Rihanna Hingga Justin Timberlake Tolak Kekerasan Anti-Asia di Amerika

Sabtu, 20 Maret 2021 – 22:10 WIB
Rihanna, salah satu orang terkaya di Inggris. Foto: ANTARA/Instagram

jpnn.com, JAKARTA - Penyanyi Rihanna, Justin Timberlake, Pharell Wiliam, hingga CL menolak dan mengutuk kekerasan anti-Asia yang mengalami eskalasi di Amerika Serikat.

Hal tersebut menyusul penembakan di Atlanta pada Selasa (16/3) yang menelan korban jiwa sebanyak 8 orang, 6 di antaranya merupakan wanita keturunan Asia.

BACA JUGA: Mengamuk, Umat Hindu di India Serbu Foto Rihanna Tanpa Busana Ini

“Apa yang terjadi di Atlanta kemarin sangatlah brutal, tragis, dan bukan insiden yang dapat dibenarkan," kata Rihanna dalam cuitnya di twitter mengutip Billboard.

Menurut Rihanna, lebencian terhadap AAPI (Asian American and Pacific Islander) telah tersebar dan itu sangat menyebalkan.

BACA JUGA: Justin Bieber Sulap Rolls Royce Wraith Layaknya Mobil Terbang

"Saya merasa sedih untuk komunitas Asia, dukungan saya ada bersama orang-orang yang ditinggalkan.Kebencian itu harus dihentikan,” lanjutnya.

Justin Timberlake juga ikut bersuara dan mengutuk keras aksi yang menewaskan enam orang keturunan Asia di Amerika itu.

BACA JUGA: Alasan Krisdayanti Tak Ajak Anak di Acara Aurel Hermansyah

“Contoh yang menjijikan dan memuakan bagaimana teror domestik diperbolehkan untuk mengeksploitasi komunitas,” kata Justin.

Mantan anggota grup idola 2NE1 CL pun ikut memberikan dukungan untuk menghentikan kebencian kepada orang- orang Asia yang berada di Amerika.

“Kita berpegangan tangan bersama. #StopAsianHate,” kata CL dalam akun Twitter-nya.

Dia menyematkan situs GoFundMe untuk menggalang dukungan bagi organisasi nonprofit untuk menghentikan kebencian pada AAPI.

Pesan simpatik juga datang dari penyanyi Pharrell William ia mengunggah ajakan untuk menghentikan kasus serupa kembali terulang.

“Kita harus melindungi saudara perempuan dan laki-laki kita yang merupakan keturunan Asia, berhenti membenci keturunan Asia sekarang,” tegas Pharell.

Sebelumnya, Robert Aaron Long (21) pada Rabu (17/3) ditetapkan menjadi tersangka setelah membunuh delapan orang di tiga tempat spa di Atlanta pada Selasa (16/3).

Meski demikian, penegak hukum di Atlanta menyebutkan penembakan yang dilakukan Aaron tidak bermotif rasial meski fakta di lapangan menunjukan korban meninggal didominasi keturunan Asia.

Analisis terbaru dari pusat data Universitas Cal State San Bernardino dalam studi terkait kebencian dan ekstrimis menyebutkan bahwa kejadian kriminal yang terjadi pada keturunan Asia di Amerika telah meningkat 150 persen pada 2020.

Sejak Maret 2020 terhitung sudah ada 3.800 laporan insiden yang terjadi akibat kebencian yang menargetkan orang Amerika keturunan Asia. (antara/jpnn)

Jangan Sampai Ketinggalan Video Pilihan Redaksi ini:


Redaktur & Reporter : Djainab Natalia Saroh

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler