. Sehingga kami berhasil mencatatkan kinerja yang positif sepanjang tahun 2019. Kenaikan laba yang signifikan ini juga mencerminkan kemampuan Taspen untuk beroperasi secara efisien dan efektif,” ujar Kosasih.

Taspen sendiri membukukan total revenue sebesar Rp19,28 triliun di tahun 2019, naik sebesar Rp2,75 triliun dibandingkan tahun 2018 yang mencatat pendapatan total Rp16,53 triliun atau terdongkrak 16,63% (year on year).  Kenaikan pendapatan ini jauh lebih besar daripada kenaikan beban klaim sebesar Rp12,35 triliun di tahun 2019 yang naik hanya sebesar 12,27% (year on year) dibandingkan beban klaim tahun 2018 sebesar Rp 11 triliun.

Kinerja positif Taspen juga terlihat pada pertumbuhan aset yang naik secara signifikan sebesar Rp31,38 triliun, di mana pada tahun 2019 perseroan membukukan nilai aset sebesar Rp263,25 triliun atau naik Rp31,38 triliun atau 13,53% (YoY) dibandingkan tahun 2018 sebesar Rp231,87 triliun.

Sementara dari sisi ekuitas terjadi pertumbuhan sebesar Rp1,7 triliun sepanjang tahun 2019, di mana Taspen membukukan ekuitas sebesar Rp11,4 triliun atau meningkat 17,52% (YoY) dibandingkan 2018 sebesar Rp9,7 triliun.

Total Liabilitas pada tahun 2019 tercatat Rp251,84 triliun, yang sebagian besar terdiri atas Dana Akumulasi Iuran Pensiun PNS Rp151,40 triliun, serta Liabilitas kepada Peserta dan Cadangan Teknis sebesar Rp99,48 triliun.

Pada 2018 angka Liabilitas kepada Peserta dan Cadangan Teknis yang dicatat Taspen sebesar Rp93,96 triliun. Hal itu berarti dengan lonjakan pendapatan yang ada BUMN tersebut mencatatkan kenaikan Liabilitas kepada Peserta dan Cadangan Teknis sebesar Rp5,52 triliun atau ekuivalen dengan kenaikan sebesar 5,9%.

Pada kesempatan tersebut, Kosasih juga menegaskan bahwa sebagian besar portofolio investasi Taspen ditempatkan pada instrumen yang sangat aman. Mayoritas pada instrumen yang memberikan hasil tetap (fixed income), yaitu surat utang maupun deposito sebesar 86,2% dari total portofolio.

Porsi investasi di surat utang atau obligasi sebesar 67,5% di mana sebagian besar merupakan obligasi pemerintah dan deposito 18,7% yang sebagian besar ditempatkan di bank BUMN. Adapun sisanya berupa investasi langsung 2,2%, saham 4,9%, dan reksa dana 6,7% di mana reksadana saham hanya sebesar 1,3%, itupun dengan seleksi pemilihan MI yang sangat ketat.

“Mayoritas investasi Taspen ditempatkan pada surat utang negara maupun obligasi korporasi dengan fundamental yang kuat, dengan tingkat risiko yang sangat rendah namun tetap memberikan imbal hasil yang  baik,” jelas Kosasih.

Di sisi lain, untuk menjaga likuiditas perusahaan dan keamanan dana, TTaspen menempatkan hampir 80% deposito di bank BUMN, 18% di Bank Pembangunan Daerah (BPD) dan hanya 2% pada bank umum yang merupakan anak usaha dari Bank Mandiri dan Taspen yaitu Bank Mandiri Taspen.

Sedangkan untuk investasi di saham, Taspen memilih saham-saham emiten yang sebagian sangat besar terdaftar pada Indeks LQ-45 dan didominasi oleh saham-saham BUMN yang tergolong saham-saham blue chip.

Begitu juga pada instrumen reksadana, perseroan berinvestasi melalui maksimum 15 Manajer Investasi (MI) yang memiliki dana kelolaan (asset under management/AUM) di atas Rp4 Triliun hingga sekitar Rp50 triliun di mana 90% di antaranya adalah MI yang menduduki peringkat 15 besar. Hampir 50% penempatan reksadana Taspen adalah pada MI BUMN.

“Kami berkomitmen untuk selalu menerapkan prinsip kehati-hatian yang kami pegang teguh guna menjamin keamanan dana investasi yang kami kelola untuk memberikan manfaat secara maksimal kepada peserta,” tandas Kosasih.(fat/jpnn)

BACA JUGA: Taspen Buka Peluang ASN Purnabakti untuk Berwirausaha


Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler