Ratusan Nakes dan Dokter Meninggal, Ada yang Keliru dengan Model Penanganan Covid-19 Pemerintah

Senin, 31 Agustus 2020 – 13:53 WIB
Prosesi penghormatan jenazah dr Putri Wulan Sukmawati di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Senin (6/7/2020). Foto: ANTARA Jatim/HO/WI

jpnn.com, JAKARTA - Anggota Komisi VIII DPR RI Bukhori Yusuf menilai pemerintah menyumbang andil besar ketika ratusan dokter dinyatakan meninggal dunia selama menangani Covid-19.

Menurut dia, ratusan dokter yang meninggal itu adalah konsekuensi dari model penanganan Covid-19 pemerintah, yang lemah dalam memprioritaskan aspek kesehatan. 

BACA JUGA: Warning Bang Saleh untuk Pemerintah setelah 100 Dokter Meninggal Akibat Covid-19

"Ini perlu menjadi perhatian serius pemerintah supaya di waktu mendatang tidak ada lagi hari berkabung," kata Bukhori dalam keterangan resmi kepada jpnn, Senin (31/8).

Politikus PKS itu menyinggung sisi keberpihakan anggaran, sehingga menilai pemerintah tidak memprioritaskan kesehatan dalam menangani Covid-19.

BACA JUGA: Dokter Edwin Marpaung Meninggal, Fahri Hamzah Tulis Kalimat untuk Menkes dan Presiden

Menurut dia, pemerintah memang telah menaikkan anggaran penanganan Covid-19 yang semula Rp 405,1 Triliun menjadi Rp 677,2 Triliun atau membengkak sebesar 67 persen. 

Namun, kata dia, pemerintah lebih menyoroti sektor korporasi dari anggaran penanganan Covid-19 yang baru.

BACA JUGA: 5 Berita Terpopuler: Erick Thohir Diganti? Jenderal Andika Langsung Turun Tangan, Novel vs Ruhut

Menurut dia, anggaran untuk korporasi sekitar Rp 120 triliun. Angka itu lebih besar daripada anggaran untuk bidang kesehatan yang hanya berkisar Rp 87 Triliun. 

"Ironisnya terhitung sampai bulan Juli 2020, serapan anggaran kesehatan ini baru mencapai Rp 4,4 Triliun atau sekitar 5 persen saja. Artinya, kegagapan pemerintah dalam menentukan skala prioritas ternyata berakibat fatal, yakni hilangnya nyawa anak bangsa," ucap dia.

Dia menegaskan, bertambahnya angka kematian dokter ini tidak boleh dimaknai sebagai angka statistik semata. Sebab, dokter adalah bagian dari keluarga besar Indonesia. 

Bukhori pun meminta kepada pemerintah untuk menyertakan hati nurani dari temuan 100 dokter meninggal dunia selama menangani Covid-19. Misalnya, para tenaga medis yang wafat dibuatkan monumen di depan istana. 

“Oleh karena itu, jika boleh saya memberi usulan kepada pemerintah, para tenaga medis yang wafat ini agar bisa dibuatkan monumen khusus di depan istana di mana terdapat nama-nama mereka yang dicatat secara terkini untuk dikenang oleh publik, sekaligus wujud penghargaan kepada mereka. Selain itu, monumen ini juga bisa berfungsi sebagai peringatan bahwa kematian adalah juru nasihat yang paling jitu,” tegas dia. 

Sebelumnya, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyampaikan ratusan dokter dinyatakan meninggal dunia selama menangani Covid-19. Informasi itu disampaikan IDI melalui akunnya di Twitter @PBIDI hari ini.(ast/jpnn)

Jangan Sampai Ketinggalan Video Pilihan Redaksi ini:


Redaktur & Reporter : Aristo Setiawan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler