Ramalan Buruk dari Ekonom soal Nasib Perusahaan Startup, Wajib Waspada, Bos!

Selasa, 14 Maret 2023 – 06:09 WIB
Pengamat Ekonomi Digital dari Institut of Economic and Finance (Indef) Nailul Huda meramalkan nasib para perusahaan rintisan atau startup di Indonesia. Foto: Great Edu

jpnn.com, JAKARTA - Pengamat Ekonomi Digital dari Institut of Economic and Finance (Indef) Nailul Huda meramalkan nasib para perusahaan rintisan atau startup di Indonesia setelah Silicon Valley Bank (SVB) ditutup.

Menurut Nailul, startup berpotensi makin sulit mendapatkan pendanaan.

BACA JUGA: Gelar SSI Batch 6, Kemenkominfo Pilih 17 Startup, Berikut Daftarnya

“Saya rasa dampaknya adalah semakin sulit untuk mendapatkan pendanaan dari luar negeri. Hal tersebut juga akan semakin berat mengingat porsi pendanaan dari AS ke startup digital kita cukup besar,” kata Nailul di Jakarta, Senin (13/3).

Nailul pun menilai sumber pendanaan dari dalam negeri untuk startup perlu ditingkatkan untuk mengantisipasi dampak tutupnya SVB yang merupakan bank AS yang berfokus pada pendanaan startup.

BACA JUGA: 15 Startup Terpilih di Endeavor Scale Up Batch #4, Siap Cetak Entrepreneur Masa Depan

Apalagi, India juga sudah lebih dahulu memberikan perhatian untuk mengantisipasi pelemahan pendanaan startup.

"Penutupan SVB juga berpotensi membuat lembaga pembiayaan yang melantai di bursa terkena sentimen negatif," tegas Nailul.

Regulator Perbankan California menutup SVB Financial untuk melindungi simpanan nasabah dalam kegagalan bank terbesar sejak krisis keuangan AS. Krisis modal di SVB telah menekan saham bank-bank secara global.

SVB telah mencoba, tetapi gagal untuk menopang neracanya melalui penjualan saham yang diusulkan pada Rabu (8/3/2023) malam.

“Ada dua dugaan yang saling terkait dari kasus SVB ini. Pertama adalah tingkat suku bunga AS yang meningkat tajam dan kedua pengelolaan dana yang buruk,” kata Nailul.

Nasabah meminta dana untuk mereka untuk ditempatkan ke bank dengan suku bunga lebih tinggi, tetapi di sisi lain kinerja startup yang mempunyai utang ke SVB juga sedang menurun.

“Kemudian uang SVB di pemerintah pun tenor jangka panjang. Maka kelimpungan SVB mencari dana untuk menutupi likuiditasnya,” pungkas Nailul.(antara/jpnn)


Redaktur & Reporter : Elvi Robiatul

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler