Refleksi Akhir Tahun Terkait Kawasan Pariwisata Danau Toba

Kamis, 22 Desember 2022 – 16:38 WIB
Pemerhati dan pelaku pariwisata Ir Sanggam Hutapea. Foto: Dokumentasi pribadi

jpnn.com, JAKARTA - Pemerhati dan pelaku pariwisata Ir Sanggam Hutapea menyampaikan refleksi akhir tahun terkait destinasi pariwisata berkelas dunia, khususnya Danau Toba.

Sanggam dalam catatan akhir tahunnya pada Kamis (22/12/2022), memberikan berbagai masukan dan tantangan untuk menjadikan Danau Toba sebagai sebagai destinasi wisata berkelas dunia.

BACA JUGA: Kapolda Jabar akan Menindak Tegas Para Preman di Destinasi Wisata

Dia menuturkan Danau Toba merupakan danau hasil letusan gunung berapi yang maha dahsyat pada puluhan ribu tahun lalu.

Bahkan disebutkan, letusan Gunung Toba ini menjadi salah satu letusan gunung merapi terbesar di dunia yang menjadikan populasi manusia menurun drastis.

BACA JUGA: Jadi Tuan Rumah F1H2O, Danau Toba Jadi Pembahasan di Banyak Negara

Letusan gunung berapi super atau disebut juga dengan istilah supervolcano itu memunculkan Danau Toba yang menebarkan keindahan alam memesona.

Danau Toba yang terbentang di wilyah tujuh kabupaten, yakni Simalungun, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Dairi, Karo, dan Samosir merupakan potensi yang besar sebagai destinasi pariwisata berkelas dunia.

BACA JUGA: Pakai REC PLN, Danau Toba Jadi Destinasi Pariwisata Berbasis Energi Hijau Pertama di Indonesia

Sebagai objek wisata, Pemerintah pun menetapkan kawasan Danau Toba sebagai salah satu destinasi pariwisata superprioritas.

Sejak penetapan 10 destinasi prioritas oleh Presiden Jokowi, perkembangan pembangunan di kawasan Danau Toba dari tahun ke tahun memang sudah terlihat.

Namun, soal koordinasi antarpemerintah daerah belum dilakukan secara maksimal. Artinya pemerintah daerah di tujuh kabupaten masih jalan sendiri-sendiri.

Lebih lanjut, Sanggam memaparkan berbagai pandangannya yang cukup mendasar untuk pengembangan dan pembangunan kawasan Danau Toba menuju wisata kelas dunia.

Menurut dia, pengembangan kawasan Danau Toba sebagai destinasi wisata internasional harus dilakukan secara terpadu dan terintegrasi di antara aspek pendukung lainnya.

Dia menilai akses ke Danau Toba di era pemerintahan Jokowi ini sudah sangat terbuka. Pasalnya, pemerintah memberikan perhatian penuh dengan membangun jalan tol guna memperpendek jarak tempuh ke Danau Toba.

Demikian juga dengan pembangunan bandara Internasional Silangit di Siborong-borong Tapanuli Utara, yang makin mendekatkan wisata langsung menikmati keindahan kawasan Danau Toba.

Selain itu, Sanggam Hutapea pun menilai akses transportasi di danau juga sudah membaik dan memadai.

Apa lagi dengan kehadiran beberapa kapal penyeberangan yang diluncurkan  di beberapa lokasi, seperti kapal penyeberangan dari Tigaras Kebupaten Simalungun ke Samosir, penyeberangan dari Muara ke Samosir, penambahaan kapal penyeberangan dari Ajibata ke Ambarita Samosir, serta ketersediaan kapal-kapal milik pengusaha lokal yang sudah memenuhi syarat laik berlayar.

Akan tetapi, sarana dan prasarana tidak serta merta mampu mendatangkan wisatawan, sebab kawasan Danau Toba sebagai obyek yang diandalkan menjadi daya tarik masih  saja monoton hanya mengandalkan keindahan alamnya saja.

Sanggam Hutapea pun menyoroti salah satu penyebabnya yakni belum adanya produk wisata apa yang ditawarkan di Danau Toba.

“Sejak pemerintah menetapkan Danau Toba sebagai salah satu destinasi wisata, sampai sekarang belum ada bentuk produk wisata di kawasan Danau Toba yang dimunculkan sebagai usaha memberikan nilai tambah," kata Sanggam Hutapea.

Apa sebenarnya produk wisata Danau Toba, apakah keindahan alam, kuliner, budaya, atau yang lain? Kalau kita putuskan produk wisata Danau Toba adalah keindahan alam, maka dititik-titik mana wisatawan harus dibawa. Kalau produk wisata budaya, tentu  budaya seperti apa yang akan kita tonjolkan.

Di kawasan Danau Toba juga belum ada tempat kuliner bagi wisatawan untuk menimati suasana kawasan Danau Toba.

Dia mencontohkan di Bali ada Jimbaran tempat wisatawan makan malam di tepi pantai, dan pada saat makan malam, wisatawan disungguhi tari tarian tradisional dan alunan lagu-lagu.

Fasilitas yang begini belum ada di kawasan Danau Toba. Padahal, tambah Sanggam Hutapea, banyak lokasi di kawasan Danau Toba yang bisa dibenahi sebagai tempat kuliner.

“Jadi, perumusan prodak wisata Danau Toba ini harus dibicarakan seluruh pemerintah daerah supaya semua ambil bagian dan semua merasa memiliki. Begitu kita bicara produk maka masyarakat pasti terlibat," tegas Sanggam.

Di berbagai tempat wisata yang saya kunjungi di Eropa, hampir semua ada pengamen. Para pengamen itu dijadwalkan tampil berbagai sudut kota.

Menurut dia, talenta masyarakat di kawasan Danau Toba yang rata-rata memilki sura merdu untuk menyanyi sejatinya bisa ditampilkan.

“Potensi yang dimiliki masyarakat kawasan Danau Toba ini salah satu yang perlu dievaluasi,” tegas Sanggam.

Sanggam mengakui belum melihat banyak peran pemerintah daerah, khususnya Pemda di wilayah kawasan Danau Toba.

Demikian juga, keberadaan  Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) sebagai wakil pemerintah pusat di kawasan Danau Toba hanya membuat konsep, sedang yang mengeksekusi produk-produk itu sejatinya adalah Pemda di kawasan Danau Toba itu sendiri.

Dia menyebut pemerintah harus lebih kreatif karena salah satu kunci keberhasilan pariwisata adalah kreativitas, termasuk bagaimana mereka kreatif mengemas produk-produk lokal.

Salah satu contoh kreatif yang diutarakan Sanggam yakni bagaimana mengemas narasi untuk mengisahkan kawasan wisata Danau Toba.

Dari sisi promosi, Sanggam mempertanyakan apakah promosi pariwisata Danau Toba dilakukan di luar negeri atau di dalam negeri. Kalau promosi dilakukan ke luar negri maka harus jelas sasarannya, apakah wisatawan Asia atau Eropa.

Sanggam Hutapea mengingatkan sudah hampir 20 tahun Danau Toba tidak pernah lagi diperhatikan Pemerintah sebelum Presiden Jokowi. Dengan demikian dapat dikatakan sekitar 20 tahun juga agenda pariwisata dunia melupakan Danau Toba.

Mereka-mereka (20 tahun lalu) mengenal Danau Toba, tentu sudah pada tua. Jadi harus disadari karena sudah 20 tahun terputus maka diperlukan terobosan untuk mengenalkan pariwisata Danau Toba itu kembali ke pasar potensial.

Sebagai pelaku pariwisata aktif, Sanggam Hutapea berpandangan untuk promosi kawasan destinasi Danau Toba saat ini, penopangnya adalah pasar dalam negeri. Kalau pasar luar negeri (wisatawan manacanegara) butuh waktu.

Sebab, Sanggam lebih mendorong promosi diintensifkan untuk pasar domestik dengan melakukan rekayasa-rekayasa mendatangkan wisatawan domestik ke Danau Toba

Kata kuncinya tujuh pemerintah kabupaten yang berada di kawasan Danau Toba yakni, Kabupaten Samosir, Dairi, Pakpak Barat, Tanah Karo, Simalungun, Toba Samosir, Humbang Hasundutan dan Tapanuli Utara proaktif menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah di provinsi, kabupaten dan kota se-Indonesia.

Selanjutnya, menawarkan kunjungan ke Danau Toba dengan memberikan berbagai kemudahan seperti diskon yang besar untuk penginapan.

Kemudian menggencarkan kegiatan -kegiatan bagi pelajar dan mahasiswa.

Sanggam Hutapea pun menyarankan peran aktif Pemda mengimbau diaspora orang Batak yang banyak di perantauan guna datang berwisata ke Danau Toba.

Jika tidak ada upaya dan kerja keras menggali potensi- potensi terpendam di kawasan Danau Toba, maka perubahan dan pembenahan yang bisa membuat wisatawan tertarik tidak akan terjadi.

Kalau hanya andalkan keindahan alam Danau Toba maka akan sulit  menjadikan Danau Toba sebagai tujuan utama wisatawan.

Menurut Sanggam Hutapea wisatawan yang berkunjung tidak akan betah berlama-lama sebab wisatawan paling dua atau tiga malam saja betah di Danau Toba.

Alumnus Pascasarjana Universitas Gajah Mada itu mengharapkan tujuh kabupaten yang daerahnya bersentuhan langsung di kawasan Danau Toba di Tahun 2023 dapat menjalin kerja sama yang permanen dan sepakat membangun destinasi wisata di kawasan Danau Toba.

Artinya setiap daerah harus mampu melahirkan produk dan menghadirkan destinasi-destinansi yang menjadi daya tarik, sehingga wisatawan tidak monoton hanya menikmati keindahan alam Danau Tona.

“Produk yang dikemas pun hatus punya khas daerah masing-masing dan tidak saling berkompetisi," ujar Sanggam.

Jujur, kata Sanggam, selain keindahan alam Danau Toba, masih banyak potensi yang layak jadi destinasi wisata seperti penenun Ulos di Toba, jejak peninggalan Dinasti Sisingamangaraja di Bakkara Humbang Hasundutan, Istana Presiden Soerkanro di Parapat, dan ada danau di atas pulau Samosir yakni Danau Sidihoni.

Sementara di Tapanuli Utara sangat potensial sebagai kawasan wisata rohani.

Bahkan, sebut Sanggam Hutapea,salah satu contoh kreatif  yakni bagaimana mengemas narasi untuk mengisahkan Tugu-Tugu Marga yang ada di Tapanuli menjadi obyek wisata menarik bagi wisatawan.

“Tugu-tugu marga itu harus dinarasikan sebab kalau hanya sekedar tugu maka daya tariknya kurang. kreativitas, termasuk bagaimana kreatif mengemas produk produk lokal," tegas Sanggam.

Karenanya tujuh kabupaten di kawasan Danau Toba harus bekerja keras menggali dan mengembangkan potensi-potensi.

"Jika Pemerintah daerah proaktif merangkul BUMN saya kira hal ini bukanlah hal yang susah. Perlu diingat bahwa untuk membangun pariwisata, pemerintah daerah harus proaktif,” pungkas Sanggam Hutapea.(fri/jpnn)


Redaktur & Reporter : Friederich Batari

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler