Resesi Terburuk Hantam Asia Selatan, Jutaan Orang Terancam Masuk Jurang Kemiskinan Ekstrem

Kamis, 08 Oktober 2020 – 17:00 WIB
Warga permukiman kumuh di Mumbai mengeluhkan kebijakan lockdown yang diterapkan pemerintah India dalam rangka melawan virus corona. Foto: Reuters

jpnn.com - Bank Dunia mengatakan bahwa jutaan orang di Asia Selatan terdorong ke jurang kemiskinan ekstrem akibat resesi terburuk yang dipicu pandemi virus corona.

Lembaga pemberi pinjaman multilateral itu memperkirakan rekor kontraksi ekonomi sebesar 7,7% untuk Asia Selatan tahun ini, dan mengatakan pekerja di sektor informal adalah kelompok yang paling terpukul. Bank Dunia juga melaporkan bahwa konsumsi swasta tidak mungkin pulih dengan cepat dari dampak itu.

BACA JUGA: PKB: Resesi Jangan Dijadikan Momok Dalam Proses Pemulihan Ekonomi

"Dampak pada mata pencaharian bahkan akan lebih besar dari perkiraan yang diberikan oleh PDB. Ini menyiratkan bahwa kawasan itu akan mengalami peningkatan tajam dalam tingkat kemiskinan," kata lembaga tersebut dalam laporan dua tahunannya.

India, ekonomi terbesar di kawasan itu, kemungkinan akan mengalami kontraksi ekonomi sebesar 9,5% tahun ini, kata laporan itu.

BACA JUGA: Resesi dan Pandemi Sebagai Masalah Bersama

Laporan tersebut memperingatkan bahwa ekonomi Asia Selatan bisa berakhir lebih buruk dari perkiraan karena pandemi terus meningkat, yang membuat investor asing lebih waspada, dan membatasi kemampuan pemerintah untuk meningkatkan pengeluaran.

Hal itu pada akhirnya akan lebih membebani sistem perbankan yang sudah sangat terbebani dengan pinjaman buruk.

BACA JUGA: Mempersiapkan Dompet untuk Menghadapi Badai Resesi di Indonesia

Dengan 6,84 juta orang terinfeksi, termasuk 105.000 tewas, beban kasus COVID-19 di India adalah yang kedua terberat setelah Amerika Serikat, meskipun negara itu berada di bawah penguncian ketat pada fase awal pandemi pada Maret.

Pakistan dan Bangladesh masing-masing melaporkan lebih dari 317.000 kasus, sementara negara-negara lain di kawasan ini memiliki total lebih dari 149.000 kasus. (ant/dil/jpnn)

Simak! Video Pilihan Redaksi:


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler