Repotnya Digoyang dari Dalam, Ditekan dari Luar

Selasa, 22 Mei 2012 – 09:58 WIB

TANTANGAN Presiden Taiwan, Ma Ying-jeou semakin menggunung. Di dalam negeri, gerakan demonstrasi yang mengusung tuntutan agar presiden dan wakilnya, Wu Den-yih segera “mundur” dari jabatannya, semakin nyaring. Dedengkot Democratic Progressive Party (DPP), Chen Chu, lalu mantan Chairwoman Tsai Ing-wen, dan mantan petinggi Su Tseng-chang terus menggalang massa.

jpnn.com - Mereka tidak menggubris isi pidato Presiden Ma, dalam inauguration, Minggu pagi, 20 Mei 2012 lalu. Bahwa, orang nomor satu di Republic of China (ROC) ini membuka pintu lebar-lebar buat kelompok oposisi untuk bergandeng tangan, bekerjasama, membangun kejayaan dan kemajuan Taiwan.

Oposisi masih memandang, kata-kata maut presiden itu yang terpilih dua periode, 2008-2012 dan 2012-2016 itu hanya rayuan, dan retorika politik saja. Mereka menyebut, itu sebagai “pemadam kebakaran”, penyejuk kemarahan public atas segala kebijakan yang diambil presiden yang tidak popular di mata public.

Seperti diketahui, sejak terpilih secara demokratis dalam pilpres 14 Januari2012 itu, belum 100 hari, dan belum dilantik di second round, Presiden Ma sudah berani membuat keputusan ekonomi yang signifikan.  Putusan yang membuat popularitasnya langsung ambles.

 :TERKAIT Pertama, soal kenaikan tarif dasar listrik, dengan angka yang cukup serius, sekitar 20 persen. Kebutuhan listrik warga Taiwan di musim panas (summer), sangat besar, karena 24 jam harus menyalakan AC (air condition). AC itulah “biang pemakan” energi listrik terbesar setiap tahunnya.

Saat ini di Taiwan masih musim gugur, suku berkisar pada 20-25 derajad Celcius. Orang masih bisa mematikan AC dan lampu pada siang hari. Bulan depan –Juni-Juli-Agustus 2012—memasuki musim panas. Suhu di Taipei –Taiwan belahan utara-- bisa menembus 38-39 derajad. Di selatan bisa lebih panas lagi. Di situlah listrik menjadi energi yang vital dibutuhkan publik. Saat itulah, tagihan listrik itu “mencekik” leher warga.

Setelah tiga bulan misim panas, musim semi dan musim dingin datang. Lagi-lagi orang membutuhkan daya listrik yang besar untuk pemanas ruangan, karena suhu sub tropic, terutama di kawasan pegunungan, yang berada di belahan timur, bisa di bawah nol.

Kedua, Presiden Ma juga menaikkan tarif BBM (Bahan Bakar Minyak), baik premium maupun solar, sekitar 10 persen dari sebelumnya. Ongkos produksi jadi naik, harga barang-barang jadi naik, beban itu semua dipikul oleh rakyat terbesar di Negeri yang dibangun oleh Chiang Kai Shek itu.

Ketiga, protes itu juga dipicu oleh isu impor daging sapi dari AS. Keempat, demo itu berkembang lagi dengan tuntutan perluasan lapangan pekerjaan bagi warga Taiwan. Saat ini, semacam Departemen Tenagakerja Taiwan sudah menerapkan peraturan, bahwa perusahaan Taiwan itu maksimal hanya 30 persen pegawai atau karyawannya mengambil dari orang di luar Taiwan.

Kelima, tuntutan demo juga dikembangkan dengan konsep sosialisme, yakni mendesak pemerintah untuk memperpendek jarak antara si kaya dan si miskin. Sebuah tuntutan yang tidak terlalu lazim di Negara demokratis dan menganut free trade seperti Taiwan. Itu semua adalah tantangan dalam negeri yang sudah menunggu solusi terbaik Presiden Ma, sebelum Democratic Progressive Party (DPP) dan The Taiwan Solidarity Union (TSU) betul-betul menggelindingkan gerakan impeachment terhadap presiden yang pernah menjadi Walikota Taipei, 1998-2006 ini.

Bagaimana dengan tantangan politik luar negeri? Wow, lebih serem lagi. Terutama terkait dengan Mainland China atau Republik Rakyat Tiongkok, yang beribu kota di Beijing. Saat ini ada 1.000 misil yang diarahkan ke Taiwan, dan sewaktu-waktu, jika stabilitas Selat Taiwan –laut menjadi pembatas China Daratan dengan China Kepulauan (Taiwan)—sedang korsleting.

Presiden Ma mengantungi tiga strategi jitu, yang dia sampaikan dalam press conference dengan wartawan internasional dan local di Istana Presiden itu. Namanya: “The Three Legs of National Security”  Pertama, perdamaian di Selat Taiwan. Kedua, memperluas diplomasi internasional. Ketiga, pasukan atau tentara yang kuat, terlatih dan disegani!

Soal solusi damai di Selat Taiwan itu, sebenarnya selama empat tahun menjadi presiden, Ma Ying-jeou sudah melakuka negosiasi dengan pemerintah RRC. Mereka bahkan sudah merumuskan 16 kesepakatan bilateral. Sebuah langkah damai yang ditunggu-tunggu bukan saja masyarakat kedua negara, tetapi juga bangsa-bangsa lain di dunia. Mungkin termasuk Indonesia, sebab sampai detik ini, RI juga belum berani menjalin komunikasi politik dan hubungan diplomatik dengan Taiwan, tanpa rekomendasi atau di acc oleh RRC.

Soal diplomasi internasional, Taiwan sudah melakukan campaigne dengan sangat simpatik. Seperti yang dijelaskan Presiden Ma, “Ketika Haiti digoncang gempa yang merusak dan memakan banyak korban, Januari 2010, saya mengontak Chen Shuntian, Kepala Tim Special Rescue –semacam Basarnas-nya Taiwan—untuk turun langsung ke area musibah. Apa yang terjadi? Sejak 15 menit menyelamatkan korban yang masih hidup, seluruh dunia melihat dan mendengarnya,” ucap Ma Ying-jeou.

Lalu, lanjut Presiden Ma, saat Jepang dilanda tsunami, yang juga menghempaskan pembangkit listrik tenaga nuklirnya, Maret 2011, Taiwan langsung mengumpulkan donasi hingga 6,6 Miliar Dolar NT. Diplomasi internasional juga terus dilakukan di berbagai sector, untuk memperkenalkan eksistensi Taiwan.

Bagaimana dengan the third leg?  “Kami harus punya tentara yang kuat! Though the world may be at peace, being unprepared to fight invites danger! We do not seek a fight, but we do not fear it, either,” katanya penuh percaya diri. Karena itu, saat ini anak laki-laki jebolan SMA harus mengikuti wajib militer, semacam wamil, tetapi hukumnya wajib. Mereka dididik militer selama satu tahun, untuk sewaktu-waktu bela negara. AS sendiri sudah setuju membantu 18,3 Miliar Dolas AS untuk belanja senjata dan melengkapi persenjataan pasukan Taiwan.

Bagaimana rasanya digoyang dari dalam, ditekan dari luar? Hmm.. Hanya penyanyi dangdut yang bisa merasakan. Menegangkan, sekaligus mengasyikkan. (*)

(*) Penulis adalah Pemred – Direktur Indopos, Wadir Jawa Pos.


BACA ARTIKEL LAINNYA... Disambut Wedang Jahe, Jajan Pasar dan Iwak Peyek

Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler